Begal Bokong Teror Wonogiri, Pelaku Ditangkap, Beraksi 4 Kali
Begal bokong di Wonogiri ditangkap kurang dari 5 jam. Pelaku mengaku sudah empat kali beraksi di jalur sepi.
FFPA mendapat pengamanan dari petugas Polsek Mergangsan dalam acara konferensi pers di Polsek Mergangsan pada Senin (22/3/2021). /Harian Jogja-Sirojul Khafid
Harianjogja.com, JOGJA– Petugas Kepolisian Sektor (Polsek) Mergangsan menangkap FPPA, 24, pelaku penganiayaan yang telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) selama hampir empat bulan.
FPPA sebelumnya melakukan pemukulan menggunakan stik besi pada seorang pengendara motor. Menurut Kapolsek Mergangsan Kompol Tri W, petugas menangkap FPPA di kontrakannya di daerah Krajan, Godean pada Minggu (14/3/2021).
Saat penangkapan, FPPA tidak melawan dan cukup kooperatif. Sebelumnya, pelaku yang berdomisili di Krapyak, Bantul, ini sempat pindah kontrakan beberapa kali untuk bersembunyi. “Kenapa sampai sembunyi? Yang bersangkutan ketakutan. Takut menghadapi permasalahan ini dan takut dicari kepolisian,” kata Kompol Tri dalam konferensi pers di Kantor Polsek Mergangsan pada Senin (22/3/2021).
Baca juga: Bantul Bangun Taman Budaya Taraf Internasional Seluas 5 Hektare di Pajangan
Peristiwa penganiayaan oleh FPPA berlangsung pada 10 November 2020 sekitar pukul 03.00 WIB. Kala itu, FPPA bersama MIHA, 21, berkendara menggunakan motor. Di dalam perjalanan, terjadi senggolan dengan pengendara lain yang kala itu berkelompok. Menurut FPPA, orang yang tersenggol kemudian mengumpat.
“Dikatain kotor, waktu itu bilang bajingan,” kata FPPA.
Lantaran tidak terima, mereka saling kejar sampai di depan Sekolah Dasar Muhammadiyah Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan, Jogja. Di situlah FPPA dan MIHA melakukan penganiyaan. MIHA melukai korban dengan senjata tajam, sementara FPPA yang juga jongki motor memukul dengan tangan serta stik besi sepanjang 30 cm.
Baca juga: Bagaimana Kelanjutan Proyek Fasilitasi UMKM di Hotel Mutiara dan Eks Bioskop Indra?
Setelah itu para pelaku kabur dan membuang alat bukti. Pihak korban sempat memburu pelaku sampai di gang-gang kampung. “Dari korban, mereka mepet juga. Mereka orang banyak, sekitar 15 motor. Ada yang bawa senjata tajam juga. Setelah saya masuk gang, terus berhenti. [Dari pihak korban] ada yang nodong saya. Waktu lepas helm, dia bawa pedang agak panjang,” kata FPPA.
MIHA tertangkap setelah melakukan penganiayaan. Sementara FPPA berhasil kabur dan masuk DPO sejak Desember 2020. Setelah kejadian, dia korban mendapat perawatan pihak medis. Satu korban mengalami luka di kepala. Sementara satu korban lainnya mengalami luka robek di bahu kiri sepanjang empat centimeter dan luka di bagian lengan kiri bawah sepanjang delapan centimeter.
Kepolisian tidak menemukan barang bukti dari pelaku. Tidak pula ada bukti senjata tajam dari pihak korban. Barang bukti dari FPPA hanya berupa pakaian. Antara pelaku dan korban tidak saling mengenal sebelumnya. Bukan pula dari anggota gang.
“Pelaku statusnya sebagai pegawai swasta. Tidak ada pengaruh minuman keras [saat kejadian],” kata Kompol Tri.
Kedua pelaku diduga melanggar pasal 170 KUHP dan atau pasal 351 KUHP subsider pasal 80 ayat (1) Jo. 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam hukuman lima tahun penjara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Begal bokong di Wonogiri ditangkap kurang dari 5 jam. Pelaku mengaku sudah empat kali beraksi di jalur sepi.
DPD DIY dorong percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat demi kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat adat.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.
Tren wisata 2026 berubah, turis kini cari pengalaman emosional, healing, dan perjalanan bermakna ke Jepang, Korea, hingga China.
Peringatan 20 tahun gempa Jogja jadi momentum penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis teknologi, kolaborasi, dan edukasi masyarakat.