Leptospirosis di Gunungkidul Capai 16 Kasus dalam 6 Bulan Terakhir di 2024

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Kamis, 25 Juli 2024 12:47 WIB
Leptospirosis di Gunungkidul Capai 16 Kasus dalam 6 Bulan Terakhir di 2024

Ilustrasi leptospirosis./Istimewa

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gunungkidul mencatat ada 16 kasus leptospirosis tanpa kematian selama enam bulan terakhir 2024. Jumlah ini hampir menyamai angka kasus yang sama pada 2021 sebanyak 17 kasus dengan empat kematian.

Kepala Dinkes Gunungkidul, Ismono mengatakan tren kasus leptospirosis cenderung fluktuatif selama beberapa tahun terakhir. Nol kematian yang tercatat selama semester pertama tahun ini juga menjadi bukti deteksi dini dan tata laksana penanganan setiap kasus sudah cukup baik.

BACA JUGA : Warga Prambanan Meninggal Dunia Akibat Leptospirosis

Namun, apabila melihat angka kasus sejak tiga tahun lalu, maka tampak kenaikannya. Pada 2021, jumlah kasus leptospirosis ada 17 kasus dengan empat kematian. Pada 2022, ada 34 kasus dengan lima kematian. Pada 2023, ada 84 kasus dengan empat kematian.

Sebanyak 17 kasus leptospirosis dengan empat kematian terjadi pada 2021. Jumlah tersebut meningkat pada 2022 di mana terdapat 34 kasus dengan lima kematian.

“Sebanyak enam belas kasus leptospirosis ini tersebar di Kapanewon Patuk, Ponjong, Karangmojo, Nglipar, Gedangsari, dan Tepus,” kata Ismono dihubungi, Kamis, (25/7/2024).

Adapun wilayah lokus leptospirosis antara lain Kapanewon Patuk, Ponjong, Karangmojo, Nglipar, Gedangsari, dan Tepus. Kata Ismono, petani berisiko terkena bakteri leptospira. Hal ini disebabkan mereka sering berada di ladang atau persawahan. Padahal, lokasi itu merupakan tempat tikut mencari makan di malam hari.

Setelah tikus yang membawa bakteri bakteri leptospira ditubuhnya makan dan kencing di area tersebut, maka area itu menjadi berisiko. Petani semakin mudah terinfeksi apabila bagian tubuhnya terdapat luka menganga.

Lebih jauh, Ismono mengaku jawatannya telah memiliki beberapa program pengendalian kasus leptospirosis seperti dengan meningkatkan peran Satgas One Health Kapanewon dalam hal edukasi, informasi dan bahkan deteksi dini.

Selain itu, Dinkes juga memberikan edukasi kepada fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kesadaran terhadap leptospirosis dan membentuk faskes surveillance sentinel leptospirosis. Faskes surveillance juga memfasilitasi pemeriksaan sample untu suspek kasus.

BACA JUGA : Waspadai Leptospirosis di Sleman! Tiga Orang Meninggal Dunia

Ia berusaha menyiapkan dan mendistribusikan reagen rapid test pemeriksaan leptospira agar cepat bisa diperoleh hasilnya, sehingga tata laksana penanganan kasus tidak terlambat. Terakhir, Dinkes bekerja sama dengan Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan pengendalian Penyakit (BTKLPP) untuk survei vektor lepto pada daerah endemis kasus lepto.

“Satgas One Health kan sudah terbentuk di tingkat Kabupaten sampai dengan Kapanewon. Jika ditemukan kasus, sudah ada mekanisme harus lapor ke mana atau ke siapa dan dilakukan pembagian peran untuk tindak lanjut sesuai tupoksi masing-masing,” katanya.

Direktur RSUD Wonosari, Diah Prasetyorini mengatakan jawatannya hanya menerima satu pasien leptospirosis pada Maret 2024. Pasien laki-laki berumur 55 tahun tersebut mengalami gejala demam yang ternyata akibat terjangkit bakteri leptospira.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online