RSPS Bantul Raih ISO 27001:2022, Perkuat Keamanan Data Pasien
Sertifikasi ISO 27001:2022 ini menjadi bukti keseriusan RSUD Panembahan Senopati Bantul dalam memberikan layanan yang aman dan profesional
Salah satu mitra budi daya sapi BUMDus Babakan, Suparlan menunjukan sapi peliharaannya./Harian Jogja-Catur Dwi Janati
Harianjogja.com, BANTUL—Pemkab Bantul melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memperketat pasokan hewan ternak dari Kabupaten Gunungkidul. Upaya ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit antraks yang kini tengah berjangkit di wilayah tersebut.
Sebagaimana diketahui, kasus antraks sudah memakan korban jiwa di Gunungkidul dan puluhan orang lainnya dinyatakan suspek. “Sementara ini kami akan memperketat pasokan hewan dari Gunungkidul,” kata Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, Rabu (5/6/2023).
Joko mengatakan selama ini banyak pasokan sapi di pasar hewan maupun di tempat pemotongan hewan di Bantul berasal dari Gunungkidul, DIY dan Wonogiri, Jawa Tengah. Bahkan di Pasar Hewan Imogiri yang setiap pasaran bisa mencapai 700 ekor sapi dari berbagai daerah, salah satunya Gunungkidul.
Selain memperketat pasokan hewan di pasar hewan, pihaknya juga akan mendatangi tempat-tempat pemotongan hewan ternak maupun di kandang-kandang kelompok ternak di Bumi Projotamansari.
BACA JUGA: 2 Korban Meninggal Diduga Akibat Anthrax Muncul Sejak Mei, Status Suspek
Pihaknya khawatir ada hewan ternak dari Gunungkidul ke Bantul membawa penyakit antraks yang tidak terdeteksi saat pemeriksaan. Sebab masa inkubasi penyakit antraks itu panjang bisa sampai berbulan-bulan.
Karena itu dinasnya langsung menerjunkan petugas kesehatan hewan ke kelompok ternak pedagang, maupun pasar hewan. “Sejak adanya informasi antraks di Gunungkidul kami langsung melakukan pengawasan,” ucapnya.
Ratusan liter disinfektan juga disiapkan untuk menyemprot kandang ternak, pasar hewan, maupun rumah jagal yang ada di Bantul.
Sejauh ini diakuinya belum ada laporan antraks di Bantul. Namun demikian pihaknya menyayangkan informasi antraks di Gunungkidul baru muncul saat ini, padahal sudah diketahui sejak sebelum lebaran Iduladha.
“Kami jelas khawatir ternak kurban yang terpapar anthraks ini juga menularkan kepada hewan lainnya sehingga penularan antraks semakin meluas. Apalagi itu terjadi sebelum Iduladha sehingga ini menjadi pekerjaan tidak mudah untuk mendeteksi,” ujarnya.
Dia berharap tidak ada penyebaran antraks dari Gunungkidul ke Bantul, termasuk saat Iduladha, beberapa waktu lalu. Pada Iduladha lalu di Bantul tercatat ada ribuan sapi, kambing, dan domba yang dipotong.
Dari data DKPP Bantul jumlah hewan kurban yang dipotong selama dua hari pada Rabu (28/6/2023) dan Kamis (29/6/2023) sebanyak 20.303 ekor. Jumlah tersebut terdiri dari sapi 6.790 ekor, kambing 5.331 ekor, domba 8.183 ekor. Jumlah tersebut terdiri dari 2.204 titik pemotongan baik di masjid, rumah pemotongan hewan (RPH) maupun di lingkungan warga.
“Semoga saja tidak ada warga yang mengkonsumsi daging kurban dari ternak Gunungkidul yang terpapar anthraks. Yang sulit itu kan masa inkubasi antraks hingga 60 hari usai mengkonsumi daging yang terpapar antraks."
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bantul dapat kuota 90 siswa Sekolah Rakyat 2026. Prioritas anak miskin ekstrem, proses masih menunggu SK Gubernur.
BPOM temukan obat palsu Codrela dan Trivam Fliege. Tak terdaftar, berbahaya, dan beredar luas di marketplace.
Kemendag tarik Minyakita berbau solar dari peredaran. Produk diganti dan produsen terancam sanksi tegas.
Alyakha Kolektif Angkat Ancaman Deforestasi Papua Lewat Instalasi "Nafas Kehidupan" di ARTJOG 2026
Registrasi SIM card kini wajib biometrik wajah mulai 1 Juli 2026. Kemkomdigi larang penggunaan NIK dan KK tanpa verifikasi.