Lurah Terpilih di Bantul Harus Rangkul Warga yang Berbeda Pilihan
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
Suasana pengenalan buku Batik Pakualaman: Antara Tradisi, Sastra dan Wastra oleh GKBRAA Paku Alam di Bangsal Kepatihan Pakualaman belum lama ini. /Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Kadipaten Pakualaman mensosialisasikan buku berjudul Batik Pakualaman: Antara Tradisi, Sastra dan Wastra oleh GKBRAA Paku Alam di Bangsal Kepatihan Pakualaman. Buku tersebut diharapkan bisa memperkaya referensi bagi pecinta batik dan masyarakat luas pada umumnya.
GKBRAA Paku Alam X mengatakan, salah satu keistimewaan manuskrip Pakualaman adalah keberadaan aneka gambar yang menyertai teksnya. Dari pengalaman itulah terbesit sebuah keinginannya untuk mengalihkan gambar dari manuskrip kuno itu ke wastra batik.
BACA JUGA : Peringatan Hadeging Kadipaten Pakualaman ke-212 Jadi Ruang Pengisi Keistimewaan DIY
Ia mengakui untuk menjadikan selembar kain batik tidaklah mudah. Harus memikirkan gambar apa yang akan dibuat batik. Karena tidak semua iluminasi yang ada di naskah bisa dibatik. Ada syarat-syarat yang luar biasa seperti laku prihatin yang harus dilaksanakan seperti menep, hening, untuk melakukan giat membatik dari naskah menjadi batik.
“Bahkan, naskah-naskah kuno di Pakualaman ini umumnya berusia 200 tahun jadi saya menganggap bahwa naskah-naskah itu hidup, saya tidak bisa membatik sembarangan," katanya sebagaimana dikutip Minggu (7/7/2024).
Pada kesempatan yang sama juga diperagakan kain-kain Batik Pakualaman di antaranya, Batik Sestra Lukita, Batik Indra Widagda, Batik Yama Linapsuh. Batik Surya Mulyarjo, Batik Bayu Krastala, Batik Wisnu Mamuja, Batik Brama Sembada, Batik Baruna Wicaksana dan Batik Asthabrata Jangkep. Batik-batik ini adalah sebagian kecil dari 120 Batik Pakualaman yang telah dibuat.
Salah seorang narasumber Nyi. M.T. Sestrorukmi saat sesi paparan menyampaikan, filosofi batik mencakup makna-makna mendalam yang terkait dengan budaya, sejarah, dan nilai-nilai yang terkandung pada motif dan teknik pembuatannya. Filosofi mencerminkan identitas dan nilai-nilai spiritual dari masyarakat yang menciptakan batik tersebut.
Dalam Adiwastra atau kain tradisional nan indah, terkandung makna dan simbol tersendiri, yang tersirat didalam wujud dan nama motifnya. Hal ini dikelompokkan dalam empat seri yaitu, Seri Asthabrata, Seri Nges Ruming Puri, Seri Pepadan, dan Seri Piwulang Estri.
BACA JUGA : Puluhan Delegasi Kerajaan Nusantara Hadir di Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman
Narasumber lainnya K.M.T. Widyo Hadiprojo menambahkan batik naskah merupakan sebuah upaya untuk memperkaya motif batik dan sekaligus merupakan tafsir baru atas motif-motif dekoratif lama dengan pemaknaan baru. Meski demikian, kontinuitas masih menjadi pertimbangan dalam penciptaan motif-motif baru. Motif-motif dekoratif lama dalam naskah dialihwahanakan sebagai motif baru batik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Bantul di 30 kalurahan berjalan lancar. DPRD meminta lurah terpilih merangkul semua elemen dan menjaga kebersamaan warga.
BMKG memprakirakan hujan ringan hingga petir di sejumlah kota Indonesia pada 13 Oktober 2026. Wilayah DIY berawan dengan suhu Jogja mencapai 35 derajat Celsius.
Coventry City menang 4-1 atas Newcastle United di Liga Inggris 2026/2027. Hasil ini membawa tim Frank Lampard keluar dari zona degradasi.
DPRD Bantul dan Satpol PP mengedukasi pelajar SMPN 3 Pajangan tentang bahaya miras dan narkoba serta mendorong siswa berani melaporkan peredarannya.
Makeup saat olahraga tetap bisa digunakan, tetapi pemilihan foundation, sunscreen, dan produk sesuai jenis kulit penting untuk mengurangi risiko masalah kulit.
Pemerintah belum menetapkan karhutla sebagai bencana nasional. Menko Polkam Dudung Abdurachman menyebut penanganan masih mampu dilakukan.