Seragam Baru Jukir Solo Dikritik, Wali Kota Singgung QRIS
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Wakil Wali Kota Jogja, Heroe Poerwadi (kanan) meninjau secara langsung salah satu stan di acara Gelar Potensi Pertanian 2019 di halaman Balai Kota Jogja, Minggu (27/10/2019)./Rofik Syarif G.P
Harianjogja.com, JOGJA—Pola pendekatan yang berbeda wajib diterapkan dalam mengembangkan pertanian di kawasan perkotaan, seperti halnya di Kota Jogja. Arah dari pertanian di Kota Jogja yang penting bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Oleh sebab itu dibutuhkan kelompok yang besar, sehingga bisa saling tukar menukar hasil panennya,” ucap Wakil Wali Kota Heroe Poerwadi saat meninjau secara langsung di lokasi acara Gelar Potensi Pertanian 2019 yang digelar di Halaman Balai Kota Jogja, Minggu (27/10/2019).
Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, kata dia, berupaya agar pertanian bisa menghijaukan kampung, sehingga dapat membuat nyaman dan membuat perbedaan saat hidup di kampung yang banyak dengan tumbuhan sayuran.
Menurut Heroe yang terpenting dari pertanian di Kota Jogja adalah menjadikan masyarakat semakin guyub. “Contohnya, dengan adanya Kampung Sayur dan Lorong Sayur bisa membuat masyarakat berkumpul untuk membagi tugas dalam merawat pertanian di kampungnya masing-masing,” ucap dia.
Saat ini Pemkot diakui dia tengah mendorong penyiapan landscape berupa adalah taman sayur. “Kami berharap dengan taman sayur ini dapat menjadi usaha sampingan buat para petani di kota. Kami juga berharap untuk hotel-hotel ketika ada seminar kegiatan tidak hanya menggunakan bunga, tapi sayur juga bisa,” ucap dia.
Seperti diberitakan, dalam Gelar Potensi Pertanian 2019 yang digelar sejak Jumat (25/10) hingga Minggu tersebut, selain ada pameran dari 12 stan hasil pertanian dari seluruh kecamatan di Jogja dan 11 stan dari asosiasi tanaman hias. Pada acara tersebut digelar pula kompetisi tanaman aglonema.
Anggota Asosiasi Tanaman Hias Aglonema, Aris Kusyanto mengatakan kompetisi tersebut bertujuan meningkatkan masyarakat agar dapat mencintai tanaman hias, tak terkecuali aglonema.
Dia mengatakan tahun dalam kompetisi aglonema ada dua kelas yang diperlombakan, yaitu kelas lokal dan kelas nasional. “Yang membedakan dari dua kelas ini adalah jenis tanamannya, karena untuk tanaman hias aglonema ada tiga jenis, yaitu bawah, menengah dan atas, kebanyakan untuk yang kelas lokal tanaman yang diperlombakan jenis menengah ke bawah.
Dalam kompetisi itu, kata dia, ada beberapa juri yang sengaja didatangkan dari beberapa daerah, seperti Jakarta, Malang dan Jogja. Dengan kategori yang menjadi penilaian adalah kesehatan tanaman, kerapian tanaman dan pot yang digunakan bisa menjadi nilai tambah dalam kompetisi Aglonema.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Persib Bandung juara Super League 2025/2026 usai unggul head to head atas Borneo FC. Simak klasemen akhir dan tim terdegradasi.
Penggunaan hand sanitizer berlebihan bisa picu eksim, kulit kering, dan iritasi. Simak penjelasan dokter kulit.
Bulog Jogja pastikan stok Minyakita aman jelang Idul Adha. Distribusi capai 2,6 juta liter, ditambah pasokan baru.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul hadir dengan track ekstrem. Seeding run panas, final diprediksi makin sengit!
Presiden Kelima RI yang juga Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Prof. Dr. Megawati Soekarnoputri, menghadiri resepsi pernikahan Ignatius Windu Hastomo (Igo)