Warmindo di Sleman Terbakar Usai Ledakan, 3 Pegawai Luka Bakar
Warmindo di Mlati Sleman terbakar diduga akibat kebocoran gas yang memicu ledakan. Tiga karyawan mengalami luka bakar.
Ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO — BPBD Kulonprogo telah menyiapkan alokasi anggaran untuk menghadapi kekeringan di musim kemarau tahun ini. Dana puluhan juta rupiah yang disiapkan akan digunakan untuk menyuplai berisi air di tirik-titik rawan kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo, Joko Satyo Agus Nahrowi menerangkan bila tahun ini pemerintah telah menyiapkan anggaran Rp58 juta untuk menyuplai air di lokasi-lokasi kekeringan di Kulonprogo. Namun, hingga saat ini belum ada wilayah yang mengajukan bantuan air bersih hingga akhir Agustus ini.
\"Sebetulnya kami menunggu untuk pengedropan air itu, kalau memang mereka membutuhkan kami siap, sudah ada anggarannya. Untuk APBD, kami menganggarkan Rp58 juta,\" ucap dia, Minggu (28/8/2022).
BACA JUGA: Parade Gamelan Nusantara Jadi Obat Rindu Masyarakat
Dengan anggaran tersebut, BPBD telah berkoordinasi dengan PDAM Kulonprogo sebagai pihak penyuplai air. Hasilnya, anggaran Rp58 juta tadi bisa dialokasikan menjadi lebih dari 200 tangki air bersih.
\"Sudah kami rapatkan koordinasi dengan PDAM, kalau kami suplai air melalui PDAM sekitar Rp250.000 per tangki sampai ke lokasi,\" ucap dia.
Jumlah tersebut kemungkinan bakal bertambah dengan adanya potensi bantuan air bersih dari Dinsos DIY. Disebutkan Joko setidaknya direncanakan Kulonprogo akan mendapat bantuan tangki air bersih dari Dinsos DIY untuk wilayah kekeringan yang membutuhkan.
\"Kami juga mendapat informasi dari Dinas Sosial, bahwa Dinas sosial DIY itu mengkavling air bersih ke kami melalui Dinas Sosial sejumlah 200 tangki, tetapi secara teknis kami belum mendapat informasi lebih detail dari dinas,\" tandasnya.
Meski skenario bantuan suplai terus disiapkan, hingga kini belum ada daerah yang mengajukan permintaan bantuan air. Joko menjelaskan belum adanya daerah yang mengajukan bantuan air bersih saat ini lantaran musim kemarau basah yang sedang terjadi.
Dampaknya, daerah langganan kekeringan masih sesekali hujan dan menyebabkan sumber air masih tidak mengalami surut. \"Sebetulnya kan harusnya memang sudah kemarau, cuma ini menurut BMKG kalau orang awam itu mengatakan kemarau basah. Jadi masih ada hujan, di saat kemarau masih ada hujan,\" terangnya.
Kondisi ini serupa dengan dua tahun yang lalu saat kemarau basah terjadi. Hal ini menyebabkan anggaran yang dialokasikan untuk bantuan air bahkan dikembalikan kembali karena tidak ada daerah yang mengalami kekeringan dan membutuhkan bantuan air bersih.
\"Dua tahun terakhir, kami kembalikan karena sama dengan tahun ini kemaraunya basah. Iya [dikembalikan] untuk dipergunakan di anggaran biaya tambahan untuk kegiatan lain,\" ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warmindo di Mlati Sleman terbakar diduga akibat kebocoran gas yang memicu ledakan. Tiga karyawan mengalami luka bakar.
Argentina menang 4-0 atas Bolivia. Nico Paz mencetak gol, Cristian Romero memimpin sebagai kapten, dan Messi masih disiapkan untuk laga perpisahan.
Cek harga emas Antam, Galeri24 dan UBS di Pegadaian. Antam 1 gram tercatat Rp2,634 juta, Galeri24 Rp2,527 juta dan UBS Rp2,552 juta.
Irlandia vs Austria di Nations League 2 Oktober 2026. Simak jadwal, klasemen Grup B3, kondisi skuad, dan prediksi pertandingannya.
BMKG mengingatkan Jateng selatan mewaspadai hujan lebat, petir, angin kencang, dan puting beliung saat peralihan musim Oktober-November 2026.
DPR menerima surat pemberhentian Listyo Sigit sebagai Kapolri dan pengangkatan Kapolri baru. Komisi III menyetujui Suyudi Ario Bayu.