Semarak Milad Muhammadiyah ke-113, Aisyiyah Trirenggo Gelar Gowes
Bersepeda bukan hanya soal olahraga, tetapi juga sarana menumbuhkan energi positif, memperkuat silaturahmi, dan meneguhkan peran perempuan dalam gerakan dakwah
Sejumlah armada pengangkut sampah lalu lalang di sekitar TPA Piyungan, beberapa waktu lalu. - dok/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul mengawasi sungai dan jalan raya dengan ketat untuk mengantisipasi pembuangan sampah sembarangan sebagai imbas ditutupnya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Regional Piyungan selama sekitar 1,5 bulan ke depan.
Proses pengawasan juga melibatkan pemerintah kalurahan dan kapanewon yang lokasinya rawan terjadi pembuangan sampah di sungai maupun di sisi jalan raya. Ia melihat saat ini sudah ada pembuangan sampah sembarangan di sisi jalan raya.
“Terpantau ada beberapa titik di tepi jalan wilayah perbatasan di Ring Road Bantul [tumpukan sampah],” kata Kepala DLH Bantul, Ari Budi Nugroho, Rabu (26/7/2023).
Ia meminta semua petuags DLH, pemerintah kapanewon dan kalurahan serta masyarakat untuk sama-sama mengawasi pembuangan sampah di sembarang tempat, termasuk di sungai. Ari tidak menampik ketika TPA Regional Piyungan ditutup, maka potensi pembuangan sampah di sembarang tempat bisa terjadi. Bahkan sebelum TPA Regional Piyungan tutup pun terkadang masih ada yang buang sampah sembarangan.
Baca juga: Begini Curhatan Mahasiswa Muslim yang Kuliah di Kampus Katolik, Nyamankah Mereka?
“Kami akan libatkan kapanewon dan kalurahan dalam pengawasan [pencegahan pembuangan sampah ke sungai dan tepi jalan],”ujarnya.
Ari menyatakan dengan ditutupnya TPA Regional Piyungan, pihaknya sudah menyampaikan Surat Keputusan (SK) Bupati terkait Siaga Darurat Penanganan Sampah yang ditujukan kepada sejumlah pihak mulai dari instansi di bawah Pemkab Bantul, instansi vertikal, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pemerintah kapanewon sampai kalurahan serta masyarakat untuk mengolah sampah di tempat masing-masing.
Dalam SK Bupati tersebut semua pihak diminta mengelola sampah mandiri dengan melakukan pemilahan antara sampah organik dan non organik. Untuk sampah organik bisa dilakukan penimbunan di tanah dengan membat jugangan bagi yang punya lahan. Bagi yang tidak cukup lahan sampahnya bisa diserahkan ke bank sampah terdekat atau Tempat Pengolahan Sampah (TPS) tingkat kalurahan.
Untuk sampah dari pasar dan jalan akan diolah. “Rencana kita olah di kawasan pasar. sampah dipilah, non organik dijual. Sementara sampah organik dikompos dengan ditimbun,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bersepeda bukan hanya soal olahraga, tetapi juga sarana menumbuhkan energi positif, memperkuat silaturahmi, dan meneguhkan peran perempuan dalam gerakan dakwah
Harga BBM naik per 17 Mei 2026. Solar BP-AKR dan Vivo tembus Rp30.890 per liter, Pertamax Turbo dan Dexlite juga naik.
Veda Ega Pratama start dari posisi ke-21 Moto3 Catalunya 2026 usai gagal lolos Q2. Rider Indonesia tetap optimistis memburu rombongan depan.
Kevin Diks mencetak gol spektakuler saat Borussia Monchengladbach menghancurkan Hoffenheim 4-0 di Bundesliga 2025/2026.
CEO Aprilia Racing Massimo Rivola mendoakan Marc Marquez cepat pulih meski Aprilia sedang dominan di MotoGP 2026.
WhatsApp bisa membuat memori ponsel cepat penuh. Simak cara membersihkan penyimpanan tanpa menghapus chat penting.