Kemarau, Kasus Kebakaran Lahan di Gunungkidul Melonjak
Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul meningkat menjadi 15 kasus selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
Aris, salah seorang petani di Kalurahan Tambakrejo, Tempel, Sleman sedang memperlihatkan tanaman padi yang mulai mengering. Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, SLEMAN—Hujan yang menghilang di wilayah DIY tak hanya berdampak terhadap kembalinya warga kekurangan air bersih. Pasalnya, area pertanian di wilayah Sleman juga ikut terdampak karena terancam gagal panen yang disebabkan minimnya ketersediaan air.
Wilayah yang terancam gagal panen terletak di Kalurahan Tambakrejo, Tempel, Sleman. Keluhan tidak adanya hujan untuk mengairi sawah disuarakan oleh Fauzan, petani di kalurahan setempat.
Menurut dia, di akhir November para petani di wilayahnya sempat senang karena hujan sudan turun. Upaya persiapan masa tanam mulai dilakukan dengan menyemai benih padi.
Namun memasuki pertengahan hingga akhir Desember hujan menghilang. Kondisi ini berdampak terhadap tanaman yang dimiliki petani.
Ia tidak menampik sudah ada yang mulai menanam. Di sisi lain, juga ada yang masih dalam masa persiapan. “Ada juga yang belum menanam sama sekali. Tapi, saya sudah mulai persiapan karena ada benih yang telah disemai,” katanya kepada wartawan, Rabu (27/12/2023).
Baca Juga
1.068,6 Hektare Lahan Pertanian di Sleman Terancam Gagal Panen
Hindari Gagal Panen, Petani di Lahan Rawan Kekeringan Diminta Tanam Palawija
Antisipasi Gagal Panen akibat Kekeringan, Petani Didorong Ikut Asuransi
Menurut dia, masa tanam kali ini mengalami kemunduran dibandingkan dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, saat sekarang padi sudah berusia sekitar 35 hari, namun masih ada yang proses penyiapan lahan.
“Ketiadaan hujan sangat berpengaruh. Beruntungnya masih ada aliran air dari Kali Jalakan untuk mengolah lahan,” katanya.
Meski demikian, irigasi dari kali ini tidak bisa digunakan secara sembarangan. Pasalnya, pemanfaatan dilaksankaan secara bergantian selama lima hari sekali untuk setiap blok sawah yang ada.
“Jadi harus berbagi dengan petani lain. Mudah-mudahan hujan segera turun sehingga masalah air untuk pemeliharaan di sawah bisa terselesaikan,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Aris, petani lain di Kalurahan Tambakrejo. Menurut dia, ketiadaan hujan membuat tanaman padi milik petani terkendala pertumbuhannya.
“Jelas sangat berpengaruh karena kalau tidak ada air tanaman padi bisa mati dan gagal panen,” katanya.
Aris berharap hujan bisa segera turun sehingga petani dapat memelihara tanaman padi secara maksimal. “Ya kalau sekarang jelas tidak optimal dan mengganggu pertumbuhan tanaman,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Sleman, Suparmono saat dikonfirmasi membenarkan ketiadaan hujan berpengaruh terhadap tanaman padi yang dimiliki petani, khsususnya di wilayah barat seperti Tempel, Seyegan, Moyudan hingga Minggir. Dia mengakui sudah melakukan pemantauan dan ada lahan pertanian yang kekurangan air.
Ia tidak menampik di Sleman Barat ada Selokan Mataram, namun dinilai belum bisa menjangkau seluruh wilayah secara optimal. “Kalau tidak segera turun hujan bisa mati dan tentunya bisa terancam gagal panen. Untuk luasannya ada, tapi belum bisa menyebutkan detail secara pasti,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul meningkat menjadi 15 kasus selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
DPKP DIY menyiapkan strategi menghadapi musim kemarau, mulai dari varietas padi tahan kekeringan hingga optimalisasi irigasi dan pompa air.
Bank Sampah Berlian 08 di Jogja memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan bakar pirolisis sampah plastik residu sehingga proses lebih cepat dan hemat.
Jadwal imsak, Subuh, dan Maghrib di DIY pada Kamis 30 Juli 2026 untuk puasa sunnah Kamis. Cek waktu sahur dan berbuka di sini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 30 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Simak 12 perjalanan dan tarif Commuter Line Rp8.000.
KPK mendalami penukaran 46.500 dolar Singapura yang diduga disiapkan Suhardiman Amby untuk Raja Juli Antoni dalam penyidikan kasus Kuansing.