Veteran KKO Museumkan Jaket, Tas, dan Topi yang Dipakai saat Operasi Trikora

Sunartono
Sunartono Rabu, 26 Oktober 2022 23:07 WIB
Veteran KKO Museumkan Jaket, Tas, dan Topi yang Dipakai saat Operasi Trikora

Mantan prajurit KKO Marinir Didik Soeparyadi (kanan) saat menyerahkan seragam jaket yang dipakai saat operasi Trikora untuk dimuseumkan, Rabu (26/10/2022)./Harian Jogja-Sunartono.

Harianjogja.com, JOGJA—Seorang veteran KKO Marinir Didik Soeparyadi menghibahkan jaket, tas dan topi hutan yang dipakai saat operasi Trikora kepada Museum Benteng Vredeburg Jogja, Rabu (26/10/2022). Didik menjadi salah satu prajurit TNI AL yang turut melakukan pendaratan di Pantai Biak untuk membebaskan Irian Barat dari cengkeraman Belanda pada 1961.

Didik mengatakan pakaian yang ia sumbangkan ke museum tersebut seragam prajurit yang dipakai saat Operasi Trikora. Harapannya dengan dimuseumkan bisa memberikan gambaran informasi bagi masyarakat terutama generasi muda tentang Operasi Trikora. Jaket tersebut dipakai terutama saat cuaca dingin di malam hari, sedangkan ketika operasi tetap menggunakan seragam loreng TNI AL.

“Ini jaket asli yang pakai terutama saat malam hari, masih ada tulisan KKO. Buatan Hongkong karena waktu itu memang belum ada pembuat jaket yang seperti ini di Indonesia,” katanya, Rabu.

Tas punggung kecil, kata dia, dipakai terutama saat pertempuran singkat dalam kurun waktu satu hingga dua hari. Tas tersebut biasa ia pakai untuk tempat makanan dan perbekalan saat di medan pertempuran.

“Topi ini dipakai perang hutan, jadi ketika di hutan pakai topi itu saat Trikora. Karena kalau masuk hutan tidak mungkin pakai topi baja terlalu berat,” kata pria berusia 81 tahun ini.

Didik menjadi saksi Komodor Yos Sudarso yang rela mati dan tetap berada di KRI Macam Tutul ketika dihantam torpedo oleh kapan induk Belanda Karel Doorman. Ia memang tidak satu kapal dengan Yos Sudarso. Saat itu ia berada di KRI Anoa yang posisinya di belakang Macan Tutul untuk melakukan pengintaian jarak jauh di Laut Arafuru. Belanda menembakkan torpedo pertama namun Macan Tutul berhasil menghindar.

“Saat itu Pak Yos [Komodor Yos Sudarso] mengirimkan invoice ke kapal kami agar menjauh. Beliau tetap melanjutkan maju sambil jalan zig zag, tetapi akhirnya tertembak dan hancur. Pak Yos mengunci pintu dalam kapal dan meminta semua prajurit terjun ke laut,” kenang warga Jombor, Sleman ini.

BACA JUGA: ORI DIY Terima 7 Laporan Penahanan Ijazah Sekolah

Kepala Museum Benteng Vredeburg Suharja menilai jaket, tas dan topi tersebut akan menjadi koleksi menarik untuk melengkapi informasi terkait Operasi Trikora. Harapannya koleksi tersebut dapat menggugah semangat pengunjung terutama generasi muda terkait rasa cinta tanah air. Mengingat dalam operasi tersebut banyak pahlawan gugur.

“Kami berterima kasih atas kerelaan menyerahkan bukti sejarah, karena kebetulan untuk Trikora belum banyak memiliki koleksi. Semoga nanti bisa memantik pihak lain yang akan menyumbangkan benda lain ke museum terkait Trikora maupun peristiwa sejarah lain,” ucapnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online