Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ilustrasi kompos./Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman terus berupaya melakukan penaganan persoalan sampah yang belum terelesaikan sampai saat ini. Terbaru, Dinas Lingkungan Hidup membuat Gerakan Berbarengan Reresik dan Olah Sampah Organik atau Gerbang Sik Asik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Epiphana Kristiyani mengatakan, program Gerbang Asik merupakan inovasi untuk mengoptimalkan pengeolahan sampah di Masyarakat. Program ini ditandai dengan menetapkan tiga padukuhan sebagai percontohan untuk penanganan sampah organic secara mandiri.
“Sampah organik masih jadi persoalan karena mayoritas sampah yang dihasilkan merupakan jenis ini. di sisi lain, kalau tidak cepat diolah cepat sekali menimbulkan polusi,” kata Epi, Sabtu (19/10/2024).
Tiga padukuhan yang menjadi percontohan terdiri dari Padukuhan Kuwang, Argomulyo, Cangkringan; Padukuhan Mandungan 1, Margoluwih, Seyegan. Adapun yang ketiga Padukuhan Sangurejo, Wonokerto, Turi.
Diperkirakan ada sekitar 600 keluarga yang terlibat dalam pengolahan sampah ini. Yakni, warga diminta melakukan pemilihan secara mandiri serta mengolah sampah organik menjadi kompos.
Imbal balik dari pelaksanaan program ini, maka Dinas Lingkungan Hidup Sleman siap membeli kompos hasil pengolahan seharga Rp1.300 per kilogram. “Prosesnya sudah dimulai sejak awal bulan ini. tentunya kami terus lakukan monitoring dan evaluasi secara bertahap,” katanya.
Menurut dia, program ini akan direplikasi di daerah lain sehingga penanangan sampah di Bumi Sembada bisa lebih optimal. “Biar memotivasi Masyarakat untuk mengolah sampah organic secara mandiri, kami siap membeli sesuai dengan harga yang telah ditentukan,” katanya.
Epi menambahkan, dengan mengolah sampah dari rumah, maka banyak keuntungan yang diperoleh. Pasalnya, untuk sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi aneka kerajinan yang memiliki nilai jual.
“Kalau tidak bisa ditabung ke bank sampah atau dijual ke tukang rosok juga laku. Tapi, intinya bukan tentang pendapatan, tapi sampah bisa terkelola dengan baik sehingga tidak jadi masalah,” katanya.
Pejabat Sementara Bupati Sleman, Kusno Wibowo mengapresiasi inovasi yang dilakukan untuk mengoptimalkan dalam pengelolaan sampah. Ia berharap Gerbang Sik Asik dapat memberikan pengaruh pada peningkatan kepedulian masyarakat dalam pengelolaan persampahan secara mandiri.
“Tidak semua sampah harus berakhir di TPA namun dapat dikelola dan di daur ulang sehingga bisa memberikan manfaat,” kata Kusno.
BACA JUGA : Bukan Mangkrak, Ini Alasan Kalurahan Banguntapan soal Alat Pilah Sampah Menganggur
Ia mengimbau kepada masyarakat dapat memilah sampah berdasarkan jenis untuk dapat diolah kembali. Penggunaan kemasan dan produk ramah lingkungan juga perlu dilakukan sebagai kebiasaan baru dalam mengurangi jumlah sampah.
“Saya ingin Masyarakat ikut berperan dalam pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan. Mari ciptakan budaya bijak mengurangi residu sampah,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Penumpang kereta api di wilayah Daop 6 Jogja tembus 33.406 orang selama libur Iduladha 2026. KAI tambah tujuh perjalanan KA tambahan
Brad Binder buka suara soal perbandingan Valentino Rossi dan Marc Marquez. Akui The Doctor adalah pahlawan dan standar tertinggi di MotoGP.
Final Liga Champions 2026, PSG vs Arsenal di Budapest. Simak ulasan taktik, kabar pemain, dan jadwal lengkap laga penentuan juara Eropa malam ini.
Sebanyak 86.118 peserta KIP Kuliah lolos SNBT 2026, namun hanya 39.662 dinyatakan eligible menerima bantuan biaya pendidikan dan hidup.
China mewajibkan talenta AI mendapat izin pemerintah sebelum bepergian ke luar negeri demi mencegah kebocoran teknologi strategis.