Samsung Galaxy Z Fold8, Flip8, Ultra Resmi, Ini Harga dan Speknya
Samsung Galaxy Z Fold8, Flip8, dan Fold8 Ultra resmi hadir. Simak spesifikasi layar, kamera, chipset, serta harga terbarunya di Indonesia.
Diskusi tentang Pancasila di Kantor DPD RI Perwakilan DIY, Jalan Kusumanegara, Kota Jogja, Rabu (28/11/2019) malam. /Harian Jogja-Sunartono.
Harianjogja.com, JOGJA—Program deradikalisasi yang dicanangkan Pemerintah Pusat dinilai masih sebatas gaung. Deradikalisasi harus dilakukan lebih konkret dalam mengatasi persoalan radikalisme di Tanah Air.
Anggota DPD RI Cholid Mahmud mengatakan perilaku radikal bisa terjadi di mana saja, perilaku ini merupakan pemahaman secara berlebihan sehingga justru keluar dari apa yang seharusnya diajarkan agama. Ia menegaskan orang perilaku semacam itu harus dikembalikan ke arah perilaku yang normal. Butuh banyak unsur bangsa yang terlibat untuk menghindar masyarakat dari pemahaman yang menyimpang tersebut. Salah satunya melalui deradikalisasi, meski program itu belum secara nyata terlihat.
“Karena lebih banyak gaungnya daripada konkretnya apa yang sedang dilakukan [lewat deradikalisasi], banyak pihak perdebatan tentang pemaknaan radikalisasi kan masih sangat luas. Selama ini masih simpang siur masih berdebat sebenarnya radikalisme itu alamatnya ke siapa,” terangnya dalam diskusi tentang pilar kebangsaan di Kantor DPD RI Perwakilan DIY, Rabu (28/11/2019) malam.
Ia mengatakan sebagai keprihatinan bersama, semua pihak harus berusaha untuk mengembalikan pemahaman masyarakat terhadap nilai agama masing-masing, pada jalan yang benar agar tidak menyimpang. Ia tidak mengingkari adanya beberapa orang berpemahaman yang ekstrem. Meluruskan pemahaman itu menjadi pekerjaan bersama untuk membawa umat yang lebih baik ke depan tanpa adanya konflik.
“Dalam konteks pilar kebangsaan, dasar kita bernegara merupakan kesepakatan moderat dari seluruh unsur, sejak bangsa didirikan, dari pokok kesepakatan tidak ada satu pun nilai yang ekstrim,” katanya.
Cholid mengatakan, karena pemikiran radikal bisa terjadi di mana saja, maka program pencegahan seperti deradikalisasi harus lebih nyata dengan melibatkan banyak pihak. Terutama menyadarkan pihak yang berperilaku radikal, bahwa cara berfikir demikian dengan disertai tindakan kekerasan bukan sebuah solusi.
“Seperti orang membuat bom rakitan [terduga teroris] itu sasaran siapa, target apa, kalau dilakukan dia dapat apa. Apakah bisa mengubah negara dengan itu, saya tidak tahu apakah [seperti temuan bom rakitan] itu betul [mengarah ke radikalisme], tetapi ini adalah contoh orang yang berfikir [radikal] tidak mencari solusi terhadap persoalannya, apa yang bisa diselesaikan dengan bom rakitan seperti itu?,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Samsung Galaxy Z Fold8, Flip8, dan Fold8 Ultra resmi hadir. Simak spesifikasi layar, kamera, chipset, serta harga terbarunya di Indonesia.
Menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Kimaya Sudirman Yogyakarta menghadirkan dua program spesial sepanjang Agustus 2026
Media Jepang menyoroti fenomena ratusan WNI yang menggunakan nama karakter anime seperti Naruto, Uzumaki, Nobita, hingga Sasuke berdasarkan data Dukcapil Semest
Korban tewas gempa magnitudo 7,4 di Kolombia bertambah menjadi 265 orang. Sebanyak 3.494 warga terluka dan 496 lainnya masih dinyatakan hilang.
EcoTank Epson tembus penjualan 100 juta unit secara global. Indonesia menjadi negara pertama yang memperkenalkan teknologi printer tangki tinta Epson.
Google resmi meluncurkan Pixel 11 Series yang terdiri dari Pixel 11, Pixel 11 Pro, Pixel 11 Pro XL, dan Pixel 11 Pro Fold. Dibekali Tensor G6, Gemini AI terbaru