Kali Oya Mengering, Warga Semin Berburu Emas
Warga Semin berburu emas di Kali Oya yang mengering saat kemarau. Aktivitas ini menjadi pekerjaan sampingan bagi petani yang kesulitan air.
Ilustrasi makanan bergizi/Freepik
Harianjogja.com, WONOSARI–Pemkab Gunungkidul terus berupaya menurunkan angka stunting. Diharapkan tahun ini jumlahnya menjadi 14% atau turun 1,75% dibandingkan 2021 lalu.
Apabila terpenuhi, target Pemerintah Pusat bisa tercapai lebih cepat. Pemerintah menargetkan stunting 14% dicapai di 2024 mendatang. Saat ini, angka stunting nasional di 2021 sebesar 24,4%, sedangkan untuk Gunungkidul 15,75%.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Gunungkidul Diyah Prasetyorini mengatakan upaya penanggulangan terus dilakukan agar bayi yang mengalami gizi buruk dapat dikurangi.
“Tahun ini stunting bisa turun menjadi 14%,” kata Diyah kepada wartawan, Selasa (14/6/2022).
Guna mencapai target ini, ia mengakui butuh kerja keras dan tanggung jawab semua pihak. Seluruh organisasi perangkat daerah dan masyarakat harus berpartisipasi dalam mencapai target ini.
“Sudah ada Peraturan Bupati No.49/2020 tentang Percepatan Penurunan Stunting dan ini menjadi dasar dalam pelaksanaan kegiatan,” katanya.
Dia menjelaskan, upaya penurunan dilakukan dalam beberapa program. Namun demikian, secara garis besar ada dua, yakni program intervensi sensitif dan intervensi spesifik.
Menurut Diyah, intervensi spesifik lebih fokus kepada petugas kesehatan yang langsung menyentuh kelompok sasaran dengan program kerja penanggulangan. Intervensi sensitif lebih condong kepada partisipasi dari peran masyarakat dan pihak ketiga di dalam penurunan angka stunting. “Memang harus lintas sektoral dan semua elemen masyarakat ikut berpartisipasi,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Rismiyadi mengatakan jawatannya ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan stunting. Salah satunya dengan pengembangan padi inpari IR Nutrizinc.
Menurut dia, dari sisi kualitas varietas ini masuk bibit unggul. Beras yang dihasilkan kaya gizi khususnya ZN untuk mencegah terjadinya stunting. Berdasarkan penelitian yang ada, bayi kerdil atau stunting terjadi karena kurangnya konsumsi gizi ZN.
“Kalau beras biasa kandungan ZN hanya 20%, maka untuk Inpari Nutrizinc bisa lebih dari 34,5%. Sedangkan untuk kandungan kabohidrat juga lebih rendah hanya sekitar 16%,” kata Rismiyadi.
Di tahap awal, padi Inpar IR Nutrizinc sudah ditanam Kalurahan Nglegi, Patuk, Kalurahan Beji, Patuk dan Kapanewon Ponjong. Ia mengakui sudah memiliki perencanaan untuk menanam di seluruh kalurahan. Sebagai gambaran dengan menyiapkan lahan satu hektare di masing-masing kalurahan, maka dapat menghasilkan beras anti stuting sebanyak 1.000 ton gabah kering giling.
“Untuk varietas tidak ada masalah karena cocok ditanam di Gunungkidul yang didominasi ladang tadah hujan. Jadi, lahan bukan menjadi masalah karena tetap bisa dikembangkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Semin berburu emas di Kali Oya yang mengering saat kemarau. Aktivitas ini menjadi pekerjaan sampingan bagi petani yang kesulitan air.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini diprediksi melemah di Rp17.540-Rp17.590. Simak sentimen global dan domestiknya.
Perbasi Kulonprogo menggelar Binangun Basketball Championship 2026 untuk membina atlet muda sekaligus mengalihkan pelajar dari kecanduan gadget.
MSI mendorong pengembangan singkong di DIY untuk mendukung target bioetanol E20 pada 2028 dengan jaminan pasar dan harga bagi petani.
Menko Pangan Zulhas memastikan bantuan pangan beras berlanjut hingga Desember 2026 dengan tambahan alokasi 1 juta ton untuk tiga bulan.
Sebanyak 847 peserta dan ofisial dari 12 provinsi mulai tiba di Jateng untuk mengikuti MTQ Nasional XXXI di Semarang pada 11-20 September 2026.