Petani Magelang Tingkatkan Nilai Sawi Lewat Keripik Kraukk
Harga sawi sempat anjlok hingga Rp500 per kg. KWT Sehati Magelang mengolahnya menjadi keripik Kraukk! bernilai jual lebih tinggi.
Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Kapankah Pandemi Covid-19 Menjadi Endemi?" yang digelar Harianjogja.com, Kamis (26/8/2021)-Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA- Pandemi Covid-19 belum bisa dipastikan kapan akan berakhir. Bertanya kapan Covid-19 akan menjadi endemi artinya berpikir bahwa Covid-19 akan selalu ada dalam jumlah kasus yang stabil. Endemi bisa sewaktu-waktu menjadi epidemi ketika ada pemicu.
“Yang diharapkan adalah bentuknya sporadis, seperti influenza yang memang selalu ada tetapi kasus membahayakannya hanya di beberapa daerah atau beberapa populasi saja,” katanya dosen FK UKDW, dr. Teguh Kristian Perdamaian dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Kapankah Pandemi Covid-19 Menjadi Endemi?" yang digelar Harianjogja.com, Kamis (26/8/2021).
Ia mengatakan proyeksi terburuk kelanjutan pandemi Covid-19 ini adalah setelah dilakukan vaksinasi, masyarakat berubah drastis dengan beraktivitas seperti sebelum pandemi. Padahal, seharusnya meski telah vaksin, masyarakat harus tetap melaksanakan 5M dan 3T sebagai upaya pengendalian Covid-19. 5M yakni memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan serta 3T yakni testing, tracing dan treatment.
Ia mengatakan penyakit yang menyebabkan pandemi tidak hanya Covid-19 tetapi masih ada influenza, Corona yang baru atau bisa jadi penyakit lain. “Jika Pandemi Covid-19 berakhir, 5M bukan berarti dilonggarkan, 5 M sangat penting masih krusial selama pandemi berlangsung, ketika kasus sedikit, tetap mencuci tangan perilu dilakukan, jauhi kerumunan terutama saat resiko tinggi,” katanya.
Adapun 3T nantinya akan berubah bentuknya menjadi surveilance, yang dilakukan berkala untuk mengetahui apakah ada peningkatan kasus agar ditahan agar tidak meluas.
BACA JUGA: Covid-19 DIY Bertambah 795 Kasus
Berty Murtiningsih mengatakan Gubernur DIY meminta percepatan vaksinasi minimal 20.000 sasaran per hari, namun di minggu ini realisasi sudah mencapai 21.000 per hari. “Vaksinasi bukan hanya di pelayanan kesehatan, tetapi kita juga mendapat banyak bantuan dari pihak lain, komunitas, instansi perkumpulan dan lainnya yang ikut menyelenggarakan vaksinasi. Kami Dinkes yang sediakan vaksinnya,” kata dia.
Adapun untuk mengubah perilaku, ia mencontohkan dari kasus penyakit DBD, upaya penanganan adalah dengan mengubah perilaku untuk pembarantasan sarang nyamuk (PSN) hingga menetapkan Jumantik (juru pemantau jentik). Namun, ia mengakui pelaksanaannya tidak bisa optimal. “Mengubah perilaku ini memang tidak mudah, harus terus selalu diingatkan. Sulit tetapi pasti bisa kita lakukan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga sawi sempat anjlok hingga Rp500 per kg. KWT Sehati Magelang mengolahnya menjadi keripik Kraukk! bernilai jual lebih tinggi.
Pembangunan Jembatan Garuda di Gunungkidul bertambah menjadi sembilan titik. Program ini ditargetkan mencapai 11 jembatan pada 2026.
Pemkab Sleman bersama Satgas Pangan Polresta Sleman memperkuat pengawasan stok dan harga bahan pokok guna menjaga stabilitas pasokan pangan di wilayah Sleman.
Penyaluran Dana Penguatan Modal Sleman 2026 mencapai Rp6,3402 miliar atau 32,31% dari total plafon Rp19,625 miliar.
Program padat karya di Gunungkidul digelar di 65 titik pada 2026 dengan anggaran Rp100-200 juta per lokasi untuk membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi
BMKG mengimbau pengelola PLTA mengantisipasi lonjakan beban listrik selama El Nino. Fenomena ini diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026 hingga Januari