Kasus Daycare Jogja, Sultan HB X: Harapannya Ini Pertama dan Terakhir
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Para pengrawit menabuh gamelan Sekaten, di Pagongan Masjid Gedhe, Jumat (13/9/2024)./Harian Jogja-Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Rangkaian peringatan Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat lewat acara Hajad Dalem Sekaten. Selama sepekan penuh, gamelan sekaten di kompleks Masjid Gedhe ditabuh.
Bicara soal Gamelan Sekaten, Wakil Penghageng II Kawedanan Widya Budaya, KRT Rintaiswara menjelaskan bahwa Gamelan Sekaten merupakan Gangsa Sekati, yakni Kanjeng Kiai (KK) Gunturmadu dan KK Nagawilaga.
Gangsa Sekati dikeluarkan dari dalam Kagungan Dalem Bangsal Trajumas Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat dilakukan pada 5 Mulud malam atau yang disebut dengan prosesi Miyos Gangsa.
Setelah dikeluarkan, Gamelan Sekati akan ditabuh di Pagongan Masjid Gedhe dari 6-11 Mulud, tiga kali sehari. Terdapat setidaknya 68 gendhing dalam ragam gendhing sekaten, 16 di antaranya lazim dilantunkan selama prosesi Sekaten oleh Abdi Dalem Wiyaga KHP Kridomardowo.
“Keenambelas gendhing yang dimainkan yakni rambu, rangkung, andong-andong, lunggadung pel, yahume, rendeng, dhendhang subingah, orang-aring, ngajatun, lenggang rambon, salatun, atur-atur, gliyung, bayemtur, burung putih, dan supiyatun,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (13/9/2024).
Adapun, rangkaian Hajad Dalem Sekaten berlangsung sejak Senin (9/9/2024) atau 5 Mulud Je 1958 hingga Minggu (15/9/2024) atau 12 Mulud Je 1958 (12 Rabiulawal 1445 H). “Rentang waktu itulah yang dinamakan dengan Sekaten,” katanya.
Sekaten merupakan Hajad Dalem yang hingga saat ini rutin dilaksanakan Kraton Yogyakarta sejak 5-12 Mulud (Rabi’ul Awal).
Ada pendapat yang menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata Sekati yang merupakan seperangkat gangsa atau gamelan yang diyakini berasal dari Majapahit yang kemudian dimiliki oleh Kerajaan Demak.
“Pendapat lain menyatakan bahwa Sekaten berasal dari kata Syahadatain yang merupakan kalimat untuk menyatakan memeluk Islam. Upacara Sekaten telah dilaksanakan sejak zaman Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Sekaten diselenggarakan sebagai salah satu dakwah untuk menyebarkan agama Islam,” ujar KRT Rintaiswara.
Untuk tahun ini, setiap harinya, Gamelan Sekaten ditabuh setiap harinya selama Hajad Dalem Sekaten pada pukul 08.00-11.00; 14.00-17.00; dan 20.00-23.00. Gamelan tak akan ditabuh pada malam jumat yakni mulai kamis petang hingga jumat pagi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sultan HB X soroti kasus Little Aresha, tegaskan nol toleransi kekerasan dan dukung proses hukum di DIY.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 11 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak waktu berangkat, rute, stasiun, dan tarif Rp8.000.
Arsenal bangkit dari ketertinggalan untuk mengalahkan Leeds United 2-1. Gol Riccardo Calafiori dan Bruno Guimarães memastikan tiga poin bagi The Gunners.
Donald Trump mengkritik keputusan Nobel Perdamaian 2026 yang diberikan kepada Navi Pillay dan menyebut keputusan itu mencoreng Norwegia.
Alex Rins meminta maaf setelah mengacungkan jari tengah kepada marshal di MotoGP Mandalika 2026. Insiden terjadi saat sesi Practice menyisakan dua menit.
Astra membangun amphitheater di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Banyuwangi, untuk melestarikan budaya Osing sekaligus mendorong pengembangan wisata dan ekonomi ma