Lomba Lukis DIY-Kyoto Digelar di Sleman, 20 Pelajar Jadi Wakil DIY
Lomba Lukis Anak DIY-Kyoto 2026 digelar di Sleman pada 23 Agustus. Sebanyak 20 peserta terbaik akan mewakili Sleman di tingkat DIY.
Ilustrasi-Antraks./ Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Gunungkidul menerima laporan adanya satu warga Gunungkidul, tepatnya Padukuhan Kayoman, Kalurahan Serut, Gedangsari berinisial SU suspek antraks. Laporan tersebut diterima pada Kamis (7/3/2024).
Kepala DPKH Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan kejadian berawal pada dua pekan sebelumnya atau tanggal 24 Februari 2024 ketika warga berinisial Su menerima potongan daging kambing dari pria berinisial Wa, warga Sleman.
“Tapi apakah kondisi kambing itu mati dulu baru disembelih atau lemes baru disembelih yang jelas kemudian dibawa Pak Su ke rumah, Gunungkidul,” kata Wibawanti ditemui di kantornya, Jumat (8/3/2024).
Kambing tersebut kemudian dikuliti dan dagingnya dibagi ke beberapa orang. Pada Kamis 7 Maret 2024, sapi dan dua kambing milik Su yang berada di Kapanewon Gedangsari mati. Sapi tersebut sempat disembelih namun tidak jadi dikonsumsi karena ada perasaan ragu dan takut karena Su telah lebih dulu jatuh sakit. Baik sapi maupun dua kambing akhirnya dikubur.
“Sehari sebelumnya pada 6 Maret, menurut hasil survei teman-teman, Pak Su sakit. Sapi yang disembelih sehari setelahnya tidak jadi dikonsumsi tapi dikubur. Siangnya ada kambing mati dan dikubur,” katanya.
Saat ini, DPKH Gunungkidul telah memberikan antibiotik dan vitamin pada kambing yang masih hidup di sekitar rumah Su. Formalin juga telah ditebar di titik-titik tempat pengulitan kambing. Bahkan di tempat Pak Wa, Sleman juga disiram formalin.
BACA JUGA: BREAKING NEWS:Kasus Antraks Kembali Ditemukan di Gunungkidul, Dinkes Terjunkan Tim Survei
Wibawanti tidak dapat mengatakan apakah kejadian kali ini merupakan antraks. Pasalnya, perlu uji laboratorium dari Ballai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Sampel darah sapi dan tanah bekas pengulitan kambing juga telah dikirim. “Tinggal menunggu hasil dari BBVet Wates,” ucapnya.
Lebih jauh dia menegaskan hewan yang telah mati seharusnya tidak disembelih dan dikonsumsi atau jamak disebut praktik brandu. Termasuk juga menjual daging tersebut juga dilarang. Wibawanti menjelaskan bakteri yang terkena oksigen maka dapat membungkus diri selama minimal 40 tahun.
“Tidak hanya antraks. Semua daging tidak sehat atau dari hewan sakit kan tidak memenuhi syarat atau tidak dapat dikonsumsi,” lanjutnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan bahwa pihaknya mendapat laporan dari Dinkes Sleman pada Kamis 7 Maret 2024 terkait pasien asal Gunungkidul yang dirawat di RSUD Prambanan. Sementara ini, pasien tersebut suspek antraks.
“Kalau tanggal masuk pasien ke rumah sakit saya belum tahu pastinya,” kata Dewi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lomba Lukis Anak DIY-Kyoto 2026 digelar di Sleman pada 23 Agustus. Sebanyak 20 peserta terbaik akan mewakili Sleman di tingkat DIY.
BNN menggagalkan penyelundupan 2,6 ton sabu cair dari MV Ocean Porter yang diperkirakan berpotensi berdampak pada 14,1 juta jiwa.
Dua gajah sumatera Deo dan Sinta tiba di Tabang Zoo setelah menempuh perjalanan lima hari dari Gembira Loka Zoo Jogja.
Kokap Kulonprogo mengandalkan potensi lokal, Kopi Roro, Waduk Sermo, dan padat karya untuk membuka peluang ekonomi masyarakat.
Impor tanaman hias Indonesia mencapai Rp18 triliun pada 2025. ASA Indonesia mendorong petani lokal meningkatkan produksi aglaonema.
KAI menghadapi persoalan pembebasan lahan dalam pembangunan jalur kereta baru di Sumatra, Kalimantan, dan Bali.