Ilmuwan Jepang Ciptakan Robot yang Bisa Tersenyum dengan Kulit Hidup di Wajahnya
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Ilustrasi Minapadi/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN - Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman menyatakan pada tahun ini, musim hujan di Sleman maju dua sampai tiga minggu dari perkiraan awal. Dinas akan berkoordinasi dengan BMKG untuk menetapkan pertimbangan musim tanam padi.
Kepala DP3 Sleman, Heru Saptono menerangkan seminggu terakhir di Sleman sudah turun hujan. Kendati demikian, turunnya hujan kali ini belum ia anggap sebagai tanda-tanda awal musim penghujan. Sehingga hal ini ia jadikan pertimbangan terkait musim tanam padi.
Meski demikian, untuk memastikan kapan musim hujan benar-benar tiba, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BMKG. Untuk selanjutnya melakukan sosialisasi kepada petani terkait kapan waktu yang pas untuk melakukan aktivitas tanam
"Kami pekan ini akan kembali berkoordinasi dengan BMKG, kalau sudah nanti kami inisiasi ke petani kapan kita mulai menanam," kata Heru pada Selasa (6/10/2020).
Baca Juga: Pilkada Gunungkidul: Alat Kampanye Dirusak, Tim Immawan-Martanty Lapor ke Bawaslu
Jawatannya selama ini selalu berkoordinasi dengan BMKG terkait hal ini. Sebab, tipologi di Sleman terkait karakter musim hujan biasanya diawali dengan turunnya hujan di Sleman Utara, mulai dari Turi, Tempel, dan Pakem. Namun, pihaknya akan tetap berpegang pada ramalan dan antisipasi yang disampaikan BMKG.
Ia memperkirakan baru ada sekitar 6.000 sampai 10.000 hektare luasan lahan padi di Sleman yang siap untuk ditanam. Sebab, masih ada beberapa sungai yang belum mengalirkan air karena debit air terbatas.
Berkaitan dengan akan dimulainya musim tanam padi, DP3 sudah mempersiapkan beberapa hal. Di antaranya memfasilitasi kelancaran pupuk subsidi bagi para petani. Selain itu, pihaknya juga sudah mengimbau petani untuk bisa menyiapkan bibit, sehingga ketika nanti musim hujan benar-benar tiba, petani langsung bisa melakukan aktivitas tanam.
Baca Juga: Hadirkan Kerumunan, Kegiatan Layang-Layang di Kulonprogo Dibubarkan
Sementara itu, Ketua Forum Petani Kalasan Janu Riyanto menjelaskan aktivitas tanam sendiri sudah mulai dilakukan. Walaupun belum memasuki musim penghujan, saat ini persediaan air mencukupi area pertanian mereka, salah satunya dari Selokan Mataram.
Menurutnya, Kalasan memiliki lahan pertanian seluas 3.000 hektare. Dari jumlah tersebut, 70-80% ditanami tanaman padi saat musim hujan. Sisanya diperuntukkan untuk tanaman palawija dan hortikultura, terlebih yang tidak terjangkau aliran irigasi Selokan Mataram.
"Tidak seluruhnya ditanam padi, agar air bisa mencukupi untuk olah lahan, bergilir namun cukup," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ilmuwan Jepang membuat wajah robot yang bisa tersenyum karena wajahnya menyalin struktur jaringan kulit manusia.
Timnas Iran memindahkan markas ke Meksiko jelang Piala Dunia 2026 demi mengatasi masalah visa dan keamanan.
Kepuasan pelanggan KAI Daop 6 Jogja terus meningkat hingga 4,55 pada 2025. Layanan makin nyaman, aman, dan ramah lingkungan.
BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem usai BMKG memprediksi hujan lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah Indonesia.
Jadwal KRL Jogja-Solo terbaru 25 Mei 2026 lengkap. Tarif Rp8.000, berangkat hampir tiap jam, solusi cepat anti macet.
Bruno Fernandes mencetak 21 assist musim ini, memecahkan rekor Liga Inggris dan mengungguli Thierry Henry serta Kevin De Bruyne.