Pengusaha Baju Muslim di Bantul Raup Omzet Rp1 Miliar dalam Sebulan
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
Foto ilustrasi. /Antarafoto- Ampelsa
Harianjogja.com, BANTUL -- Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul mengizinkan semua sekolah dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK) sampai sekolah menegah pertama (SMP) untuk menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) penuh atau 100%.
“Bagi sekolah-sekolah yang siap sesuai izin ketua Satgas Penanganan Covid-19 Bantul bisa melaksanakan PTM secara penuh,” kata Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko, Senin (11/7/2022).
Penyelenggaraan PTM penuh, kata dia, hanya berlaku bagi sekolah-sekolah yang sudah siap. Namun bagi sekolah yang belum siap, pihaknya tetap membolehkan untuk menggelar PTM secara terbatas.
BACA JUGA: Sopir Ngantuk, Mobil Tabrak TPR Pantai Parangtritis
Namun demikian baik PTM penuh maupun PTM terbatas pihaknya meminta agar mengedepankan protokol kesehatan (prokes), mengingat saat ini masih terjadi penularan Covid-19. “Terhadap kebijakan PTM penuh maupun terbatas itu tiap sekolah tetap diwajibkan menerapkan prokes ketat bagi siswa maupun guru,” ujar Isdarmoko.
Perihal pembukaan tahun ajaran baru 2022/2023, Isdarmoko menyatakan semua sekolah di Bantul, sejak jenjang TK sampai SMP akan melaksanakan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS).
Dia menyebut total siswa yang akan mengikuti MPLS selama tiga hari dari Senin sampai Rabu (13/7/2022) sebanyak 38.719 siswa.
Jumlah tersebut terdiri dari 14.115 siswa jenjang TK, 11.923 siswa jenjang sekolah dasar (SD) dan 12.681 siswa jenjang SMP, “Adapun materi MPLS yang diberikan oleh guru diantaranya kegiatan pembelajaran, kurikulum, pendidikan karakter dan lain-lain,” katanya.
Lebih lanjut Isdarmoko mengatakan pada tahun ajaran baru ini pihaknya juga akan menerapkan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) mandiri.
BACA JUGA: Pencurian Pikap Terjadi Lagi di Bantul, Kali Ini Modusnya Begini
Kurikulum tersebut diakuinya berbeda dibandingkan kurikulum sebelumnya. Sebab, dalam kurikulum terbaru itu guru harus bisa menerapkan pembelajaran dengan sistem belajar yang mengakomodir kebutuhan tiap-tiap murid.
Pemkab Bantul sendiri memilih IKM Merdeka Berubah. “Memang IKM ini berbeda dari kurikulum sebelumnya [Kurikulum 2013] karena disesuaikan perkembangan zaman, kondisi situasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucap Isdarmoko.
Sebelumnya, Isdarmoko menyatakan Bantul menjadi kabupaten yang cepat dalam melaksanakan kebijakan pergantian kurikulum.
Dia mencontohkan seperti pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 yang dulu diluncurkan di Bantul. “Mempertimbangkan kesiapan juga. Tapi kalau negeri memang saya wajibkan karena saya kira Platform Merdeka Mengajar [PMM] itu sudah lengkap kok. Jadi memang belajar mandiri. Itu digunakan untuk komunitas belajar,” kata dia.
Sejumlah persiapan yang dilakukan untuk IKM di antaranya aktivasi akun belajar.id, bergabungnya guru-guru dalam PMM. “Kedua, sekolah-sekolah sudah mempersiapkan in house training [IHT] dan bimtek [bimbingan teknis] tentang persiapan implementasi Kurikulum Merdeka,” ujar Isdarmoko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pada April tahun ini, omzet usahanya bahkan menembus Rp1 miliar dalam satu bulan, sementara omzet rata-rata bulanannya mencapai puluhan hingga ratusan juta
Polresta Sleman bentuk tim khusus untuk selidiki kasus 11 bayi di Pakem, termasuk dugaan adopsi ilegal dan TPPO.
Grand Rohan Jogja kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran seni lukis bertajuk “The Beauty of Color”. Pameran ini resmi dibuka Senin (18/5)
Dua wakil Indonesia lolos ke babak utama Malaysia Masters 2026, drama kualifikasi warnai hasil di Axiata Arena Kuala Lumpur.
Samsung Messages resmi dihentikan Juli 2026. Pengguna Galaxy wajib pindah ke Google Messages. Simak cara backup data dan jadwalnya.
Gerbang Tol Trihanggo Sleman usung siluet Ratu Boko dan aksara Jawa, jadi ikon budaya baru di Tol Jogja–Solo.