Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Foto ilustrasi campak. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Kasus campak di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pasca Lebaran 2026 tercatat naik tipis, namun masih dalam kondisi terkendali. Tingginya cakupan vaksinasi disebut menjadi faktor utama yang menahan lonjakan kasus.
Dinas Kesehatan DIY mencatat hingga 6 April 2026 terdapat 112 kasus campak, meningkat dari 94 kasus sebelum Lebaran. Meski bertambah, kenaikan tersebut dinilai tidak signifikan.
“Sebenarnya tidak terlalu banyak ya naiknya. Artinya status campak di DIY memang ada. Campak ini memang suatu penyakit yang kemudian kami pantau, selalu kami pantau melalui SKDR,” ujar Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, Kamis (16/4/2026).
Ia menjelaskan pengendalian campak cukup efektif berkat capaian vaksinasi yang hampir menyentuh seluruh sasaran. Vaksinasi campak-rubela (MR) dosis pertama telah mencapai lebih dari 98 persen, sedangkan dosis kedua mencapai 96 persen.
“Status vaksinasi kita sudah sangat tinggi. Jadi vaksinasi MR yang pertama angkanya sudah di atas 98 persen. Lalu vaksinasi yang kedua 96 persen,” katanya.
Selain itu, tingkat keparahan kasus juga tergolong rendah. Sebagian besar pasien hanya membutuhkan perawatan ringan dan tidak ada laporan kematian akibat campak di DIY.
“Jadi hanya membutuhkan rawat ringanlah, rawat jalan ringan, dan hanya beberapa yang kemudian rawat inap. Tapi kemudian kasus campak tidak ada yang mengakibatkan meninggal,” paparnya.
Dinkes DIY mengingatkan bahwa campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular, terutama saat terjadi mobilitas tinggi seperti libur Lebaran yang menghadirkan banyak wisatawan dan pemudik.
Kondisi ini diperparah dengan adanya status Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayah Jawa Tengah, yang berpotensi memicu peningkatan kasus di daerah sekitar, termasuk DIY.
“Cuma memang ada faktor yang lain, faktor yang penting juga adalah daya tahan individu tersebut. Nah daya tahan itu salah satu yang dibutuhkan adalah imunisasi atau vaksinasi campak,” kata dia.
Beberapa kasus yang ditemukan di DIY terjadi pada anak yang belum mendapatkan vaksinasi lengkap. Oleh karena itu, Dinkes terus mendorong imunisasi terutama bagi anak usia 9 hingga 59 bulan.
“Anak yang belum mendapatkan vaksinasi campak lengkap, minimal dua kali MR lengkap, itu diberikan supaya dilengkapi. Kalau belum pernah ya disuntik yang pertama, kalau dia baru yang pertama disuntik yang kedua. Itu namanya vaksinasi kejar,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Piala Dunia 2026 membuat fans Indonesia harus begadang. Mayoritas pertandingan, termasuk semifinal dan final, digelar pada pukul 02.00 WIB.
Menteri PPPA Arifah Fauzi mengajak masyarakat aktif melaporkan judi online yang menjerat anak. Dampaknya dinilai mengancam kesehatan mental hingga prestasi bela
Shakira mengungkap tantangan menciptakan lagu resmi Piala Dunia 2026. Menurutnya, anthem turnamen harus mampu mewakili emosi dan semangat dunia.
Renovasi Stadion Sultan Agung Bantul masih menunggu kepastian PSIM dan PSSI. Penambahan single seat serta peningkatan lampu stadion menjadi kebutuhan utama.
Di tengah tekanan geopolitik global, volatilitas pasar, dan transformasi digital yang disruptif, total aset konsolidasi BPD se-Indonesia.