Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Anggota Kelompok Alfiana tengah bekerja membuat tas di Dusun Penggung, Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. /Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara
Harianjogja.com, KULONPROGO-- Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, ditambah minimnya kemampuan dalam hal pemasaran menjadi persoalan yang masih membelit sebagian usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kulonprogo. Salah satunya dialami Kelompok Alfiana, di Dusun Penggung, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap.
Kelompok yang berdiri sejak 2010 ini bergerak di usaha pembuatan tas dan aneka souvenir. Bisnis tersebut sebenarnya tergolong maju dan berkembang cukup baik. Terlihat dari jumlah pesanan yang tiap bulannya bisa mencapai 1.000 unit, dengan omzet jutaan rupiah. Namun, di balik semua itu, kelompok ini menyimpan persoalan yang umum dialami UMKM di Kulonprogo, yakni tenaga kerja dan pemasaran.
Ketua Kelompok Alfiana, Samujiono mengatakan tenaga kerja yang dibutuhkan di rumah industri ini idealnya 17 penjahit. Dikatakan ideal karena sesuai dengan ketersediaan jumlah mesin jahit. Sementara saat ini yang ada hanya 11 penjahit. Akibatnya enam mesin jahit terpaksa dianggurkan.
Di sisi lain mencari sumber daya manusia (SDM) asli Kulonprogo yang mumpuni di bidang tersebut diakuinya cukup sulit. Kebanyakan memilih merantau atau membuka usaha sendiri.
"Ini yang jadi kendala kami, sulit banget mencari penjahit di Kulonprogo, untuk penjahit yang bekerja di sini rata-rata sudah berpengalaman karena pernah bekerja di industri garmen dan tekstil," ujarnya kepada awak media dalam kegiatan kunjungan UMKM lokal di Kelompok Alfiana, Senin (25/11/2019).
Perihal pemasaran kelompok ini dikatakan keteteran. Sebanyak 1.000 pesanan yang dibikin kelompok ini tiap bulannya, kebanyakan hasil kerjasama dengan Rumah Warna, Jogjayang hak patennya dimiliki rekanan tersebut. Sementara untuk produk asli Alfiana masih kalah saing.
"Ya sebenarnya kami juga ingin produk kami itu bisa sejajar dengan produk lain, tapi itu tadi kami terkendala pemasarannya," kata Samujiono.
Staf Penyiapan Bahan Industri Agro Makanan dan Minuman Bidang Perindustrian, Dinas Perdagangan Kulonprogo, Deny Setiawan mengatakan terkait SDM, pihaknya rutin melakukan pembinaan.
Pembinaan ini meliputi desain dan gugus kendali mutu. Kelompok juga dilatih menata peralatan produksi. Jika ada permasalahan di kelompok, pihaknya membantu mencarikan solusi.
Diakuinya saat ini kendala yang dialami Alfiana yakni tenaga kerja. Sebagai upaya pihaknya bekerjasama dengan perajin lain guna pemberdayaan ibu-ibu usia produktif.
"Beberapa waktu lalu kami juga melakukan studi latih ke tempat lain. Pelatihan jahit juga sudah kami usulkan, kendati sampai saat ini belum terealisasi," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.