Wabup Gunungkidul Joko Parwoto Absen di Hari Jadi, Ini Alasannya
Wabup Gunungkidul Joko Parwoto menjelaskan ketidakhadirannya dalam sejumlah agenda Hari Jadi ke-196 karena sakit gigi dan perlu penanganan dokter.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kundha Kabudayan Gunungkidul menargetkan di tahun depan seluruh kalurahan sudah memiliki sejarah desa masing-masing. Sekarang sudah ada 100 kalurahan yang menulis sejarah mereka.
Kepala Bidang Sastra Bahasa Sejarah dan Permuseuman, Kundha Kabudayan Gunungkidul, Sigit Pramudyanto, mengatakan penulisan sejarah ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, belum seluruh desa memiliki sejarah tersebut. “Yang menulis sudah ada 100 desa,” kata Sigit, Senin (8/2/2021).
BACA JUGA: Kecuali DIY, Seluruh Provinsi di Jawa Berstatus Siaga Banjir
Ia menargetkan penulisan selesai di 2021. Tahun ini ada 25 kalurahan akan menulis sejarah. “Sisanya 19 kalurahan ditarget menuliskan tahun depan,” ungkapnya.
Menurut dia, tujuan penulisan untuk mengetahui sejarah asal usul maupun perkembangan desa di masing-masing kalurahan. Guna penulisan ini, Kundha Kabudayan juga memberikan pendampingan berkaitan dengan tata cara penyusunan maupun penggalian sumber data untuk bahan menulis.
Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono, mengatakan penulisan ini memiliki banyak manfaat karena salah satunya bisa menjadi salah satu ciri yang dimiliki di setiap kalurahan. “Minimal warga bisa mengetahui asal usul desa masing-masing,” kata Agus.
BACA JUGA: PTKM DIY Resmi Diperpanjang tetapi Lockdown Tetap Sulit Diterapkan, Ini Alasannya
Penulisan tersebut juga menjadi salah satu upaya mendukung sektor kepariwisataaan. Terlebih lagi, kata dia, ada banyak kesenian rakyat maupun budaya dan tradisi yang ada di masyarakat. “Jadi bisa saling melengkapi karena budaya dan adat tradisi yang dimiliki harus terus dilestarikan,” katanya
Pemerhati sejarah di Gunungkidul Markus Yuwono mengapresiasi adanya program penulisan sejarah desa. menurut dia, kegiatan ini sebagai upaya mencari asal usul maupun bagaimana perkembagan desa dari masa ke masa.
Meski demikian, ia berpesan bahwa proses penulisan harus mengacu pada dasar-dasar penulisan ilimah sehingga hasil dari penulisan bisa dipertanggunjawabkan. “Tidak boleh asal karena ada metode dalam penulisan sejarah. Untuk tahapan banyak mulai dari penggalian sumber hingga menganalisa terhadap data yang diperoleh. Setelah itu, baru dilakukan penulisan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Wabup Gunungkidul Joko Parwoto menjelaskan ketidakhadirannya dalam sejumlah agenda Hari Jadi ke-196 karena sakit gigi dan perlu penanganan dokter.
Penyidik Satreskrim Polres Bantul menetapkan seorang pria berinisial W, 44, sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana bantuan.
Pemerintah mendukung transisi telur bebas sangkar, tetapi kesiapan pasokan, harga, distribusi, dan kesadaran konsumen masih menjadi tantangan.
Reza Rahadian mengungkap tiga adegan favorit di film Laut Bercerita, mulai dari penjara hingga tantangan syuting di kedalaman laut.
Pemkot Jogja menganggarkan Rp8 miliar untuk sanitasi permukiman, dengan target layanan aman bagi sekitar 600 KK setiap tahun.
DPW PKB DIY memperingati Hari Santri Nasional 2026 melalui fun mini soccer yang diikuti enam tim untuk mempererat kebersamaan santri dan anak muda.