Klaten Siap Gelar Kejurnas Motocross 2026
Kabupaten Klaten kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu daerah penyelenggara olahraga otomotif di Indonesia melalui Klaten International Motocross
ist/Boedi Dewantoro
Harianjogja.com, JOGJA—Reformasi telah bergulir, dunia perdagangan semakin maju. Birokrasi dalam perdagangan, termasuk juga ekspor perlu menyesuaikan dengan kondisi di lapangan yang berkembang dengan cepat.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY, Boedi Dewantoro mengatakan perlu sistem penjembatan antara birokrasi yang jelas serta kondisi perdagangan yang dinamis. Aturan yang ada perlu merespons kondisi di lapangan.
“Harus diakui, reformasi birokrasi belum sepenuhnya tuntas, masih perlu terus digalakkan. Meski sudah banyak kemajuannya, tetapi pola pikir lama belum sepenuhnya berubah,” kata Boedi yang berasal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera di Jogja, Kamis (16/12).
“Sebagai pengandaian, mahasiswa datang ke perpusatakaan. Di luar negeri, petugas perpustakaan bahkan mau mencarikan dan memotokopikan. Petugasnya mau melayani. Kita belum bisa seperti itu.”
Selain responsif, program-progam perdagangan yang melibatkan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) atau tingkat di atasnya perlu kreativitas. Terlebih era digital yang menjadi sebuah keniscayaan perdagangan saat ini. Salah satu respons baik dari Pemda DIY dengan adanya Jogja Bisnis Service Center.
“Untuk usaha atau industri menengah ke atas juga perlu perlakuan khusus. Perlu ada penyesuaian penanganan pada setiap jenis dan tingkatan usaha. Kalau Dinas Perdagangan dan Perindustrian [Disperindag] DIY tidak menyesuaikan itu akan kedodoran ke depannya. Melayani dan melindungi merupakan tugas pemerintah,” kata Boedi.
Sebagai daerah yang tidak memiliki sumber daya alam melimpah, DIY memiliki kekuatan pada dunia pariwisata beserta para UKM. Kekuatan ini perlu dimaksimalkan dengan pengemasan dan penataan yang baik.
Berbasis Riset & Data
Segala kebijakan perlu berlandaskan riset dan data. DIY dengan ratusan kampus memiliki sumber daya manusia yang melimpah. Para dosen dari kampus-kampus tersebut juga secara berkala mengeluarkan penelitian yang menghasilkan teori dan data, termasuk dalam bidang perdagangan.
“Di negara maju, setiap kebijakan perdagangan atau apapun berdasarkan riset, kajian, dan data. Sehingga pemerintah perlu berkolaborasi dengan akademisi, pihak yang berada di ranah itu. Mereka juga orang yang berada di luar kepentingan politik atau sejenisnya, artinya dia berdasarkan keilmuan,” kata Boedi.
Kabar baiknya, beberapa kebijakan yang ada di DIY sudah berdasarkan riset dan data. Namun tetap perlu menambah perspektif akademisi agar perbaikan senantiasa dilakukan.
“Kebijakan berbasis riset dan data di DIY sudah meningkat dan terus ada perbaikan-perbaikan. Seperti kasus Covid-19 kemarin yang cukup menghantam pengusaha kecil, lahirlah program Si Bakul sampai mengadakan pelatihan-pelatihan. Saya juga sempat mendampingi ibu-ibu yang hancur usahanya. Disperindag DIY melakukan advokasi. Saya optimistis di DIY banyak orang pintar yang bisa membantu mengatasi masalah di masyarakat,” katanya. (Adv)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kabupaten Klaten kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu daerah penyelenggara olahraga otomotif di Indonesia melalui Klaten International Motocross
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.