Nelayan Asal Riau Meninggal di Laut Gunungkidul, Ini Kronologinya

David Kurniawan
David Kurniawan Senin, 31 Agustus 2026 14:17 WIB
Nelayan Asal Riau Meninggal di Laut Gunungkidul, Ini Kronologinya

Proses evakuasi nelayan asal Riau SPM yang ditemukan meninggal dunia saat melaut di kawasan Pelabuhan Sadeng di Kapanewon Girisubo, Senin (31/8/2026)./Istimewa Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 1 di Pelabuhan Sadeng\r\n\r\n\r\n\r\n

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Nelayan asal Riau berinisial SPM, 32, ditemukan meninggal dunia saat melaut di kawasan Pelabuhan Sadeng, Kalurahan Songbayu, Girisubo, Gunungkidul, Senin (31/8/2026) pagi. Korban diduga meninggal karena serangan jantung saat beraktivitas di tengah laut.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 1 di Pelabuhan Sadeng, Sunu Handoko mengatakan, proses evakuasi bermula dari laporan pemilik perahu pada Senin pagi. Tim gabungan kemudian bergerak menuju titik terakhir korban menghubungi saksi.

“Tim gabungan langsung mendatangi lokasi untuk mengevakuasi korban yang sudah dalam keadaan meninggal dunia,” katanya, Senin siang.

Sempat Minta Dijemput karena Sakit Dada

Berdasarkan keterangan saksi, SPM pamit pergi melaut pada Minggu (30/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Saat berangkat, korban melaut seorang diri.

Pada Senin pagi, korban sempat menghubungi pemilik perahu dan meminta untuk dijemput. Saat itu, korban mengeluhkan sakit di bagian dada.

“Kemungkinan meninggal karena terkena serangan jatung. Berhubung di tengah laut dan sendirian, maka tidak ada yang memberikan pertolongan sehingga saat dievakuasi sudah dalam keadaan tak bernyawa,” katanya.

Sunu mengatakan proses evakuasi berlangsung lancar. Setelah berhasil dievakuasi, jasad korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wonosari.

“Selanjutnya korban langsung diantar untuk pulang ke kampung halamannya di Riau,” katanya.

Nelayan Diimbau Tak Memaksakan Diri

Peristiwa tersebut menjadi perhatian bagi petugas penyelamat. Sunu berharap kejadian serupa dapat menjadi pelajaran bersama dan tidak kembali terjadi.

Ia mengimbau nelayan tidak memaksakan diri untuk melaut ketika kondisi tubuh sedang tidak fit. Menurut dia, keberadaan rekan saat melaut juga penting agar dapat memberikan pertolongan ketika terjadi keadaan darurat.

“Kalau bisa ada temannya saat melaut sehingga saat terjadi apa-apa bisa memberikan pertolongan,” katanya.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 di Pantai Baron, Marjono, menyampaikan imbauan serupa. Nelayan diminta memperhatikan situasi sebelum memutuskan melaut dan tidak memaksakan diri menangkap ikan ketika kondisi tidak memungkinkan.

“Misalnya sedang sakit atau ada gelombang tinggi, lebih baik beristirahat dulu hingga kondisinya membaik dan tidak membahayakan,” katanya.

Selain memperhatikan kondisi tubuh dan situasi laut, Marjono meminta nelayan menggunakan pelampung ketika melaut. Perlengkapan tersebut menjadi salah satu upaya berjaga-jaga terhadap kemungkinan kecelakaan di laut.

“Pelampung bisa menjadi penyelamat saat terjadi kecelakaan laut,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online