Bantul Kucurkan Rp2,17 Miliar untuk Perbaikan 89 Rumah Tak Layak Huni
Pemkab Bantul mengalokasikan Rp2,17 miliar untuk memperbaiki 89 rumah tidak layak huni pada 2026 yang tersebar di tujuh kapanewon.
Ilustrasi cagar budaya./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya pemulihan aset sejarah peninggalan peristiwa Geger Sepehi 1812 kembali mencuat berbarengan dengan momentum satu tahun masa pemerintahan Prabowo-Gibran.
Trah Sri Sultan Hamengkubuwono II (HB II) melalui Yayasan Vasatii Socaning Lokika mengingatkan keseriusan pemerintah dalam diplomasi kebudayaan khususnya dalam hal pengembalian benda budaya tersebut dari pemerintah Inggris.
Ketua Yayasan Vasatii Socaning Lokika, Fajar Bagoes Poetranto menyampaikan, peluang diplomasi sebenarnya terbuka lebar. Upaya yang mereka lakukan melalui jalur private to private (P2P) sedikit banyak telah membuahkan hasil, bahkan mendapat sambutan dari pihak British Library di London.
"Kami sudah menjalin komunikasi langsung dengan British Library dan mendapatkan respons positif. Mereka bahkan telah membuka akses terhadap 482 metadata manuskrip digital, termasuk 120 manuskrip dan 75 manuskrip Jawa yang berasal langsung dari peristiwa Geger Sepehi 1812,” ujar Fajar, Selasa (21/10/2025).
Bagi Fajar, langkah kecil ini merupakan bukti bahwa diplomasi budaya bisa berjalan efektif bila dilakukan dengan ketekunan. Ia berharap capaian ini menjadi pemantik bagi Kementerian Kebudayaan dan pihak lain untuk lebih aktif dalam memperjuangkan pengembalian aset sejarah tersebut.
Fajar menyayangkan bahwa hingga kini belum ada upaya konkret dari pemerintah pusat. Ia berharap Presiden Prabowo memberi perhatian terhadap diplomasi budaya tersebut sebagai bagian dari kedaulatan bangsa.
“Kami berharap Pemerintah benar-benar serius, bukan hanya dalam simbol, tapi juga tindakan. Pengembalian manuskrip Geger Sepehi bukan soal benda sejarah, tapi tentang menghormati jejak perjuangan dan intelektualitas leluhur,” ujarnya.
Konsorsium Nusantaram Eva Raksamahe yang berisi keluarga HB II dan akademisi serta penggiat pelindung budaya nusantara menyebut, sejumlah pihak hendaknya mendukung upaya yang telah dirintis selama ini.
"Kerja sama lintas lembaga ini penting untuk memperkuat klaim kepemilikan dan hak intelektual atas manuskrip. Kami tidak hanya menuntut pengembalian benda, tapi juga ingin menghidupkan kembali pengetahuan yang tersimpan di dalamnya,” kata perwakilan Konsorsium Nusantaram Eva Raksamahe, Stev. Agung Budyawan.
Lebih jauh, Agung mengungkapkan harapan agar di Jogja dapat berdiri Scriptorium Center, sebuah pusat studi dan konservasi manuskrip Nusantara. Pusat ini diharapkan menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenali, menyalin, dan memahami nilai-nilai sejarah bangsa dari sumber aslinya.
"Scriptorium Center akan menjadi simbol kesiapan Indonesia untuk mengelola warisan intelektualnya. Pengembalian manuskrip bukan hanya perkara sejarah, tapi juga pengakuan atas kedaulatan budaya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Bantul mengalokasikan Rp2,17 miliar untuk memperbaiki 89 rumah tidak layak huni pada 2026 yang tersebar di tujuh kapanewon.
Jadwal Piala Dunia 2026 malam ini menampilkan Pantai Gading vs Norwegia, Prancis vs Swedia, dan Meksiko vs Ekuador di babak 32 besar.
Dunia kreator konten makin berat! 55% berpenghasilan di bawah Rp320 juta/tahun. TikTok, YouTube, Instagram perketat aturan. Raffi Ahmad pun tak luput dari ketat
Paraguai tetapkan hari libur nasional setelah menyingkirkan Jerman lewat adu penalti di Piala Dunia 2026 dan melaju ke 16 besar.
Pengunjung kawasan pantai di Gunungkidul diminta untuk mewaspadai potensi serangan ubur-ubur. Diprediksi kemunculan hewan ini sampai pertengahan September 2026.
Kemkomdigi ungkap spam judi online naik 128 persen dan banyak menyasar akun influencer daerah di media sosial.