Revitalisasi 131 Sekolah Gunungkidul, DPRD Ingatkan Kualitas Bangunan
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Ilustrasi hujan deras disertai angin./Pixabay
Harianjogja.com, SLEMAN—Meski telah memasuki musim kemarau, tetapi pada Rabu (12/6/2024), hujan mengguyur di sebagian wilayah Jogja dan Sleman. BMKG DIY memberikan pejelasan hujan terjadi karena fenomena konvergensi angin di wilayah Jawa bagian barat dan tengah.
Kepala Stasiun Klimatologi, BMKG DIY, Reni Kraningtyas mengatakan hujan yang terjadi saat ini bukan disebabkan Madden Julian Oscilation (MJO), dikarenakan posisinya berada di fase 7 di Samudera Pasifik.
Menurut dia, hujan dengan intesitas ringan di Sebagian wilayah DIY pada Rabu siang disebabkan oleh konvergensi atau pengumpulan angin di wilayah Jawa bagian barat dan tengah.0
Pola konvergensi ini terlihat karena ada perlambatan kecepatan angin di wilayah Jawa bagian tengah. kondisi tersebut mengakibatkan pengumpulan masa udara yang bersumber dari Perairan Selatan DIY yang cukup hangat di kisaran 28-29 derajat Celsius. “Ini mengakibatkan adanya pembentukan awan yang berdampak terjadi hujan di Jawa bagian tengah termasuk di DIY,” kata Reni, Rabu siang.
Dia menjelaskan, fenomena ini terjadi karena pola siklonik Low Pressure Area yang berpusat di Perairan sebelah barat Sumatera. Meski demikian, Reni juga mengakui pada Juni ini sudah mulai terlihat fenomena kemarau basah atau la nina.
Saat ini, sambung dia, ada indikasi La Nina, pada periode Juni, Juli dan Agustus. Namun, untuk saat sekarang indeksnya ENSO -0.72 atau masih dalam kategori lemah. “Dampak la nina lemah adanya pertambahan intensitas curah hujan. Sarana pemicunya antara lain adalah sering munculnya LPA dan konvergensi yang dapat mengakibatkan terjadinya hujan,” katanya.
BACA JUGA: Tetap Waspadai Cuaca! Hari Ini Sebagian Jogja Diprediksi Hujan
Meski demikian, Reni mengakui adanya La Nina harus diwaspadai karena bisa memicu terjadinya bencana hidrometeorologi. “Potensi bencana ada dan harus diwaspadai,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, belum mendapatkan laporan berkaitan dengan terkait dengan wilayah mana saja yang terjadi hujan. Meski demikian, fenomena ini patut disyukuri karena bisa memberikan manfaat, salah satunya di bidang pertanian.
Hanya saja, dia tetap menggarisbawahi bahwa ada potensi terjadinya kemarau basah yang dapat mengakibatkan terjadinya bencana alam di musim kemarau tahun ini. pihaknya sudah melakukan antisipasi dengan memperpanjang status siaga darurat bencana hidrometeorologi hingga 31 Agustus 2024. “Ini bagian dari kesiapsiagaan kami menghadapi potensi bencana,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah melaju ke final ganda campuran Asian Games 2026 usai mengalahkan Feng Yanzhe/Huang Dongping 21-12, 21-14.
Jadwal UEFA Nations League 2026/27 Matchday 2 pada 28-29 September 2026. Belgia vs Prancis hingga Spanyol vs Kroasia tayang dini hari WIB.
Tren baju murah untuk foto liburan merebak di kalangan turis China. Pakaian lalu dibuang atau dijual kembali dan memicu isu limbah tekstil.
Power window mobil seret bisa disebabkan debu hingga karet aus. Kenali penyebab dan cara mengatasinya dengan silicone spray.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026