SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat menerima audiensi dari Forum Komunikasi Anti Miras Yogyakarta (F-KAMY), Kamis (14/3/2024). Ist/humaspemkabsleman
Harianjogja.com, SLEMAN—Peredaran minuman keras, baik miras oplosan maupun miras ilegal, masih marak terjadi di masyarakat. Hal itu dinilai dapat membahayakan generasi muda.
Ketua Forum Komunikasi Anti Miras Yogyakarta (F-KAMY), Diah Puspitasari mengungkapkan keresahannya terkait peredaran minuman keras, baik miras oplosan maupun miras ilegal, yang dapat membahayakan generasi muda.
"Kenakalan remaja seperti klithih banyak disebabkan oleh pengaruh minuman keras yang semakin tidak terkontrol," ungkapnya saat menemui Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Kamis (14/3/2024).
BACA JUGA: 15 Napi Minum Miras Oplosan Hand Sanitizer, 2 Tewas
Wakil Ketua F-KAMY Dwijo menambahkan bahwa keberadaan minuman keras kini semakin mudah dijangkau oleh masyarakat, dan harganya pun murah. Bahkan anak usia SMA bahkan SMP pun bisa mendapatkan dengan mudah.
"Padahal miras itu, terutama miras oplosan, mengandung zat-zat sangat berbahaya untuk kesehatan. Bisa berujung kematian. Maka masyarakat harus mendapatkan edukasi dan literasi tentang bahaya miras oplosan ini," sebutnya.
Lebih lanjut disampaikan salah satu upaya yang akan F-KAMY lakukan adalah akan memasang banner atau spanduk tentang bahaya minuman keras di seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman. Banner ini nantinya akan menjadi media edukasi bagi masyarakat agar menghindari mengkonsumsi minuman keras.
"Kalau setiap kapanewon kita pasang sepuluh saja, maka sudah ada 170 spanduk yang akan terpasang. Maka ini diharapkan dapat memberikan literasi kepada masyarakat tentang bahayanya miras," ucapnya.
Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menyambut baik sekaligus berterima kasih atas masukan yang disampaikan oleh F-KAMY. Ia juga mendukung upaya F-KAMY guna menekan peredaran minuman keras ilegal dan oplosan di Kabupaten Sleman, yang salah satunya dengan pemasangan spanduk atau banner tersebut.
Dikatakan pula ia beserta jajarannya akan menindaklanjuti terkait hal-hal yang disampaikan F-KAMY ini. "Nanti akan kita bentuk tim untuk ini. Karena tentu ini perlu kolaborasi dan sinergi dari berbagai pihak. Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar generasi muda kita tidak terjerumus di minuman keras di ni," kata Kustini.
BACA JUGA: Mantan Polisi Peracik Miras Maut Samas Belajar Meracik dari Daerah Ini
Kepala Satpol PP Sleman, Shavitri Nurmala Dewi, menjelaskan pihaknya telah melakukan beberapa langkah untuk mengantisipasi peredaran miras ilegal dan oplosan. Yakni dengan operasi yustisi dan operasi non yustisi.
Dijelaskannya bahwa operasi yustisi ditujukan untuk memberantas peredaran miras ilegal. Sedangkan operasi non yustisi dilakukan untuk memberantas perusahaan miras yang legal, tapi memproduksi miras yang tak sesuai dengan perijinannya.
"Kami juga mempunyai program Pol PP Go To School untuk mengedukasi anak-anak pelajar agar menghindari kenakalan remaja, salah satunya menghindari mengkonsumsi minuman keras," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
MK menyatakan permohonan hak mempertahankan nomor HP saat berganti operator atau MNP tidak dapat diterima karena dinilai kabur.
Disdik Sleman menyebut laporan SD Negeri Ledoknongko tidak mencantumkan siswa sebagai ABK, berbeda dengan informasi awal kepolisian.
Kejagung menyatakan Kolonel Budi Utomo tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG dan ditahan sejak Agustus 2026 di Pomdam Jaya.
Indonesia menguasai 41% produksi nikel olahan dunia. Pemerintah mendorong hilirisasi berlanjut ke ekosistem baterai.
WJNC 2026 diperpanjang dari Tugu hingga Titik Nol Kilometer. Pemkot Jogja menargetkan 60.000 pengunjung dan siapkan rekayasa lalu lintas.