Tengkulak Bawang Merah Ambil Untung Terlalu Besar di Kulonprogo

Petani memasukkan bawang merah ke dalam karung untuk dijual di lahan persawahan Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, Jumat (25/10/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
25 Oktober 2019 21:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Panen raya bawang merah di Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo tak sepenuhnya dinikmati petani. Tengkulak mengambil untung terlalu besar dengan mempermainkan harga beli dari petani.

Ketua Kelompok Tani Karang Makmur Dusun Karangasem Tengah, Srikayangan, Sumarno,  mengatakan hasil panen bawang merah pada Oktober tahun ini cukup bagus. Dari belasan hektare sawah yang digarap kelompoknya, dua hektare di antaranya sudah bisa dipanen.

Untuk tiap satu hektarenya para petani memanen bawang merah basah hingga 28 ton. Namun, hasil produksi itu belum menjamin petani bisa balik modal karena harga jual terkadang tidak sesuai harapan. Musababnya, tengkulak gemar memainkan harga.

“Soal harga, petani tidak tahu. Apakah benar-benar turun [di tingkat pasaran] atau triknya tengkulak,” ungkapnya, Jumat (25/10). Sumarno mencontohkan sempat ada petani yang jual 2.000 meter sudah disepakati Rp30 juta lebih tetapi pas pembayaran, harga di pasaran turun sehingga cuma terjual Rp10 juta.

Sumarno mengaku cukup cemas dengan praktik tersebut karena jika harga yang diajukan lebih rendah dibandingkan modal awal, petani sudah dipastikan merugi. Sebelum panen, petani harus menyiapkan modal puluhan juta yang diperuntukkan untuk membeli benih, pupuk dan pestisida. Perawatan akan semakin mahal tatkala penanam dilangsungkan saat musim kemarau sebab minimnya ketersediaan air di sana memaksa petani merogoh kocek lebih dalam guna membeli kebutuhan tersebut.

Hal senada diungkapkan Sadiyem, 52, petani asal Dusun Gowangsan, Srikayangan yang menggarap lahan pertanian seluas 1.500 meter persegi. Dari luasan tersebut Sadiyem memanen bawang merah basah seberat dua ton.

 

Lebih Tinggi

Sejumlah tengkulak sudah mendatanginya. Tawar menawar harga juga telah dilakukan dan tercapai kesepakatan dengan nominal Rp38 juta. Nominal ini jauh lebih tinggi dibandingkan panen tahun lalu di luasan yang sama yang hanya mencapai Rp12 juta.

Kesepakatan harga tersebut berhasil dilakukan dengan salah tengkulak dari Pati, Jawa Tengah. “Kadang setelah sepakat penjualan, nanti ada saja alasan tengkulak menurunkan harga. Biasanya alasannya mengikuti harga pasar tetapi faktanya kami [petani] tidak tahu,” ungkapnya.

Kekhawatiran Sadiyem bukan tanpa alasan. Dia mengungkapkan perubahan harga pasca-kesepakatan sudah sering terjadi. Sadiyem tak bisa berbuat banyak karena harga dari tengkulak bisa lebih tinggi dibandingkan ketika dijual sendiri.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo Aris Nugroho menyarankan para petani untuk melakukan sistem tunda jual. Dengan begitu tengkulak mau tidak mau harus membeli dengan harga sesuai keinginan petani.

Ke depan Distanpangan mengupayakan bantuan gudang untuk penyimpanan bawang merah bagi petani Srikayangan. Gudang ini menunjang sistem tunda jual. Di samping itu, Disperpangan akan mendirikan pasar lelang.