PAD Wisata Bantul Dua Tahun Tak Capai Target, DPRD Soroti Kebocoran
PAD wisata Bantul terancam kembali tak mencapai target. DPRD menyoroti penurunan kunjungan dan potensi kebocoran retribusi.
Monyet Ekor Panjang - ilustrasi/Antara
Harianjogja.com, BANTUL— Musim kemarau kembali membawa tantangan bagi petani di wilayah Dlingo, Bantul. Selain menghadapi keterbatasan air, petani juga harus berhadapan dengan kawanan monyet ekor panjang yang kerap turun dari kawasan perbukitan dan memasuki lahan pertanian untuk mencari sumber makanan.
Gangguan satwa liar tersebut masih menjadi persoalan yang rutin muncul setiap tahun. Kawanan monyet tidak hanya mengambil tanaman yang ditanam petani, tetapi juga merusak area pertanian yang sedang diusahakan warga.
Salah satu petani di Kebosungu 2, di Dlingo, Nono Basuki, mengaku keberadaan monyet ekor panjang sudah lama menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi petani setempat. Namun saat kemarau berlangsung, intensitas gangguan satwa tersebut dinilai semakin terasa.
“Sampai sekarang memang masih ada, malah semakin banyak kalau kemarau,” kata Nono, Rabu (23/9/2026).
Menurut Nono, pola tanam petani di wilayah Dlingo ikut memengaruhi kondisi tersebut. Ketika musim kemarau tiba, sebagian besar petani lebih mengandalkan tanaman ketela dibanding komoditas lain.
Sementara itu, tanaman jagung umumnya ditanam ketika musim hujan masih berlangsung. Pada masa kemarau, sebagian petani juga mulai menyiapkan lahan untuk musim tanam berikutnya.
Di tengah ancaman serangan monyet ekor panjang, petani berupaya menjaga tanaman dengan cara yang dinilai lebih aman. Salah satu langkah yang banyak dilakukan adalah memasang jaring di sekitar area pertanian.
Jaring tersebut bukan perlengkapan khusus untuk mengusir satwa liar. Petani memanfaatkan jaring yang biasa digunakan untuk menangkap ikan sebagai penghalang agar kawanan monyet tidak mudah masuk ke area tanaman.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk perlindungan sementara terhadap tanaman pertanian yang berpotensi menjadi sasaran satwa pencari makan selama musim kemarau.
Nono mengatakan petani tidak memilih menggunakan jerat ataupun melakukan penangkapan terhadap monyet. Selain berisiko, tindakan tersebut juga dapat menimbulkan persoalan lain karena berkaitan dengan satwa liar.
“Enggak dijerat. Cuma dikasih jaring, seperti jaring ikan,” ujarnya.
Penggunaan jaring dinilai menjadi cara yang lebih aman bagi petani untuk mengurangi potensi kerusakan tanaman tanpa harus berhadapan langsung dengan kawanan monyet yang datang ke lahan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul, Joko Waluyo, mengatakan gangguan monyet ekor panjang memang bukan persoalan baru bagi sektor pertanian di wilayah Bantul.
Menurut dia, kejadian tersebut terus muncul dari tahun ke tahun dan biasanya meningkat ketika musim kemarau berlangsung. Kawasan yang berada di dekat habitat alami satwa tersebut menjadi wilayah yang paling sering terdampak.
“Wilayah yang berbatasan dengan Gunungkidul seperti Dlingo, Pundong dan Imogiri itu biasanya rawan serangan monyet ekor panjang,” kata Joko.
Kondisi geografis yang berbatasan dengan kawasan perbukitan dan habitat satwa liar membuat sejumlah wilayah di Bantul lebih sering mengalami gangguan dibanding daerah lainnya.
Karena itu, penanganan persoalan tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Pemerintah daerah juga harus memperhatikan aspek konservasi satwa liar dalam setiap langkah yang dilakukan.
Joko menjelaskan DKPP Bantul terus berkoordinasi dengan kelompok tani serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mengantisipasi gangguan monyet ekor panjang di lahan pertanian.
Koordinasi dilakukan agar langkah penanganan yang diterapkan tetap mempertimbangkan perlindungan tanaman petani sekaligus aspek konservasi satwa liar.
Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah penyediaan pakan alternatif di wilayah yang rawan serangan monyet, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
“Salah satu upayanya petani atau lahan yang rawan diserang monyet kami minta menyediakan pakan alternatif ketika musim kemarau. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi dorongan monyet turun ke lahan pertanian,” katanya.
Menurut DKPP Bantul, penyediaan pakan alternatif tersebut diharapkan dapat mengurangi kecenderungan kawanan monyet mencari makanan di area pertanian warga. Dengan demikian, risiko kerusakan tanaman pertanian di wilayah rawan seperti di Dlingo, Pundong, dan Imogiri dapat ditekan saat musim kemarau berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
PAD wisata Bantul terancam kembali tak mencapai target. DPRD menyoroti penurunan kunjungan dan potensi kebocoran retribusi.
Bapanas dan Satgas Pangan Polri memperketat pengawasan distribusi beras SPHP dan RPK menyusul temuan pengoplosan serta penjualan kembali dengan harga tinggi.
Pemkot Jogja menyiapkan pembiayaan melalui Jamkesda bagi korban kekerasan saat demonstrasi 28 Oktober 2026 setelah verifikasi Dinsos.
KSPSI AGN-ATUC Gunungkidul mengusulkan UMK 2027 minimal Rp2.659.000 atau naik 7,5%-10% demi menjaga daya beli pekerja.
Mentan Amran mengungkap 13 tersangka dalam delapan kasus pelanggaran beras yang melibatkan 15 merek. Pelaku terancam pidana hingga tujuh tahun.
Polresta Jogja menetapkan pria berinisial W sebagai tersangka dan menahannya setelah kedapatan membawa senjata tajam saat aksi 28 Oktober di Malioboro.