Sembada Run 2026 Digelar di Sleman, Bidik Wisatawan dan UMKM
Sembada Run 2026 digelar di Lapangan Denggung, Sleman, dengan kategori 3K dan 5K untuk mendorong gaya hidup sehat serta promosi UMKM.
Anak balita ditimbang dalam kegiatan Posyandu di Kampung Ngawen, Padukuhan Ringinsari, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Sleman, Senin (15/11/2021)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi
Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus stunting atau kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis pada 2021 turun dibandingkan 2020. Meski menurun, kasus stunting di Sleman masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Cahya Purnama mengatakan prevalensi stunting pada 2020 tercatat 7,24% atau 4.014 anak. Pada tahun ini, terdapat 6,92% atau 3.445 anak yang masuk kategori stunting. "Stunting mengakibatkan perkembangan anak lebih lambat dibanding usianya," kata Cahya saat jumpa pers, Selasa (16/11/2021).
Dia mengatakan angka tersebut berdasarkan hasil pengukuran status gizi anak balita selama tahun ini. Jumlah anak balita yang disasar sebanyak 59.275 bayi dengan jumlah anak balita yang diukur antropometri sebanyak 49.765 atau 83,96%9. "Prevalensi angka stunting sebesar 6.92 persen atau 3.445 anak, sedangkan prevalensi stunting baduta atau di bawah dua tahun sebesar 6,16 persen atau 1.158 anak," katanya.
Menurut Cahya, penurunan jumlah anak balita yang dipantau dan belum optimalnya validasi data disebabkan adanya Covid-19 dan kebijakan PPKM, sehingga banyak posyandu tidak menggelar kegiatan.
Dari 86 kalurahan di 17 kapanewon di Sleman, prevalensi stunting pada anak balita semuanya di bawah 20% atau berada di batas kategori aman (≥ 20% kronis). Artinya, kasus stunting tidak memiliki masalah kesehatan masyarakat, namun tetap diwaspadai.
Faktor Penyebab
Menurut Cahya, ada sejumlah penyebab tingginya angka stunting, di antaranya anak balita tidak memiliki jaminan kesehatan, anggota rumah tangga anak balita masih merokok, ibu balita sewaktu hamil kekurangan energi kronis, anak balita belum imunisasi lengkap. "Faktor determinan penyebab stunting dapat dianalisis dari tindakan atau intervensi spesifik yang dilakukan oleh Dinkes serta intervensi sensitif oleh OPD terkait," katanya.
Kabid Kesmas Dinkes Sleman, Esti Kurniasih menjelaskan di 2021 sebanyak 10 kalurahan menjadi sasaran prioritas penanganan stunting. Kalurahan ini menjadi lokus untuk penanganan stunting karena kasusnya tinggi. Kesepuluh kalurahan tersebut meliputi Sendangmulyo, Sidomulyo, Margoagung, Merdikorejo, Girikerto, Candibinangun, Glagaharjo, Widodomartani dan Sindumartani. "Tahun depan kami memperluas fokus penanganan dari 10 kalurahan menjadi 30 kalurahan," katanya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo menjelaskan stunting tertinggi di Sleman berada di daerah lumbung padi seperti di Minggir yang mencapai 13,8%. Pemkab akan melakukan penelusuran dan berusaha untuk menurunkan kasus tersebut. "Kami berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai gerakan untuk menurunkan stunting," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sembada Run 2026 digelar di Lapangan Denggung, Sleman, dengan kategori 3K dan 5K untuk mendorong gaya hidup sehat serta promosi UMKM.
Kebakaran garasi bus Damri di Bandung menghanguskan 10 bus dan berdampak pada 13 rumah warga. Satu orang mengalami sesak napas.
Sleman meraih peringkat terbaik I Parasamya Karya Kencana Regional 3 berkat sinergi lintas sektor dalam program GENTING.
Prabowo bertemu 10 mantan Kapolri dan Kapolri Suyudi di Hambalang, di tengah pengusutan kasus dugaan penyadapan.
OJK mencatat hampir 1,5 juta pemain judi online di Jateng. Dana dari utang meningkat hampir 80 persen sejak 2024.
Kulit lansia lebih rentan terhadap sinar UV akibat penurunan kolagen dan melanin. Kenali penyebab serta cara melindunginya.