WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Kekeringan - Ilustrasi StockCake
Harianjogja,com, KULONPROGO—Pemkab Kulonprogo mencatat kekeringan yang mulai terjadi di beberapa wilayah. Di sektor pertanian, ada sebanyak 13 hektare lahan pertanian yang tersebar di dua kapanewon berpotensi kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian dan Pantan (DPP) Kulonprogo, Drajat Purbadi, menjelaskan saat ini, untuk sektor pertanian belum ada laporan kekeringan yang sudah terjadi. “Kalau kekeringan belum, artinya belum terjadi,” ujarnya, saat dihubungi, Senin (19/8/2024).
Meski demikian, pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Totalnya ada sebanyak 13 hektare lahan kekeringan yang berpotensi kekeringan. “Sembilan hektare di Galur dan empat hektare di Temon,” katanya.
Belasan hektare lahan pertanian tersebut memiliki potensi kekeringan disebabkan posisinya yang berada di ujung atau wilayah petit dari saluran irigasi Kalibawang.
“Kalau mau musim tanam biasanya lahan dibasahi, sehingga membutuhkan air banyak. Jadi terkadang yang di daerah petit atau ujung irigasi ga kebagian,” ungkapnya.
Meski demikian, untuk saat ini kekeringan belum terjadi karena debit air dari saluran irigasi masih mencukupi kebutuhan pertanian.
“Dengan kondisi debit yang di saluran Kalibawang masih seperti sekarang, belum terjadi kekeringan. Tapi kalau umpama ada pengurangan debit, ada kemungkinan potensinya bisa terjadi kekeringan,” katanya.
Untuk mengantisipasi terjadinya kekeringan, Pemkab Kulonprogo bersama Kementerian Pertanian sudah menyiapkan pompanisasi.
“Tahun ini kami memberikan bantuan pompa, ada sekitar 48, baik dari APBN maupun APBD. Salah satunya untuk wilayah yang berpotensi tersebut,” kata dia.
Di samping itu, para petani menurutnya juga sudah banyak yang memiliki pompa pribadi sehingga bisa mengantisipasi kekeringan secara mandiri. “Biasanya kalau ada kasus kekeringan langsung kita gerakkan untuk pompanisasi,” ujarnya.
Dengan pompanisasi, menurutnya sudah cukup untuk mengatasi kekeringan yang terjadi dan mencukupi kebutuhan air untuk pertanian.
“Yang paling penting ketika ada kasus di situ ada sumber airnya. Tapi juga ada yang pakai sumur bor. Kalua yang mengandalkan sumur bor biasanya masih bisa. Rata-rata petani punya,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Penembakan terjadi di dekat Gedung Putih, AS. FBI dan Dinas Rahasia menangani insiden yang melukai dua orang.
BMKG mengeluarkan peringatan dini hujan lebat disertai petir dan angin kencang di sejumlah kota besar Indonesia pada Minggu.
KA Prameks kembali padat penumpang Senin ini, cek jadwal lengkap rute Jogja–Kutoarjo.
Ketua BPD Hipmi Jatim Ahmad Salim Assegaf membantah narasi mayoritas BPD Hipmi menolak pelaksanaan Munas XVIII Hipmi di Lampung.
Selain mempermudah mobilitas, kehadiran bus KSPN juga diarahkan untuk mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan di kawasan pariwisata