Masa Panen Raya, Harga Mangga di Tingkat Petani Anjlok

Supono, salah seorang warga Dusun Wuni, Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo, memetik buah mangga yang ada di halaman rumahnya, Jumat (25/10/2019). - Harian Jogja/David Kurniawan
25 Oktober 2019 22:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Memasuki masa panen, harga buah mangga di tingkat petani anjlok. Diduga terus turunnya harga karena banyaknya stok di pasaran.

Salah seorang pemilik kebun mangga di Dusun Wuni, Desa Nglindur, Kecamatan Girisubo, Supono, mengatakan harga mangga jauh turun karena stok di pasaran yang melimpah. Beberapa waktu lalu, ada petani yang bisa menjual hasil panen seharga Rp12.000 per kilogram. Namun untuk saat ini mangga hanya dihargai Rp3.000 per kilogram. “Sekarang sudah banyak yang panen sehingga mangga mudah ditemukan di pasaran,” kata Supono, Jumat (25/10/2019).

Meski ada penurunan harga, ia tidak merasa rugi karena pohon mangga tidak membutuhkan banyak perawatan. “Ya keuntungannya berkurang, tapi masih bersyukur karena dari tiga pohon bisa mendapatkan uang Rp1.750.000,” katanya.

Supono menuturkan penamanan pohon mangga awalnya hanya untuk memperindang kebun di sekitar rumah. Namun lambat laun buah yang hasilkan terlalu banyak sehingga saat ada tengkulak yang datang untuk membeli, dia langsung menjual buah mangga miliknya. “Kalau harganya cocok langsung kami jual,” katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Wayem, warga Dusun Wuni lainnya. Menurut dia, penanaman pohon mangga bisa memberikan untung karena buah yang dihasilkan bisa dijual. “Kalau saat panen banyak tengkulak yang datang. Saya biasanya langsung menjual kalau harganya cocok,” katanya.

Wayem menuturkan, meski ada penurunan harga dia tidak khawatir karena tetap mendapatkan untung. “Kalau dimakan sendiri tidak habis. Jadi, hasilnya dijual dan uang dari penjualan bisa dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Pembina Kelompok Tani Muda Desa Pampang, Kecamatan Paliyan, Rahmad Asnawi, mengatakan program pertanian hortikultura memiliki prospek bisnis yang cukup baik. Meski demikian, ada tantangan yang harus dihadapi salah satunya berkaitan dengan proses pemasaran hasil.

Selama ini para petani tidak bisa lepas dari tengkulak sehingga hasil yang diperoleh tidak maksimal. Hal ini dikarenakan petani tidak berdaya karena harga ditentukan oleh tengkulak. “kami mencoba mengubah dengan menjalankan ide beli buah petik langsung di kebun, seperti saat kami panen semangka beberapa waktu lalu. Dari segi harga bisa jauh lebih baik dibanding harga yang ditawarkan tengkulak,” katanya. (David Kurniawan)