8 SPPG di Gunungkidul Belum Beroperasi, Ribuan Siswa Tunggu MBG
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Supono, salah seorang warga Dusun Wuni, Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo, memetik buah mangga yang ada di halaman rumahnya, Jumat (25/10/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki masa panen, harga buah mangga di tingkat petani anjlok. Diduga terus turunnya harga karena banyaknya stok di pasaran.
Salah seorang pemilik kebun mangga di Dusun Wuni, Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo, Supono, mengatakan harga mangga jauh turun karena stok di pasaran yang melimpah. Beberapa waktu lalu, ada petani yang bisa menjual hasil panen seharga Rp12.000 per kilogram. Namun untuk saat ini mangga hanya dihargai Rp3.000 per kilogram. “Sekarang sudah banyak yang panen sehingga mangga mudah ditemukan di pasaran,” kata Supono, Jumat (25/10/2019).
Meski ada penurunan harga, ia tidak merasa rugi karena pohon mangga tidak membutuhkan banyak perawatan. “Ya keuntungannya berkurang, tapi masih bersyukur karena dari tiga pohon bisa mendapatkan uang Rp1.750.000,” katanya.
Supono menuturkan penamanan pohon mangga awalnya hanya untuk memperindang kebun di sekitar rumah. Namun lambat laun buah yang hasilkan terlalu banyak sehingga saat ada tengkulak yang datang untuk membeli, dia langsung menjual buah mangga miliknya. “Kalau harganya cocok langsung kami jual,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Wayem, warga Dusun Wuni lainnya. Menurut dia, penanaman pohon mangga bisa memberikan untung karena buah yang dihasilkan bisa dijual. “Kalau saat panen banyak tengkulak yang datang. Saya biasanya langsung menjual kalau harganya cocok,” katanya.
Wayem menuturkan, meski ada penurunan harga dia tidak khawatir karena tetap mendapatkan untung. “Kalau dimakan sendiri tidak habis. Jadi, hasilnya dijual dan uang dari penjualan bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Pembina Kelompok Tani Muda Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Rahmad Asnawi, mengatakan program pertanian hortikultura memiliki prospek bisnis yang cukup baik. Meski demikian, ada tantangan yang harus dihadapi salah satunya berkaitan dengan proses pemasaran hasil.
Selama ini para petani tidak bisa lepas dari tengkulak sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal. Hal ini dikarenakan petani tidak berdaya karena harga ditentukan oleh tengkulak. “kami mencoba mengubah dengan menjalankan ide beli buah petik langsung di kebun, seperti saat kami panen semangka beberapa waktu lalu. Dari segi harga bisa jauh lebih baik dibanding harga yang ditawarkan tengkulak,” katanya. (David Kurniawan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak delapan SPPG di Gunungkidul belum beroperasi sehingga ribuan siswa masih menunggu penyaluran Program Makan Bergizi Gratis.
Job Fair Bantul 2026 akan digelar pada 6-7 Agustus di Stadion Sultan Agung. Sebanyak 15 perusahaan membuka sekitar 1.000 lowongan kerja dengan target 750 pencar
TECNO, brand teknologi inovatif berbasis AI, resmi meluncurkan TECNO MEGABOOK K14S. Laptop berukuran 14 inci ini memadukan performa tingg, desain premium
Pablo Nieto menyebut Maverick Vinales bisa dilupakan dalam sehari di MotoGP. Cedera dan konflik dengan KTM membuat masa depannya terancam.
Psikologi mengungkap keterbukaan terhadap pengalaman menjadi sifat yang paling erat kaitannya dengan kreativitas, inovasi, dan kemampuan berpikir lintas disipli
Seleksi sekolah kedinasan 2026 segera dibuka. Simak daftar 9 instansi penyelenggara, syarat umum, dan persiapan yang perlu dilakukan calon peserta.