Wisata Gunungkidul Meledak PAD Tembus Rp26 Miliar
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Foto ilustrasi. / ANTARA FOTO-Aswaddy Hamid
Harianjogja.com, Gunungkidul – Sejumlah pedagang di pasar tradisional berharap bantuan sosial khususnya untuk sembako atau Bantuan Pangan Nontunai (BPNT) bisa diwujudkan dalam bentuk uang. Cara ini dinilai efektif untuk meningkatkan roda ekonomi di pasar.
Salah satu usulan ini diungkapkan oleh pedagang kelontong di Pasar Candirejo, Semin, Sudarti.
Menurut dia, program sembako sempat diberikan dalam bentuk uang. Para pedagang menyambut baik karena bisa meramaikan aktivitas di pasar.
“Kalau bantuan turun, pasti pasar menjadi ramai karena banyak yang beli,” katanya, Selasa (23/8/2022).
Meski demikian, Sudarti mengakui bantuan tak lagi diwujudkan dalam bentuk uang karena diberikan dalam bentuk barang. Setiap penerima bantuan akan mendapatkan beras, telur, minyak hingga buah-buahan.
“Ini tidak semua toko bisa melayani karena layanan hanya di toko yang telah ditunjuk. Kalau seperti ini, para pedagang di pasar tidak ikut merasakan dampak dari penyaluran bantuan di masyarakat,” katanya.
Oleh karena itu, dia berharap bantuan yang dicairkan bisa diberikan dalam bentuk uang sehingga pedagang di pasar tradisional ikut merasakan dampaknya.
“Apalagi sekarang kondisi pasar sepi. Di sisi lain juga harus bersaing dengan toko modern yang sudah menjamur,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Suharno, pendagang di Pasar Semin. Menurut dia, sejak munculnya Bantuan Langsung Tunai di zaman Presiden SBY, pada saat penyaluran akan memberikan dampak terhadap ramainya jual beli di masyarakat.
“Program sembako sekarang diberikan dalam bentuk langsung barang. Jadi, hanya pedagang tertentu yang merasakan dampak dari penyaluran bantuan tersebut,” katanya.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Gunungkidul, Asti Wijayanti mengatakan, program sembako sempat diberikan dalam bentuk uang. Masing-masing keluarga mendapatkan bantuan Rp200.000 per bulannya.
Meski demikian, sambung dia, setelah berjalan selama empat bulan, kebijakan penyaluran kembali diubah dengan mekasinme pemberian barang di e-Warong yang telah ditunjuk.
“Sekarang balik lagi diberikan dalam bentuk barang kebutuhan pokok mulai dari beras, telur, sayuran, hingga buah-buahan,” katanya.
Menurut Asti, penyaluran bantuan ini sangat bergantung dengan kebijakan dari Kementerian Sosial.
“Tim di lapangan hanya melaksanakan. Jadi, bantuan mau diberikan dalam bentuk uang atau barang sangat bergantung dengan kebijakan di kementerian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026 didorong lonjakan kunjungan ke Pantai Drini dan Pantai Sepanjang.
Dokter mengingatkan risiko konsumsi daging kurban berlebihan saat Idul Adha. Simak batas aman dan tips sehat agar terhindar hipertensi dan kolesterol.
Nilai TKA SD dan SMP 2026 resmi dibuka mulai pukul 13.00 WIB. Berikut cara cek hasil TKA di tka.kemendikdasmen.go.id.
UPNVY menerima 2.955 mahasiswa SNBT 2026. Teknik Kimia, Teknik Pertambangan, dan Ilmu Komunikasi jadi prodi paling ketat.
Bocoran Samsung Galaxy S26 FE muncul dengan desain mirip Galaxy S26, tiga kamera vertikal, dukungan Qi2, dan chipset Exynos 2500.
Sultan HB X dorong Raperda perfilman dan karst untuk lindungi budaya dan lingkungan Jogja secara berkelanjutan.