Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Warga mengikuti skrining TBC yang digelar di Kantor Kapanewon Ngemplak, Senin (5//9/2022)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, SLEMAN—Pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir membuat kegiatan penemuan aktif atau skrining kasus TBC terkendala. Jumlah temuan selama 2021 dianggap belum memenuhi target nasional.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Cahya Purnama, menjelaskan selama 2021 temuan kasus TBC hanya sebanyak 983 kasus, jauh lebih rendah dari target nasional yakni 2.546 kasus. “Tahun 2020-2021 temuan kasus menurun karena pengaruh pandemi Covid-19 yang menyebabkan kegiatan aktif untuk menemukan kasus TBC terkendala,” ujarnya, Senin (5/9/2022).
Sementara itu, kasus TBC kebal obat yang ditemukan pada tahun 2021 sebanyak 22 kasus, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Risiko dari TBC kebal obat yakni penyembuhannya akan lama dan cukup banyak yang harus dikonsumsi.
“Kalau kebal obat karena tidak teratur dalam berobat, yang kami takutkan kalau dia menulari keluarga atau masyarakat lain akan kebal obat juga. Itu butuh biaya mahal. Maka sebelum menjadi kebal obat harus ditemukan, diobati, insyaallah sembuh dan tidak kebal obat,” katanya.
Baca juga: Siapa Jadi Panglima TNI Pengganti Andika Perkasa? Ini 3 Calon Paling Masuk Akal
Untuk menekan penyakit TBC, Pemkab Sleman bekerja sama dengan proyek ZeroTB Yogyakarta. Menggunakan Mobil Health, petugas akan berkeliling di setiap kapanewon untuk skrining pasien TBC, khususnya dari keluarga dan kontak terdekat kasus TBC.
Mobil akan berada di puskesmas-puskesmas, sedangkan kontak pasien TBC akan dicari oleh kader kesehatan di setiap wilayah. Dengan program ini, ditargetkan 50% TBC dapat berkurang dalam waktu lima tahun. “Sehingga pada 2030 kita bisa eliminasi TBC di Sleman,” ungkapnya.
Direktur ZoroTB Yogyakarta, Rina Triasih, menuturkan program ini telah dimulai pada 2020 di Kulonprogo, Kota Jogja dan kini berlanjut di Sleman. Program ini bertujuan untuk menurunkan kasus TBC di DIY dengan melibatkan multi sektor.
“Skrining diprioritaskan pada populasi dengan risiko tinggi seperti pemukiman padat, daerah dengan sanitasi buruk, serta masyarakat dengan komorbid. Skrining dikemas dalam satu rangkaian skrining kesehatan lain seperti posbindu penyakit tidak menular, skrining gangguan mental emosional, konseling dan tes HIV,” katanya.
Di samping itu, ia juga mendorong masyarakat untuk aktif melakukan upaya pencegahan TBC. “Jadi orang yang kontak serumah dengan pasien TBC harus diperiksa apakah sakit TBC atau tidak, kalau dia sakit mereka harus minum obat pencegahan,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Jumat 15 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Polres Kudus mengamankan lima pemuda yang membawa senjata tajam saat menggeruduk kompleks perumahan di Kecamatan Bae.
KAI Commuter menambah 4 perjalanan KRL Jogja-Palur selama libur panjang Kenaikan Yesus Kristus 14–17 Mei 2026.
Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing membahas Taiwan, AI, tarif dagang, hingga Selat Hormuz.
Semen Padang siap tampil maksimal melawan Persebaya Surabaya meski sudah dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2026.