Rumah Suwitik Tidak Lagi Tergenang dan Dimasuki Ular

Media Digital
Media Digital Selasa, 10 Oktober 2023 19:27 WIB
Rumah Suwitik Tidak Lagi Tergenang dan Dimasuki Ular

uwitik menunjukkan rumah hasil pembangunan oleh Habitat For Humanity Indonesia, Selasa (10/10/2023). (Harian Jogja/Andreas Yuda Pramono)

Harianjogja.com, KULONPROGO—Sebanyak 40 rumah tidak layak huni (RTLH) di Kapanewon Sentolo dibangun menjadi layak huni oleh Habitat For Humanity (HFH) Indonesia selama kurun waktu sembilan bulan. Salah satu rumah tersebut berada di Padukuhan Jetak, Kalurahan Kaliagung yang dihuni oleh Suwitik, 35, dan keluarganya. 

Suwitik menceritakan rumah lamanya yang memiliki luas sekitar 4 X 4 meter persegi hanyalah rumah bambu. Dia, suami, dan satu anaknya yang sekarang duduk di kelas I sekolah menengah pertama (SMP) telah menghuni rumah tersebut selama sepuluh tahun. 

“Saya tinggal di rumah dari bilik-bilik bambu sekitar sepuluh tahunan. Itu rumah kami beli sendiri tapi ya bekas begitu,” kata Suwitik ditemui di Grand Dafam Signature, Senin (9/10/2023). 

Suwitik menambahkan rumahnya yang dulu banyak memiliki lubang. Bambu yang terkena air dan panas selama sepuluh tahun membuatnya lapuk. Ketika hujan, banyak bagian dari rumah Suwitik bocor. Sebenarnya, kondisi tersebut memaksa Suwitik untuk melakukan renovasi. Hanya saja, dia dan suaminya belum memiliki uang yang cukup. Pasalnya, Suwitik hanya bekerja sebagai perajut tas yang tidak menentu pesanannya. Sementara suaminya merupakan kuli bangunan yang sering ikut proyek ke berbagai daerah. 

“Belum ada uang untuk bangun lagi atau renovasi. Akhirnya kami masih tetap bertahan di rumah bambu kami,” katanya. 

Bulan Januari 2023, hujan deras membuat air menggenangi lantai rumah Suwitik setinggi mata kaki. Selain atapnya yang bocor, rumah tersebut berada di tengah sawah dengan posisi lebih rendah dari sawah sekitar.   

Hujan justru membuat Suwitik dan keluarganya tidak dapat tidur nyenyak. Ancaman genangan air yang mungkin akan lebih tinggi membuat dia terjaga. Hujan di bulan Januari tersebut sempat membuat kasur dan pakaian-pakaiannya basah. Tidak hanya itu, Suwitik mengatakan air yang menggenangi lantai rumahnya sering membawa serta ular sawah. 

“Ular pernah masuk. Sering malahan. Ular sawah kan ular air begitu. Kalau airnya masuk rumah ya dia masuk juga,” ucapnya. 

Rumah bambu milik Suwitik juga tidak memiliki toilet. Apabila dia ingin buang air besar maka dia harus pergi sejauh sepuluh meter ke belakang rumahnya. Di sana dia membuat semacam toilet sangat sederhana. Toilet tersebut tergolong tidak layak. Dia menyembutnya toilet cemplung yang mengacu pada jamban dengan penampungannya berupa lubang berfungsi menyimpan dan meresapkan cairan kotoran atau tinja ke dalam tanah dan mengendapkan kotoran ke dasar lubang. 

Toilet tersebut juga hanya ditutup dengan tanaman rimbun seperti tanaman bunga Sepatu yang dikombinasikan dengan gedek dengan atap terbuka. 

“Jadi ada lubangnya [pada tanah]. Di atasnya kami susun batu-batu tapi ada lubangnya. Itu dalam sekitar satu setengah meter,” lanjutnya. 

Lebih jauh, Suwitik menceritakan dia tidak dapat serta merta menggunakan toilet tersebut. Pasalnya, tidak jauh dari toilet tersebut ada warung milik tetangganya. Dia tidak ingin aktivitasnya di toilet mengganggu warung tersebut. 

Khusus untuk mandi, di sisi lain rumahnya terdapat sumur timba. Bagian depan dan sisi kanan - kiri sumur tersebut tertutup dinding rumah namun sisi belakang terbuka menghadap area persawahan dan pepohonan. 

Situasi sulit tersebut berubah ketika Habitat For Humanity Indonesia datang ke rumah Suwitik tatkala rumahnya penuh genangan air. “Waktu tergenang itu saya video terus saya kirim ke kakak saya. Ternyata kakak saya ngirim ke Pak Lurah. Pagi harinya, Habitat datang melakukan survei,” pungkasnya. 

Pembangunan dilakukan selama satu bulan. Satu minggu sebelum bulan puasa, rumah baru Suwitik berukuran 5 X 5 meter persegi telah selesai dan dapat ditempati. Berbeda dengan rumah lamanya, rumah baru milik Suwitik memiliki dua kamar, ruang tamu, dan toilet. 

“Rumah baru ada dua kamar. Dulu rumah saya hanya punya satu kamar dan dipakai bertiga,” jelasnya. (BC)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online