Proyek Jembatan Kewek Dimulai, Target Rampung Akhir 2026
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Ilustrasi angin kencang./JIBI
Harianjogja.com, BANTUL—Musim hujan akan segera datang di wilayah DIY termasuk Bantul. Sejumlah bencana hidrometeorologi berpotensi terjadi di beberapa wilayah, diantaranya hujan disertai angin kencang, banjir hingga tanah longsor.
Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Budianta, menjelaskan untuk hujan disertai angin kencang berpotensi terjadi merata di semua wilayah. Ditambah kemarau panjang yang terjadi sebelumnya, kemungkinan hujan ekstrim bisa terjadi. “Kemungkinan seperti itu, tapi kami tunggu informasi dari BMKG,” ujarnya, Senin (6/11/2023).
Tanah longsor dapat terjadi karena setelah kemarau, biasanya kondisi tanah mengering dan mengalami pelapukan. Ketika terkena hujan, tanah yang lapuk tersebut bisa longsor. “Longsor biasa terjadi di wilayah Imogiri, Piyungan, Pleret dan Dlingo. Jadi wilayah Bantul sisi timur yang sering terjadi longsor,” katanya.
Kemudian untuk banjir, biasanya terjadi pada akhir Desember hingga Februari, ketika tingkat hujan cukup banyak. Wilayah yang berpotensi terdampak banjir meliputi Daerah Aliran Sungai (DAS). “Mulai dari DAS Opak, DAS Celeng, DAS Bedok. Tiga ini yang dampak banjirnya langsung ke Bantul. Kalau Sungai Progo jarang, karena dasar sungai sudah turun ke bawah,” paparnya.
Adapun antisipasi yang disiapkan yakni mengadakan rapat konperhensif lintas instansi, pembentukan pos banjir-longsor di beberapa kalurahan yang berpotensi terdampak, gelar apel kesiapsiagaan yang diikuti sukarelawan dan berbagai lembaga sosial.
“Sekaligus checking peralatan. Kami juga mengimbau kepada kalurahan maupun kelompok relawan untuk mendata dan menyiapkan kapasitas masing-masing. baik menyiapkan peralatan maupun personel untuk kesiapsiagaan di perubahan musim ini,” ungkapnya.
BACA JUGA: Siaga Darurat Kekeringan Gunungkidul Berlaku Sampai 30 September
Di setiap kalurahan, sudah terbentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Mereka dilibatkan dalam apel kesiapsiagaan untuk diberi imbauan terkait apa saja yang perlu disiapkan. ‘Sehingga mereka siap secara SDM dan perlengkapannya,” kata dia.
Adapun untuk wilayah laut, potensi bencananya tidak berkaitan dengan pergantian musim. Pada musim kemarau ini pun gelombang tinggi sudah terjadi. Untuk itu masyarakat di pesisir sudah disiapkan untuk menghadapi bencana gelombang tinggi termasuk sunami.
“Karena memang berbeda antara ancaman perubahan musim dengan ancaman di pantai. Untuk kesiapsiagaan sunami jelas sudah kita siapkan bagi masyarakat di pesisir. Bahkan kemaren lima pesisir selatan Bantul sudah dianugerahi pengakuan sebagai Masyarakat Siaga Tsunami oleh BMKG,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PJN DIY resmi mulai penggantian Jembatan Kewek Jogja senilai Rp19 miliar. Cek spesifikasi struktur girder baru dan target rampung Desember 2026.
Kalibiru Kulonprogo kini sepi pengunjung. Dari puluhan ribu wisatawan per bulan, kini hanya sekitar 100 orang. Pengelola bahkan menjual aset.
Sejak diresmikan tahun lalu, Griya Batik Jogja mulai disiapkan sebagai ruang edukasi sekaligus promosi batik Jogja
September 2026 tidak memiliki tanggal merah dari libur nasional dan cuti bersama. Simak daftar hari Minggu dan tanggal penting sepanjang September.
Pendaftaran KIP Kuliah 2026 masih dibuka hingga 31 Oktober. Cek syarat, jadwal, bantuan biaya hidup, dan cara daftar KIP Kuliah terbaru.
Java United menjual tiket laga kandang Super League 2026/2027 mulai Rp15.000. Harga ini memecahkan rekor tiket termurah yang sebelumnya dipegang Persik.