Jadwal Lengkap 76 Indonesian Downhill 2026: Bantul Jadi Arena Neraka
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Early Warning System/Ist-OPI
Harianjogja.com, SLEMAN- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mulai mengantisipasi potensi bencana ekstrem. Salah satunya menyiagakan Early Warning System (EWS) di lereng Merapi dan Prambanan.
Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan potensi bencana ekstrim pada musim hujan ini merujuk pada peringatan dini yang selalu diupdate oleh BMKG. Dari sejumlah sungai yang berhulu Merapi diperkirakan Kali Gendol dan Kali Boyong berpotensi mengalami banjir lahar.
"Itu terjadi jika intensitas hujan di atas Merapi terjadi tinggi dengan durasi lama. Kami siapkan 20 EWS untuk memantau potensi bencana banjir lahar di sungai-sungai yang berhulu Merapi," kata Joko kepada Harian Jogja, Selasa (12/10/2021).
Selain 20 EWS yang dalam kondisi baik, katanya, BPBD juga menyematkan satu sensor di Turgo yang bertujuan untuk memonitor potensi banjir di sungai-sungai. Sensor akan mengabarkan potensi banjir melalui jaringan transmisi radio ORARI. "Jadi kalau di puncak Merapi hujan dengan intensitas tinggi dan berpotensi banjir lahar hujan," katanya.
Adapun di perbukitan Prambanan yang memiliki potensi bencana longsor, lanjut Joko, BPBD sudah memasang tiga EWS. Ketiga EWS ini juga didukung dengan 11 EWS lainnya yang tertanam di tiga kalurahan. Mulai dari Sambirejo, Wukirsari dan Gayamharjo. "Kami juga melibatkan relawan dan masyarakat jika sewaktu-waktu terjadi bencana," katanya.
Masyarakat diminta mewaspadai potensi bencana menghadapi potensi cuaca ekstrem ini. "Kalau ada potensi bencana atau peringatan dini dari BMKG, kami langsung sampaikan ke masing-masing kapanewon," katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan BPBD sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memangkas pepohonan yang berpotensi tumbang saat terkena angin kencang. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk membersihkan saluran air hujan dan kali dari sampah yang mengganggu aliran air.
Khusus di Prambanan, Makwan menilai potensi bencana longsor baik tanah maupun bebatuan di wilayah perbukitan Prambanan masih bisa terjadi. Hal ini terjadi salah satunya karena struktur tanah di kawasan tersebut. "Sebelumnya kan kemarau, ini berpotensi memunculkan rekahan pada tanah. Ini harus diwaspadai oleh masyarakat," katanya.
Dia menjelaskan, rekahan tanah yang muncul jika tidak segera dibenahi akan berpotensi menimbulkan longsor saat kemasukan air hujan. Apalagi hujan turun dengan intensitas tinggi. Untuk mencegah terjadinya bencana, BPBD Sleman mengimbau agar relawan kebencanaan dan masyarakat melakukan pengecekan rekahan tanah di sekitarnya perbukitan.
"Ya hampir semua kalurahan di Prambanan memiliki potensi bencana rawan longsor. Kami sudah meminta warga yang berada di lereng bukti untuk meningkatkan kewaspadaan dan hati-hati. Terutama saat hujan deras," kata Makwan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.