Potensi Air Banyusoco 200 Liter per Detik, Terbuang Sia-Sia ke Sungai
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Ilustrasi/Pixabay
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kundha Kabudayan Gunungkidul menargetkan di tahun depan seluruh kalurahan sudah memiliki sejarah desa masing-masing. Sekarang sudah ada 100 kalurahan yang menulis sejarah mereka.
Kepala Bidang Sastra Bahasa Sejarah dan Permuseuman, Kundha Kabudayan Gunungkidul, Sigit Pramudyanto, mengatakan penulisan sejarah ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, belum seluruh desa memiliki sejarah tersebut. “Yang menulis sudah ada 100 desa,” kata Sigit, Senin (8/2/2021).
BACA JUGA: Kecuali DIY, Seluruh Provinsi di Jawa Berstatus Siaga Banjir
Ia menargetkan penulisan selesai di 2021. Tahun ini ada 25 kalurahan akan menulis sejarah. “Sisanya 19 kalurahan ditarget menuliskan tahun depan,” ungkapnya.
Menurut dia, tujuan penulisan untuk mengetahui sejarah asal usul maupun perkembangan desa di masing-masing kalurahan. Guna penulisan ini, Kundha Kabudayan juga memberikan pendampingan berkaitan dengan tata cara penyusunan maupun penggalian sumber data untuk bahan menulis.
Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono, mengatakan penulisan ini memiliki banyak manfaat karena salah satunya bisa menjadi salah satu ciri yang dimiliki di setiap kalurahan. “Minimal warga bisa mengetahui asal usul desa masing-masing,” kata Agus.
BACA JUGA: PTKM DIY Resmi Diperpanjang tetapi Lockdown Tetap Sulit Diterapkan, Ini Alasannya
Penulisan tersebut juga menjadi salah satu upaya mendukung sektor kepariwisataaan. Terlebih lagi, kata dia, ada banyak kesenian rakyat maupun budaya dan tradisi yang ada di masyarakat. “Jadi bisa saling melengkapi karena budaya dan adat tradisi yang dimiliki harus terus dilestarikan,” katanya
Pemerhati sejarah di Gunungkidul Markus Yuwono mengapresiasi adanya program penulisan sejarah desa. menurut dia, kegiatan ini sebagai upaya mencari asal usul maupun bagaimana perkembagan desa dari masa ke masa.
Meski demikian, ia berpesan bahwa proses penulisan harus mengacu pada dasar-dasar penulisan ilimah sehingga hasil dari penulisan bisa dipertanggunjawabkan. “Tidak boleh asal karena ada metode dalam penulisan sejarah. Untuk tahapan banyak mulai dari penggalian sumber hingga menganalisa terhadap data yang diperoleh. Setelah itu, baru dilakukan penulisan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lebih dari 20 sumber air di Banyusoco, Gunungkidul, mengalir ke Kali Oya. Tujuh titik memiliki debit hingga 200 liter per detik.
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.
Polres Bantul kembali membuka layanan SIM Keliling untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin melakukan perpanjangan SIM A dan SIM C.
Perpanjang SIM A dan C di Kulonprogo lebih mudah melalui SIM Keliling. Jadwal lengkap dan lokasi Harian Jogja.
Anggota DPRD DIY Rahayu Widi Nuryani mengatakan peningkatan pengetahuan menjadi salah satu kebutuhan pelaku UMKM untuk mengembangkan usaha.
Gempa M4,6 mengguncang timur laut Ruteng, Manggarai, NTT, Kamis dini hari. Gempa berpusat di laut dengan kedalaman 10 kilometer.