Jembatan Tua Kewek Dibongkar Mei, Diganti Struktur Baru
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Salah satu peserta difabel mengikuti ujian SIM D di Satlantas Polres Bantul, Kamis (21/9/2023)/Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, BANTUL—Sebanyak 30 difabel mengikuti ujian SIM D di Satlantas Polres Bantul, Kamis (21/9/2023). Menggunakan motor yang sudah dimodifikasi khusus sesuai kebutuhan masing-masing, mereka lancar mengikuti ujian praktik SIM.
Kasatlantas Polres Bantul, Iptu Fikri Kurniawan menjelaskan kegiatan ini merupakan program dari Polda DIY sebagai bentuk fasilitasi kepada para difabel untuk mendapatkan SIM D. “Pembuatan SIM baru 27 orang dan perpanjangan ada tiga orang,” ujarnya, Kamis.
Adapun prosedur yang dilalui para peserta yakni mulai dari tes kesehatan, tes psikologi, tes teori dan tes praktik. “Tesnya seperti mekanisme yang sudah ada. Alhamdulillah tes untuk disabilitas lancar semua tidak ada kendala, karena sirkuit yang baru sangat memudahkan, bukan hanya untuk SIM C, tetapi juga untuk disabilitas,” katanya.
BACA JUGA: Warga Difabel Ikut Uji SIM Ramai-Ramai di Satlantas Jogja
Dalam program ini, para peserta dibebaskan dari biaya pembuatan SIM, kecuali dalam tes kesehatan. Selain fasilitasi tes, Polres Bantul juga memastikan sarana-prasarana di Polres Bantul sudah cukup aksesible untuk para difabel. “Ada guiding block, parkir disabilitas, tempat duduk disabilitas, kendaraan khusus,” paparnya.
Salah satu difabel peserta ujian SIM D, Sulistiyo, menuturkan para peserta awalnya mendapat info dari Dinas Sosial Bantul yang menyebutkan fasilitas pembuatan SIM D secara kolektif bagi para difabel. “Itu sangat memudahkan kami, karena kalau mencari perorangan sendiri-sendiri kadang kesulitan,” ungkapnya.
Dia menceritakan para peserta berkumpul di Polres Bantul untuk selanjutnya bersama-sama naik bus menuju Rumah Sakit Bhayangkara cek kesehatan. “Alhamdulillah semua disuport dibantu dari pihak kepolisian,” kata dia.
Adapun jenis difabel yang mengikuti program ini didominasi oleh difabel daksa, yang masih bisa mengendarai motor dengan modifikasi khusus. “Ada daksa paraplegi, paraplase, amputasi. Ada pula tuna grahita dan low vision,” kata dia.
Program ini menurutnya sangat bermanfaat, karena para difabel ini biasa menggunakan motor untuk aktivitas sehari-hari. “Biasanya keseharian, kadang ada acara pengajian, sosialisasi dan sebagainya. Kalau saya untuk COD [cash on delivery], untuk kerja,” ungkapnya.
Dia berharap program ini dapat berkelanjutan dan dijalankan secara rutin, karena masih banyak difabel yang memerlukan SIM D untuk berkendara. “Kalau bikinnya bareng lebih enak dan PD. Kalau sendiri mungkin takut,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jembatan Kewek Jogja steril kendaraan, bongkar total Rp19 miliar APBN mulai April 2026. Struktur girder baru 30m, warga alih jalur Abu Bakar Ali untung pedagang
Warga Desa Narasaosina menyerahkan 57 senjata rakitan sisa konflik Adonara Timur kepada Polres Flores Timur demi menjaga perdamaian.
Program Beasiswa Santri Jateng 2026 masih dibuka hingga Juli. Pendaftar sudah mencapai 825 santri untuk studi dalam dan luar negeri.
Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas guguran sejauh 2 kilometer pada Minggu malam. BPPTKG minta warga tetap waspada.
AHY memastikan penyesuaian tarif tiket pesawat dilakukan terukur di tengah kenaikan harga energi dunia akibat konflik Timur Tengah.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.