Ekonomi DIY Tumbuh 5,75% pada Triwulan II 2026, Tertinggi di Jawa
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
Gunung Merapi mengeluarkan awan panas pada Sabtu (11/3/2023)./Twitter @TRCBPBDDYI
Harianjogja.com, SLEMAN—Pakar iklim dan lingkungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Emilya Nurjani, mengatakan cuaca panas menyengat beberapa hari terakhir tidak disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi. Meski demikian, ada pengaruh debu hasul letusan terhadap suhu udara.
Dia menjelaskan erupsi terjadi di perut gunung. Meski demikian, aerosol atau debu bisa jadi berpengaruh terhadap cuaca panas. Namun, untuk memastikannya perlu pengukuran.
"Mungkin saja berpengaruh menaikkan, mengurangi, atau bahkan tidak terjadi apa-apa, tergantung pada angin. Secara kasar ada peningkatan suhu di Jogja tapi bukan karena Merapi," kata dia dalam acara diskusi bersama wartawan bertajuk Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim di UGM, Senin (13/3/2023).
Dalam catatannya, erupsi Gunung Sinabung berpengaruh pada hujan. Namun, Gunung Merapi tidak memengaruhi cuaca karena awan panasnya tidak banyak.
BACA JUGA: Abu Merapi Tidak Turun di Jogja dan Malah Menyebar ke Magelang Hingga Wonosobo, Ini Penyebabnya
Fenomena cuaca panas menurutnya umum di perkotaan seperti Jogja. Daerah perkotaan memiliki suhu lebih tinggi karena sebagian besar permukaan tanah sudah tertutup. Radiasi Matahari yang diserap dan dilepaskan besarnya sama. Kondisi demikian ditambah dengan banyaknya pendingin udara dan kendaraan bermotor sehingga suhu lebih menyengat.
Hal senada disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY. Kepala Kelompok Foreskater BMKG YIA, Romadi, mengatakan panas menyengar beberapa hari ini tidak ada kaitannya dengan erupsi Gunung Merapi.
BACA JUGA: Fenomena Tak Lazim, Embun Es Sudah Muncul di Dieng pada Bulan Maret
"Cuaca terik dipengaruhi oleh kelembaban perlapisan 700 milibar sampai dengan 500 milibar. Ini sangat kering hingga mencapai 30 persen, sehingga sinar Matahari langsung menembus permukaan Bumi. Sampai di permukaan Bumi, sinar Matahari kembali dipantulkan kembali ke atmosfer," ucapnya kepada harianjogja.com, Senin (13/3/2023).
Milibar atau mb adalah satuan tekanan udara. Dia menjelaskan berkurangnya intensitas hujan beberapa hari ke belakang di Jogja dan sekitarnya di DIY salah satunya karena adanya pola tekanan rendah di utara Papua. Ini menyebabkan pola konvergensi bergeser ke perairan utara Jawa, sehingga mengurangi massa uap air hujan di wilayah DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekonomi DIY tumbuh 5,75% pada triwulan II 2026, tertinggi di Pulau Jawa. BPS mengungkap sektor pendorong dan BI optimistis tren berlanjut.
Cek rute Trans Jogja aktif dan tarif terbaru 2026. Pembayaran bisa memakai QRIS, GoPay, kartu elektronik, hingga kartu pelajar.
Jadwal DAMRI Bandara YIA Selasa 18 Agustus 2026 lengkap dengan rute ke Sleman, Kota Jogja, Gamping, Condongcatur, dan tarif Rp80.000.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, Selasa 18 Agustus 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Prakiraan cuaca DIY Selasa 18 Agustus 2026 didominasi udara kabur. Sleman diprediksi cerah, sementara wilayah lain perlu waspada jarak pandang terbatas.
Neeltje Deliana Insjowi Werimon, Paskibraka asal Jayapura, menjadi pembawa baki bendera saat penurunan Sang Merah Putih di Istana Merdeka.