Kali Oya Mengering, Warga Semin Berburu Emas

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 08 September 2026 18:57 WIB
Kali Oya Mengering, Warga Semin Berburu Emas

Seorang pencari emas, Bagong Kadut saat melakukan pencarian di aliran Kali Oya yang mengering di Kalurahan Rejosari, Semin, Selasa (8/9). Harian Jogja/David Kurniawan.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Aliran Kali Oya yang mengering saat musim kemarau dimanfaatkan warga Kapanewon Semin, Gunungkidul, untuk berburu emas. Aktivitas tersebut menjadi pekerjaan sampingan bagi warga, terutama para petani yang tidak dapat menggarap lahan karena keterbatasan sumber air.

Salah satunya dilakukan Bagong Kadut, warga Padukuhan Bedil Wetan, Kalurahan Rejosari, Semin. Selasa (8/9/2026), Bagong terlihat menyusuri bagian Kali Oya yang mengering untuk mencari material yang diduga mengandung butiran emas.

Dengan linggis kecil yang telah dimodifikasi, Bagong menggemburkan tumpukan tanah dan pasir yang berada di celah-celah bebatuan. Material tersebut kemudian dikeruk menggunakan kedua tangannya untuk dimasukkan ke tempat pendulangan yang terbuat dari kayu.

Setelah tempat pendulangan penuh, Bagong membawanya mendekati kubangan air yang masih tersisa di aliran Kali Oya. Material berupa tanah, pasir, dan kerikil kemudian disaring dengan cara memutar-mutar wadah di dalam air.

Proses tersebut dilakukan hingga sebagian besar material kasar terbawa air. Dalam waktu tidak lama, isi tempat pendulangan yang semula dipenuhi campuran pasir dan kerikil mulai menyisakan pasir-pasir halus.

Bagong kemudian mengamati hasil pendulangan dengan meneteskan air melalui tangannya. Di antara pasir tersebut terlihat sejumlah butiran berwarna keemasan yang berkilau ketika terkena siraman air dan cahaya matahari.

Butiran yang ditemukan kemudian diambil satu per satu menggunakan kuku jarinya dan disimpan dalam wadah yang telah disiapkan.

“Sudah dapat sebelas butiran emas kecil-kecil. Saya belum menimbangnya, tapi dilihat dari ukuran, beratnya tidak lebih dari 1 miligram,” katanya saat ditemui di sela-sela pendulangan di Kali Oya, Selasa siang.

Dua Tahun Berburu Emas di Kali Oya

Bagong mengaku telah melakukan aktivitas pencarian emas tersebut selama sekitar dua tahun. Menurut dia, musim kemarau menjadi waktu yang paling banyak dimanfaatkan warga untuk mencari emas di Kali Oya karena kondisi aliran sungai yang mengering membuat material lebih mudah dicari.

“Paling enak memang mencari saat musim kemarau. Di Kapanewon Semin ada lebih dari 50 orang yang mencari emas,” katanya.

Ia menjelaskan emas yang ditemukan warga tidak selalu berupa butiran alami. Setidaknya terdapat dua jenis temuan yang biasa didapat para pencari emas di kawasan tersebut.

“Belum lama ini saya mendapatkan cicin dengan berat 1,2 gram. Tapi, untuk rekor temuan yang palin besar adalah cincin dengan berat empat gram setahun lalu,” ungkapnya.

Menurut Bagong, jenis pertama adalah emas murni yang masih berupa butiran alami. Sementara jenis lainnya berupa perhiasan emas milik warga yang sebelumnya hilang ketika beraktivitas di sekitar sungai.

Aktivitas pencarian emas juga tidak terbatas pada aliran Kali Oya. Bagong mengatakan sejumlah lereng bukit di Gunungkidul juga terdeteksi memiliki kandungan emas.

Namun, ia mengaku tidak berani melakukan penggalian di lokasi-lokasi tersebut karena sebagian lahan merupakan milik orang lain. Karena itu, untuk memperoleh bahan yang akan diproses, ia juga mengambil material dari wilayah lain.

“Untuk mendapatkan emas, saya juga sering mengambil bahan dari orang dari Wonogiri,” katanya.

Beli Bahan dari Wonogiri

Bagong menjelaskan material yang didapat dari Wonogiri biasanya berupa bongkahan tanah dan batu yang dikemas dalam karungan. Material tersebut kemudian diproses untuk memisahkan kandungan emasnya.

“Belum lama ini saya mengambil 23 karung dari orang Wonogiri dan setelah diproses hanya mendapatkan emas sebesar 2,4 gram,” katanya.

Harga material tersebut juga tidak murah. Bagong menyebut bahan yang didatangkan dari Wonogiri dijual dengan harga sekitar Rp300.000 per karung.

Artinya, hasil pencarian emas sangat bergantung pada kandungan material yang diperoleh. Jumlah material yang banyak tidak selalu berbanding lurus dengan emas yang berhasil didapat setelah melalui proses pengolahan.

Pemburu emas lainnya di Kalurahan Rejosari, Sutik, mengatakan aktivitas mencari emas di Kali Oya hanya dijadikan pekerjaan sampingan. Sebagian besar pencari emas merupakan petani yang tidak dapat menjalankan aktivitas pertanian secara normal ketika musim kemarau.

Menurut dia, keterbatasan air membuat lahan pertanian tidak dapat digarap secara optimal. Waktu yang biasanya digunakan untuk bertani kemudian dialihkan untuk mencari emas di sungai.

“Daripada nganggur, maka digunakan mencari emas di sungai,” katanya.

Sutik mengatakan hasil pencarian emas tidak selalu memberikan keuntungan. Para pencari harus mengandalkan keberuntungan karena material yang didulang belum tentu mengandung butiran emas.

“Kadang bisa dapat, tapi kada juga zonk. Kalau berupa benih, maka emas yang didapat dikumpulkan terlebih dahulu baru dijual ke pengepul,” katanya.

Bagi warga Semin, aktivitas mendulang emas di Kali Oya menjadi alternatif untuk mengisi waktu selama musim kemarau. Ketika sumber air terbatas dan aktivitas pertanian terhenti, aliran sungai yang mengering justru membuka peluang bagi sebagian warga untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari butiran emas yang ditemukan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online