Polisi Buru Pengemudi Misterius Pemicu Kecelakaan Maut di Monjali
Polisi menyelidiki kecelakaan maut di Jalan Monjali Sleman yang menewaskan lansia. Pengemudi kendaraan misterius masih diburu.
Erupsi Gunung Merapi/Antara
Harianjogja.com, SLEMAN—Sejumlah aktivitas vulkanik terpantau masih terjadi di Gunung Merapi selama sepekan. Aktivitas awan panas dan guguran lava bahkan mengubah morfologi kubah barat daya pekan ini.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso mengungkapkan selama sepekan yakni 5-11Januari 2024 setidaknya terjadi empat kali awan panas guguran di Gunung Merapi. Satu kali awan panas guguran mengarah ke Kali Boyong dengan jarak luncur satu kilometer dan tiga lainnya mengarah ke barat daya atau hulu Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimal 1,5 kilometer.
Tak hanya itu, selama sepekan Gunung Merapi juga tercatat mengalami 189 kali guguran lava ke arah selatan, barat dan barat daya. "Delapan kali [guguran lava] mengarah ke hulu Kali Boyong sejauh maksimal 1,5 kilometer. Lalu 178 kali mengarah ke hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 1,8 komputer dan tiga kali ke arah hulu Kali Sat/Putih sejauh 1,5 kilometer," jelas Agus dikonfirmasi pada Sabtu (13/1/2024).
Suara guguran juga sempat terdengar 10 kali dari Pos Babadan. Intensitasnya beragam, dari kecil hingga sedang. Aktivitas awan panas dan guguran lava ini turut mengubah morfologi kubah lava barat daya.
"Morfologi kubah barat daya teramati adanya perubahan akibat adanya aktivitas awan panas guguran dan guguran lava. Titik panas tertinggi mencapai 338 derajat selsius lebih rendah dari suhu pengukuran sebelumnya," lanjutnya.
Sementara kubah lava tengah tidak teramati adanya perubahan signifikan kata Agus. Namun pengambilan foto udara pada kubah tengah tidak bisa maksimal lantaran terhalang asap.
"Berdasarkan analisis foto udara tanggal 10 Januari 2024, volume kubah barat daya terukur sebesar 2,6 juta meter kubik dan kubah tengah sebesar 2,3 juta meter kubik," tandasnya.
Selain itu, pekan lalu hujan juga terjadi di area puncak. Agus mengungkapkan intensitas curah hujan di Gunung Merapi berkisar 82 mm/jam selama 95 menit pada Jumat (5/1/2024). Dia juga melaporkan bila ada penambahan aliran di Kali Boyong.
Merujuk berbagai aktivitas vulkanik yang ada, status Gunung Merapi ditetapkan pada tingkat Siaga. "Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental, disimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa erupsi efusif," tegasnya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.
Pada sektor tengah potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh maksimal lima kilometer. "Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak," katanya.
Mengingat potensi bahaya dibatas, masyarakat tegas Agus agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. "Masyarakat agar mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi," ujarnya.
Senada dengan Agus, sebelumnya Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro juga mengimbau masyarakat yang berada di lereng Gunung Merapi untuk tetap waspada pada zona bahaya. Apalagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar sungai.
BACA JUGA : Status Masih Siaga, Puluhan Kali Guguran Lava Masih Terjadi di Gunung Merapi
"Teman-teman Jip, penambang dan juga masyarakat yang mungkin mencari rumput di kanan kiri lereng Merapi di sungai hati-hati pada banjir lahar. Di bawah mungkin enggak hujan tapi di atas [Merapi] mungkin hujan deras," ungkapnya.
Potensi hujan yang cukup tinggi di area puncak Gunung Merapi dikhawatirkan Bambang juga dapat mengikis kubah lava. Ketika kubah lava ambrol juga bisa menimbulkan bahaya seperti awan panas guguran.
"Kalau ambrol kan ada awan panas guguran nanti luncuran ke sungai, ke Krasak, Boyong dan lainnya," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polisi menyelidiki kecelakaan maut di Jalan Monjali Sleman yang menewaskan lansia. Pengemudi kendaraan misterius masih diburu.
Rusia mendukung program nuklir Korea Utara dan menolak seruan denuklirisasi Semenanjung Korea karena meningkatnya ketegangan kawasan.
Kejagung menyiapkan kantor sementara dan pejabat struktural untuk operasional tujuh Kejari baru yang dibentuk melalui Perpres Nomor 40 Tahun 2026.
Kasus kebakaran lahan di Gunungkidul meningkat menjadi 15 kasus selama musim kemarau. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan.
Kuasa hukum Raudi Akmal menilai sejak awal tidak ada dua alat bukti yang cukup usai PN Sleman mengabulkan sebagian praperadilan.
Polresta Jogja mulai memeriksa lima tersangka baru kasus Little Aresha Daycare. Total tersangka kini mencapai 32 orang dengan 157 korban anak.