Marbot di Sleman Dapat Santunan BPJamsostek Rp42 Juta di Milad DMI
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa bersama Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Sugeng Purwanto saat melihat penyortiran buah salak sebelum diekspor./Ist
Harianjogja.com, SLEMAN- Petani buah salak di Sleman terus bangkit setelah permintaan ekspor komoditas tersebut mulai mengalami peningkatan. Petani berharap, ekspor buah salak bisa kembali menggunakan penerbangan.
Suroto, Ketua Paguyuban Petani Salak Pondoh yang tergabung pada CV Mitra Turindo sebagai eksportir salak pondoh menjelaskan ekspor salak sudah dilakukan sejak tahun 2017 sebanyak 150 ton. Kemudian pada tahun 2018 meningkat 350 ton dan 2019 mampu mengekspor 650 ton.
Namun, lanjut Suroto, selama tahun 2020 ekspor salak mulai tersendat ketika pandemi Covid 19 mulai masuk Indonesia. Volume ekspor buah salak menurun hanya 160 ton saja ini dikarenan terbatasnya transportasi untuk ekspor. "Alhamdulillah pada tahun 2021 ini perlahan-lahan kami bisa kembali mengekspor salak ke Kamboja 5 ton per minggu," kata Suroto saat dikonfirmasi Harianjogja.com, Jumat (27/8/2021).
Baca juga: Bantul Bakal Miliki Penampung Vaksin Rp1,2 Miliar
Hanya saja, ekspor salak yang dilakukan masih menggunakan transportasi kapal laut sehingga durasi pengiriman buah dinilai lebih lama. Dibandingkan ekspor ke China, katanya, ekspor salak ke Kamboja justru lebih tinggi. Jika dalam kondisi normal, katanya, ekspor salak ke China rata-rata antara 25 ton hingga 40 per bulan.
Adapun ekspor salak ke Kamboja, rata-rata perbulan bisa mencapai antara 40-50 ton. "Ini jika situasi normal sebelum pandemi. Ya kami berharap ekspor menggunakan jalur udara segera dibuka agar kegiatan ekspor buah salak dapat kembali meningkat," harap Suroto.
Selain transportasi, kendala lainnya dalam pemenuhan kebutuhan ekspor adalah gairah petani salak yang mulai berkurang di Kabupaten Sleman. "Kami mohon pemerintah daerah maupun dinas terkait untuk dapat membuat program-program yang dapat meningkatkan kembali gairah pertanian salak di Sleman," kata Suroto.
Baca juga: Maling di Sleman Ini Mencuri Motor dengan Modus Menjadi Kekasih
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa mengatakan buah salak menjadi salah satu ikon Sleman. Lahan pertanian salak di Sleman tersebar di Kapanewon Turi, Tempel hingga Pakem seluas kurang lebih 3.000 hektar dan yang masih aktif berkisar 1.500 hingga 2.000 hektar. Luas lahan tersebut digarap oleh 34 Kelompok Petani Salak.
Dia berharap, aktivitas ekspor tersebut mampu membangkitkan lagi semangat petani Salak di Sleman. "Peluncuran ekspor ini saya harap dapat kembali mendekatkan petani untuk bersemangat meningkatkan produktivitas salak, jika nanti dibutuhkan peremajaan, pendampingan dan lainnya kami (Pemkab Sleman) bersama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY siap," ujar Danang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Milad ke-54 DMI Sleman diwarnai penyerahan santunan Rp42 juta kepada marbot. Program perlindungan ini hasil kolaborasi BPJamsostek, Baznas, BSI, dan Pemkab Slem
Jelang Muktamar ke-35 NU, sejumlah ulama menyerukan penolakan politik uang dan meminta pemegang hak suara menjaga independensi organisasi.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Minggu 23 Agustus 2026 lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Bapanas mencatat penyaluran CBP mencapai 1,65 juta ton hingga Agustus 2026 untuk menjaga pasokan dan mengendalikan harga beras.
Simak jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo pada Senin 17 Agustus 2026, lengkap dengan jam keberangkatan dari Tugu dan Kutoarjo.
DPRD Jogja menyoroti digitalisasi bansos dan potensi tumpang tindih anggaran dengan Dindukcapil terkait Identitas Kependudukan Digital.