Persiapan Paskah, Gereja Kotabaru Disterilisasi
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
Gelaran Ireda Fest./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA–Tahun imi, warga Kelurahan Keparakan kembali menggelar Ireda Fest di Jalan Ireda, RT 22 Pujokusuman pada 21 September mendatang.
Kegiatan yang rutin digelar setiap tahun ini memiliki semangat untuk nguri-uri budaya lokal. Gelaran Ireda Fest 2024 akan menampilkan potensi seni, budaya, dan ekonomi lokal.
Ketua Panitia Ireda Fest 2024, M Wahyu Sugianto menjelaskan nantinya pelaku usaha ekonomi kecil diwadahi oleh forum UMKM Keparakan dan Mergangsan I yang diinisiasi LPMK Keparakan.
Di sektor UMKM ini, warga Keparakan akan menggelar dagangan dan potensi usaha yang dimiliki. Selain itu, akan ada gunungan berisi kerajinan sandal yang merupakan potensi usaha lokal warga Keparakan Kidul.
Gunungan ini akan dirayah atau diperebutkan seusai pelaksanaan kirab budaya. Tak hanya gunungan sandal, ada juga gunungan jajan pasar, kerajinan, bakpao, hingga gunungan berisi hasil bumi.
“Ada empat gunungan yang merupakan representasi potensi lokal baik budaya, seni maupun ekonomi yang berkembang di warga kami. Gunungan akan diarak pada kirab budaya dan bisa diperebutkan di akhir karnaval,” katanya.
Wahyu mengtatakan ada 54 kelompok UMKM kerajinan hingga kuliner yang turut menjajakan produknya. Mereka dikelompokan berdasarkan asal kampung masing-masing. Di antaranya adalah Dipowinatan, Pujokusuman, Keparakan Lor, dan Keparakan Kidul.
Nantinya, puncak Ireda Fest 2024 digelar dengan pementasan berbagai potensi seni dan budaya lokal pada Sabtu 21 September 2024 mulai pukul 19.30 WIB. Di awali dengan tampilan uyon-uyon dari paguyuban Ngudi Laras Keparakan Lor.
“Selanjutnya akan diikuti tampilan potensi seni dari 13 RW yang semuanya merupakan seni milik warga Keparakan,” imbuhnya.
Lurah Keparakan, Yusup Ahbari menambahkan iring-iringan kirab budaya akan dimeriahkan dengan keberadaan bregodo Dipo Satrio yang dikelola Kampung Dipowinatan dan bregodo Wedhung Basworo oleh Kampung Keparakan Lor.
Kelompok pasukan replika dari bregodo Kraton Yogyakarta ini sudah malang melintang di acara-acara kesenian yang digelar di Kota Jogja maupun DIY.
Sementara itu, ada pula pagelaran kethoprak dari Rintisan Kelurahan Budaya (RKB) Keparakan dengan lakon Laskar Hantu Maut. Lakon itu dipilih untuk mengangkat potensi milik warga, agar mereka tidak menjadi penonton di rumah sendiri.
“Warga punya potensi UMKM, seni, dan budaya, ini kita utamakan agar mereka bisa berdaya dan potensi warga ini semakin bisa terasah dan semakin berkilau,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jelang hari raya Paskah Gereja St Antonius Padua Kotabaru disterilisasi untuk mencegah keberadaan benda-benda berbahaya selama pelaksanaan ibadah paskah
Katarak kini banyak menyerang usia muda. Faktor diabetes dan paparan UV jadi penyebab utama, kenali gejala sejak dini.
Garebeg Besar 2026 di Keraton Jogja digelar tanpa kirab prajurit. Prosesi tetap sakral meski format disederhanakan.
Jadwal KRL Jogja–Solo terbaru 2026 lengkap dari Tugu ke Palur. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat, praktis, dan hemat.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Jadwal KRL Solo–Jogja terbaru 2026 lengkap dari Palur ke Tugu. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan efisien.