Kasus Bayi Dibuang di Semin Terungkap dari Ceceran Darah, Begini Kronologinya
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Foto ilustrasi pemakaman jenazah pasien dalam pengawasan (PDP) COVID-19 dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni membungkusnya menggunakan plastik./Ist-FOTO ANTARA
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Sedikitnya 372 jenazah dimakamkan dengan protokol Covid-19. Jumlah ini tidak hanya berasal dari warga Gunungkidul karena juga ada kiriman dari luar daerah.
Ketua PMI Gunungkidul, Iswandoyo mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan informasi dari PMI Pusat, bahwa pemakaman standardisasi corona di Gunungkidul merupakan yang tertinggi dibandingkan dengan yang dilakukan oleh PMI lain di Indonesia. Adapun jumlahnya hingga sekang mencapai 372 jenazah.
“Dalam kurun waktu setahun ada 372 jenazah yang kami kebumikan dengan cara pemakaman Covid-19. Untuk terbanyak kedua ada di PMI Bogor,” kata Iswandoyo kepada wartawan, Senin (26/4/2021).
BACA JUGA: Sepuluh SD dan SMP Kota Jogja Gelar Uji Coba PTM Akhir April
Menurut dia, meski ada 372 jenazah yang dikebumikan ala Covid-19, namun tidak semuanya merupakan warga positif Corona. pasalnya, ada jenazah yang bersatus suspek atau mengidap penyakit lain, namun karena permintaan keluarga dilaukan dengan standardisasi Corona.
“Untuk asal memang didominasi warga Gunungkidul. sedangkan yang berasal dari luar daerah ada 78 jenazah dan dikebumikan di tempat pemakaman umum di Gunungkidul,” katanya.
Disinggung berkaitan dengan adanya penolakan dari warga, Iswandoyo mengakui tidak ada masalah karena warga tidak ada yang mempermasalahkan, meski jenazah yang dikebumikan berasal dari luar daerah. “Semua lancar. pemakaman bisa kami lakukan sendiri, tapi ada juga yang dilakukan warga tapi dengan pendampingan dari PMI,” katanya.
Relawan Pemakaman PMI Gunungkidul, Aris Triwiyono mengatakan, prosesi pemakaman tidak serta merta dilakukan karena mengedepankan prinsip komunikasi sebelum proses dilangsungkan. Komunikasi dilakukan terutama dengan Satuan Tugas (Satgas) di kalurahan.
“Komunikasi ini penting untuk kemudahan dan kelancaran dalam pelaksanan proses pemakaman,” katanya.
Dia menambahkan, pemakaman standarisasi Covid-19 tak selamanya dilakukan oleh sukarelawan PMI. Hal ini dikarenakan ada pelaksanaan mandiri dari masyarakat. Meski demikian, ada imbauan kepada masyarakat untuk mematuhi protokol karena pelaksanaan harus menggunakan alat pelindung diri.
“Didalam pelaksanaan secara mandiri, kami [relawan PMI] tetap memberikan pendampingan. Untuk APD, bisa menggunakan yang minimal seperti memakai sarung tangan maupun masker,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ibu di Semin Gunungkidul membuang bayi yang baru dilahirkannya karena takut tak mampu menafkahi. Polisi menemukan petunjuk dari ceceran darah.
Purbaya Yudhi Sadewa menunggu perhitungan BNPB sebelum menentukan tambahan anggaran untuk mitigasi bencana.
Akademisi Unpad menjelaskan erupsi sejumlah gunung api yang berdekatan waktunya tidak otomatis saling berkaitan karena sistem magmanya berbeda.
Wisata petik melon di Bugel, Kulonprogo, kembali buka Jumat 11 September 2026. Sebanyak 500 melon premium siap dipetik pengunjung.
BRIN mengimbau masyarakat dan nelayan tidak mengonsumsi ikan mati mendadak usai erupsi Anak Krakatau sebelum penyebabnya dipastikan.
BMKG menyebut arah angin berubah ke barat, barat laut, dan barat daya sehingga sebaran abu Anak Krakatau mulai berkurang.