Kementerian Komdigi Berdayakan Duta Damai BNPT Jadi Penyuluh Informasi
“Saat ini kita memiliki isu krusial, yakni kebijakan PP Tunas sebagai payung hukum perlindungan anak di ruang digital,”
Ilustrasi QR code di TPR Parangtritis./Harian Jogja-Jumali
Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul terus berupaya menyosialiasikan penggunaan transaksi digital atau elektronik untuk masuk destinasi wisata di Bantul, khususnya destinasi yang dikelola Pemkab Bantul. Pasalnya sampai saat ini jumlah transaksi digital bagi wisatawan masih minim.
Hal itu terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan selama akhir pekan lalu atau dari 6-8 Januari 2023 berjumlah 37.673 orang. “Dari jumlah tersebut, hanya 3.079 orang atau sebesar 8,1 persen yang melakukan reservasi melalui Visiting Jogja,” kata Kepala Seksi Promosi dan Informasi Wisata Dinas Pariwisata Bantul, Markus Purnomo Adi, Selasa (10/1/2023).
Dari 3.079 orang yang melakukan transaksi melalui aplikasi Visiting Jogja, kata Markus, paling banyak adalah wisatawan yang berasal dari Jawa Tengah sebanyak 1.777 orang. Sisanya berturut-turut berasal dari DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, DKI dan Lampung.
Markus mengakui tingkat pembayaran retribusi wisata secara digital memang masih sangat sedikit. Dia menduga hal itu lantaran banyak wisatawan yang belum terbiasa dengan pembayaran nontunai. Selain itu ada pula kendala teknis seperti sinyal yang tidak stabil.
BACA JUGA: Transaksi Digital di Objek Wisata Pansela Bantul Sulit Diterapkan, Ini Alasannya
Kendati demikian, Ipung menyatakan dinasnya terus menggenjot agar wisatawan dapat terbiasa dengan pembayaran non tunai, di antaranya dengan sosialisasi serta penambahan sarana dan prasarana penunjang, seperti penambahan QRIS Ultimate Automated Transaction (QR QUAT) terutama di TPR Induk Parangtritis.
“Harapannya sistem pembayaran digital bisa berjalan lancar. Kalau sinyal stabil pelayanan kepada wisatawan juga bisa lebih cepat,” ujarnya.
Sebelumnya, Kepala Dispar Bantul, Kwintarto mengatakan bahwa pencetakan karcis masuk destinasi wisata masih diperlukan karena dari pengalaman tahun lalu belum banyak wisatawan yang menggunakan pembayaran melalui digital yang sudah disediakan.
Dia mencontohkan selama libur Natal 2022 dan Tahun Baru 2023, beberapa waktu lalu, wisatawan yang berkunjung ke pantai barat seperti Samas sampai Pandansimo dari 1.900 orang yang menggunakan transaksi digital hanya 30 orang. sehingga wisatawan masih terbiasa dengan transaksi manual menggunakan karcis. “Kalau dipaksakan elektronik semua ada kendala juga,” katanya.
Padahal, kata dia, jika wisatawan sudah terbiasa dengan transaksi digital atau elektronik, maka ketika ada kenaikan tarif retribusi kapanpun pihaknya siap karena tinggal mengubah sistemnya.
Namun, faktanya masih banyak wisatawan belum familiar dengan pembayaran elektronik. “Sehingga sekarang masih berlaku karcis karena belum familiar [transaksi elektronik]," kata dia.
Meski begitu pihaknya juga terus berupaya mensosialisasikan penerapan transaksi digital bagi wisatawan yang masuk destinasi wisata di Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
“Saat ini kita memiliki isu krusial, yakni kebijakan PP Tunas sebagai payung hukum perlindungan anak di ruang digital,”
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Pemkab Bantul siapkan lima kalurahan untuk program Kampung Redam hasil kerja sama dengan Kementerian HAM. Fokus pada resolusi konflik dan keadilan restoratif.
Daftar klub yang lolos ke Liga Champions 2026/2027. Simak klub raksasa yang lolos otomatis dan daftar tim yang berjuang lewat kualifikasi di sini.
KDMP Tamanmartani menggunakan dana LPDB untuk operasional awal klinik pratama sambil menunggu kerja sama BPJS Kesehatan.
Erina Gudono resmi lulus S2 University of Pennsylvania sambil menjalani peran sebagai ibu bagi Bebingah bersama Kaesang Pangarep.