Kutu Kebul Serang Tanaman Melon di Banguntapan, Petani Rugi Jutaan Rupiah
Kutu kebul menyerang 2.000 batang melon petani di Banguntapan, Bantul. Tanaman gagal panen dan menyebabkan kerugian jutaan rupiah.
Tampak gundukan batu kapur yang menutup mulut gua di Kalurahan Planjan, Saptosari, Gunungkidul, Rabu, (16/10/2024). - harian Jogja / Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, JOGJA—Penemuan gua dan stalaktit di lokasi pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Gunungkidul menjadi sorotan serius dari berbagai pihak, termasuk Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jogja. Kadiv Kampanye Walhi Jogja Elki Setiyo Hadi menekankan pentingnya dilakukan kajian ulang terhadap proyek pembangunan tersebut.
Elki menyatakan bahwa penundaan pembangunan yang terjadi merupakan langkah awal yang tepat. Namun, ia juga menegaskan bahwa penundaan ini harus dibarengi dengan evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan rencana pembangunan JJLS.
“Penghentian ini harus ada kajian ulang terkait pola ruang dan rencana pembangunannya,” kata Elki, Selasa (22/10/2024).
Elki menyoroti keberadaan Gunung Kidul sebagai wilayah Geopark. Menurutnya, status kawasan tersebut seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam setiap proyek pembangunan.
“Gunungkidul adalah wilayah Geopark. Wilayah-wilayah seperti itu harus jadi perhitungan, bisa tidak dibangun dengan bangunan untuk jalan raya sebesar itu,” ungkapnya.
Walhi Jogja sendiri, lanjut Elki, belum melakukan kajian komprehensif terkait penemuan gua tersebut. Namun, pihaknya mendorong agar dilakukan kajian yang mendalam mengenai aspek geologi dan lingkungan di lokasi proyek. “Ini bagian dari ujian bahwa kita seharusnya harus ada kajian ulang terhadap pembangunan,” ujarnya.
Elki juga mengingatkan bahwa Walhi Jogja telah mengampanyekan dan mengadvokasi terkait pembangunan JJLS sejak 2019. Saat itu, Walhi telah mempertanyakan urgensi pembangunan jalan sebesar itu dan apakah arah kajiannya sudah sesuai.
BACA JUGA : Heboh Penemuan Gua di Lokasi Proyek JJLS Planjan Gunungkidul
Penemuan gua dan stalaktit ini, menurut Elki, menjadi bukti bahwa kajian lingkungan yang komprehensif sangat diperlukan sebelum memulai proyek pembangunan besar. “Kalau itu stalakmit dan stalaktit, tentu saja harus dihentikan dari pembangunannya,” tegasnya.
Elki berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat melakukan kajian ulang yang melibatkan berbagai ahli, termasuk ahli geologi, untuk memastikan bahwa pembangunan JLS tidak merusak lingkungan dan warisan alam.
BACA JUGA : Temuan Gua di Lokasi Proyek JJLS di Gunungkidul, Pemda DIY Lakukan Kajian Georadar
Sementara diberitakan sebelumnya bahwa Guru Besar Fakultas Geografi UGM, Prof. Eko Haryono dan tim rencananya akan melaksanakan pemetaan gua pada November mendatang. Pakar ilmu geomorfologi ini tengah melakukan koordinasi sebelum terjun langsung ke lapangan.
Tim yang diterjunkan ke lokasi, katanya, akan melaksanakan sejumlah uji. Hasil pengujian akan menghasilkan penilaian kondisi awal untuk menjamin keamanan manusia sekaligus lingkungan di area gua. "Jika sudah diketahui sebaran gua, maka desain jalannya perlu untuk diubah atau digeser," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kutu kebul menyerang 2.000 batang melon petani di Banguntapan, Bantul. Tanaman gagal panen dan menyebabkan kerugian jutaan rupiah.
Pelatih PSS Sleman Pieter Huistra memastikan mentalitas pemain tetap terjaga meski menelan dua kekalahan beruntun di Super League.
Presiden Prabowo terima laporan Kapolri soal 95 korporasi yang sengaja bakar hutan. Pemerintah instruksikan pencabutan izin hingga proses pidana.
Kemenhaj memblokir akses SISKOPATUH dua travel umrah setelah muncul persoalan keberangkatan dan kepulangan jamaah.
Jogja Cultural Festival 2026 memadukan budaya Jogja dengan teknologi dan AI serta menyasar generasi Z dan Alpha.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat DEN 2026 untuk mengamankan stok BBM nasional, mengejar target E50, dan membahas RUU Migas.