Anggaran Paskibraka Jateng Dipangkas, Kuota Tetap 45 Orang
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Ilustrasi/Antara-Aloysius Jarot Nugroho
Harianjogja.com, SLEMAN—Seorang siswa di Kabupaten Sleman positif Covid-19 berdasarkan hasil tes acak oleh pemerintah setempat. Temuan ini menambah daftar panjang siswa positif Covid-19 setelah menjalani sekolah tatap muka. Penerapan protokol kesehatan harus diperhatikan.
Dinas Kesehatan Sleman melakukan uji swab antigen secara acak kepada warga sekolah di tiga kapanewon, Kamis (22/10/2021) lalu. Berdasarkan tes tersebut ditemukan tiga siswa yang reaktif. Sesuai ketentuan, ketiga siswa itu pun melanjutkan tes swab polymerase chain reaction (PCR).
"Dari uji swab PCR, hanya satu siswa yang positif Covid-19 dan dua siswa lainnya negatif," kata Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama kepada Harian Jogja, Jumat (22/10/2021).
BACA JUGA: Kemenkes Sebut Gelombang Ketiga Covid-19 adalah Sebuah Keniscayaan
Ia menduga siswa yang positif Covid-19 tersebut terpapar dari salah satu dari anggota keluarganya yang positif Covid-19. Sesuai kebijakan Bupati Sleman, katanya, untuk sementara aktivitas PTM di sekolah tersebut dihentikan untuk sterilisasi sebelum PTM dilanjutkan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Ery Widaryana mengatakan hingga saat ini jawatannya belum menerima petunjuk teknis kewajiban melakukan tes swab PCR bagi siswa di sekolah. Kalaupun Kemendikbud mengatur ketentuan tersebut, Dinas siap melaksanakannya.
Disdik selalu berkoordinasi dengan Dinkes untuk memantau potensi dan perkembangan kasus Covid-19 di sekolah yang menggelar PTM. Pada Kamis misalnya, Dinkes melakukan uji swab antigen kepada warga sekolah yang menggelar PTM.
Uji swab tersebut, kata Ery, dilaksanakan secara sampling di Kapanewon Pakem, Depok, dan Kalasan. Sasarannya siswa, guru dan pegawai lainnya baik di SD maupun SMP. Tes swab sampling tersebut, katanya, digelar di SMPN 2 dan SDN Kaliurang 1 (Pakem), SD Samirono dan SMPN 5 (Depok) kemudian SMPN 3 dan SD Muhammadiyah Bayen (Kalasan).
Sebelumnya warga sekolah terpapar Covid-19 terjadi di SD Sukoharjo, Sedayu, Bantul.
Untuk menindaklanjuti kasus tersebut, Satgas Covid-19 Sedayu melakukan swab PCR kepada 30 orang kontak erat dengan 8 siswa dan 1 guru SD Sukoharjo, Jumat.
BACA JUGA: 31 Objek Wisata di Kulonprogo Segera Dibuka, Ini Daftarnya
Panewu Sedayu, Lukas Sumanasa, mengungkapkan hasil tes swab paling cepat baru keluar pada Sabtu (23/10/2021). "Untuk 8 siswa dan 1 guru SD Sukoharjo itu sejatinya adalah rantai penularan kelima. Kami berharap tidak ada lagi penularan Covid-19 yang bersumber dari takziah tersebut," jelas mantan Panewu Bambanglipuro itu.
Menurut Lukas, saat ini, kedelapan siswa dan satu guru tersebut kini tengah menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing. Untuk mencegah penularan, kegiatan belajar mengajar tatap muka di SD Sukoharjo ditutup sementara. Kepala Seksi Kurikulum Bidang SMP, Disdikpora Bantul, Retno Yuli Astuti, memastikan belum ada rencana menerapkan kebijakan siswa harus menjalani swab PCR sebelum menjalani pembelajaran tatap muka.
Sebab, selain belum menerima aturan dari Kemendikbud terkait dengan kewajiban swab PCR bagi siswa, Disdikpora Bantul masih mengejar vaksinasi pelajar. "Kami masih fokus menyelesaikan vaksinasi untuk pelajar. Untuk kewajiban PCR kami belum mengetahui, karena belum ada aturan untuk itu," katanya.
Sekretaris Disdikpora Jogja, Dedi Budiono, mengatakan akan menggelar tes acak ke siswa bekerja sama dengan Dinkes.
“Tes acak [Covid-19] belum kami lakukan, kami akan koordinasi dengan Dinkes,” kata Dedi. “Karena sudah banyak sekolah yang menjalankan pembelajaran tatap muka, sangat ideal untuk tes acak.”
Sejak PTM berlangsung beberapa waktu lalu di Kota Jogja, belum ada laporan terkait munculnya klaster Covid-19 di sekolah-sekolah.
BACA JUGA: Level PPKM Turun, Ini Pesan Bupati Sleman yang Harus Dilakukan Semua Warga
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul, Ali Ridlo, mengaku belum tahu terkait dengan kebijakan tentang siswa harus tes PCR. “Kami tunggu petunjuk teknis resminya karena hal tersebut dibutuhkan pedoman pelaksanaan di daerah,” kata Ali.
Menurut dia, pelaksanaan PCR untuk siswa membutuhkan biaya besar. Oleh karenanya, petunjuk teknis dari kementerian sangat dibutuhkan sehingga ada kepastian terkait dengan pelaksanaan. “Harus dikaji apakah pembiayaannya menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah [BOS] atau sama seperti pelaksanaan vaksin yang seharusnya bayar, tapi biayanya ditanggung Pemerintah Pusat,” katanya.
PTM sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu. Semua pemangku kepentingan harus memperharikan penerapan protokol kesehatan secara ketat, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, dan memakai masker.
Penerapan protokol kesehatan sangat penting untuk mencegah penularan Covid-19 secara luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Anggaran Paskibraka Jateng 2026 turun menjadi Rp500 juta-Rp600 juta. Kuota 45 peserta tetap dipertahankan untuk upacara HUT RI.
Road trip makin populer di 2026. Simak 5 tips persiapan sebelum perjalanan jarak jauh
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026
Desain iPhone 17 Pro kini menginspirasi HP Android. Huawei Nova 16 SE, Itel Power 80, HMD Asha 305, dan Oppo A7 Pro Max hadir dengan harga mulai Rp1 jutaan.