Santri Pesantren Baitussalam Belajar Jurnalistik di Harian Jogja
. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari dunia jurnalistik sekaligus mengetahui perkembangan industri media di era digital.
Para pelajar sedang membubuhkan tanda tangan anti-klithih, kekerasan, geng, bullying, drug, dan premanisme di SMP Negeri 2 Banguntapan, Bantul, Senin (27/1/2020)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Ratusan pelajar SMP mendeklarasikan anti-klithih, kekerasan, geng, bullying, drug, dan premanisme di SMP Negeri 2 Banguntapan, Bantul, Senin (27/1/2020)
Deklarasi yang digelar di halaman sekolah itu merupakan wujud keprihatinan atas kasus-kasus kekerasan jalanan atau sering disebut klithih yang melibatkan pelajar.
Ada sekitar 480 siswa yang mengucapkan deklarasi dan menandatangani sikap anti-klithih, kekerasan, perundungan, mabuk-mabukan, hingga premanisme di atas spanduk.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul Isdarmoko mengatakan aksi klithih yang marak akhir-akhir ini cukup memprihatinkan. Bahkan para pelakunya tidak hanya melibatkan anak-anak sekolah tingkat SMK dan SMA, tetapi juga SMP. Menurut dia, klithih sebenarnya sudah sempat hilang berkat kerja keras semua unsur di pemerintahan bersama TNI-Polri, tetapi saat ini muncul kembali hingga meminta korban jiwa.
Berbagai rentetan kejadian kejadian, kata dia, menjadi pemicu bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) beserta jajaran kepolisian dan sekolah untuk memeranginya. Aksi-aksi kekerasan jalanan itu dapat mencemari Bantul, dan umumnya DIY sebagai kota pelajar, kota pendidikan, kota budaya, dan kota pariwisata.
“Deklarasi yang digelar di SMP Negeri 2 Banguntapan ini diharapkan akan menginspirasi sekolah-sekolah lain melakukan hal serupa,” kata Isdarmoko, Bantul, Senin (27/1).
Isdarmoko menilai anak-anak seusia sekolah sangat rentan terhadap kekerasan karena remaja sedang mencari jati diri sehingga sangat mudah terpengaruh lingkungan.
Sambangi Siswa
Sejumlah pemangku kepentingan, kata Isdarmoko, juga akan ikut bergerak sama-sama untuk mengawasi para pelajar baik di sekolah, di jalan maupun di rumah. Pengawasan itu ditempuh melalui program sambang SMP yang akan dilakukan oleh forum komunikasi pimpinan tingkat kecamatan atau forkopimcam sebagai antisipasi agar para pelajar tidak terjerumus pada tindakan-tindakan negatif.
Camat Banguntapan Fauzan Muarifin mengatakan kunjungan ke SMP-SMP akan rutin dilakukan bersama kepolisian dan TNI, terutama sekolah-sekolah yang siswanya pernah terlibat kekerasan dan tawuran. “Sambang siswa ini sebagai bentuk tanggung jawab kami. Klithih bukan hanya masalah sekolah, melainkan masalah bersama. Sekolah tidak sendirian menanganinya,” kata Fauzan.
Kapolsek Banguntapan Kompol Suhadi mengatakan dari hasil patroli dan razia, jajarannya masih menemukan pelajar yang melakukan kekerasan dan hendak melakukan kekerasan. Belum lama ini, Polsek Banguntapan menangkap sejumlah pelajar dari dua sekolah yang hendak tawuran di wilayahnya dan menyita beberapa senjata tajam dari tangan pelajar.
“Kami lakukan pencegahan dulu, penindakan itu terakhir karena menyangkut masa depan anak,” kata Suhadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
. Kunjungan tersebut dilakukan untuk mempelajari dunia jurnalistik sekaligus mengetahui perkembangan industri media di era digital.
Indonesia menjamu Rumania pada Piala Davis Grup II Dunia 2026 di Jakarta, 18-20 September, dengan target bertahan di Grup II.
Yayasan sekolah di Jaksel meminta perlindungan KPAI dan Kemendikdasmen terkait temuan 995 senjata, amunisi, dan barang lainnya.
Jaecoo J5 EV mencatat penjualan 3.200 unit pada Juli 2026, naik 4,9% dan menjadi penjualan bulanan tertinggi sepanjang Januari-Juli 2026.
KAI Daop 6 Yogyakarta menangani 1.075 barang tertinggal senilai Rp1,16 miliar sepanjang semester I/2026, naik 69,03% dari tahun sebelumnya.
Basarnas menghentikan monitoring aktif KMP Mutiara Sentosa II setelah empat hari penyisiran. Sebanyak 238 korban dipastikan telah terdata dan dievakuasi.