Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pemkab Bantul melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul mengimbau para petani khususnya petani di wilayah yang rawan kekeringan untuk tidak memaksakan diri menanam padi pada musim tanam ketiga tahun ini. Mereka diminta mengantinya dengan tanaman palawija yang membutuhkan sedikit air.
“Ini dalam rangka untuk mengantisipasi gagal panen karena ketersediaan air kurang. Tetapi kalau ketersediaan airnya cukup sih tidak masalah untuk menanam padi,” kata Kepala DKPP Bantul, Joko Waluyo, Selasa (23/5/2023).
Joko mengatakan ada sejumlah wilayah yang rawan kekeringan, di antaranya di kapanewon Dlingo, Piyungan, Pundong, Imogiri, dan Pajangan. Wilayah-wilayah tersebut merupakan area perbukitan yang sebagian lahan pertanian mengandalkan air tadah hujan.
BACA JUGA: Masuk Kemarau, BPBD Bantul: Belum Ada Warga Minta Dropping Air
Pihaknya sudah meminta kepada para petani di wilayah rawan tersebut untuk melakukan berbagai upaya antisipasi, di antaranya dengan mulai mengganti komoditas padi menjadi tanaman cenderung lebih sedikit membutuhkan air.
“Menghadapi musim kemarau ini kami sudah meminta para petani di wilayah sulit air agar mulai beralih ke komoditas lokalitas. Seperti jagung atau kedelai yang membutuhkan sedikit air,” ujarnya.
Menurutnya, para petani sejatinya juga telah memiliki jadwal tersendiri untuk masa tanam. Sehingga ketika musim hujan telah berakhir, maka tanpa perlu diingatkan para petani akan mulai mengganti tanamannya ke palawija.
Untuk membantu pengairan di wilayah yang jauh dari irigasi, DKPP juga sudah membagikan pompa air kepada masing-masing kelompok tani.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Lestari Mulyo di Dusun Nawungan, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, Juwari mengatakan meski wilayahnya merupakan perbukitan namun ketersediaan air masih cukup karena tiap petani sudah membuat embung yang menampung air hujan.
“Setiap lahan di Nawungan itu ada embung penampungan air hujan. Kalau kami data itu ada ratusan embung yang setiap embungnya berkapasitas 60 meter kubik,” katanya.
Pembuatan embung di wilayah Nawungan diakui Juwari karena wilayah Nawungan sudah langganan menanam bawang merah dan padi yang membutuhkan banyak air. Bahkan Nawungan sudah dijadikan sebagai sentra bawang merah organik.
Namun demikian, Juwari tidak menampik ada juga embung-embung yang kering di musim kemarau ini karena airnya sudah digunakan sejak beberapa waktu lalu. Untuk embung yang kering biasanya akan menyewa sumur bor dengan harga sewa per jamnya Rp22.500. ketersediaan sumur bor di Nawungan ada empat unit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.
Bareskrim mengungkap MV King Sun tiga kali menyelundupkan ketamin. Pengiriman ke Indonesia sebanyak 1.298 kg berhasil digagalkan.
KPK belum menahan Yuddy Renaldi dalam kasus dugaan korupsi iklan Bank BJB karena mempertimbangkan kondisi kesehatannya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.