Polda DIY Dalami Dugaan Mafia Tanah di Sleman, Empat Saksi
Polda DIY memeriksa empat saksi dan menyurati BPN dalam penyelidikan dugaan mafia tanah yang menimpa ahli waris Komaridin di Sleman.
Sungai Bawah Tanah Ngobaran di Kalurahan Kanigoro, Saptosari./ istimewa PDAM Tirta Handayani
Harianjogja.com, SLEMAN—Penemuan gua bawah tanah Planjan, Saptosari, Gunungkidul hingga kini masih diselimuti misteri. Tim Fakultas Geografi UGM bakal turun melakukan sejumlah uji untuk mengungkap fakta sains pada gua tersebut.
Diberitakan sebelumnya, gua bawah tanah yang ditemukan berada di lokasi pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Gua tersebut berisi stalaktit dan stalakmit yang diperkirakan berusia jutaan tahun.
BACA JUGA: Heboh Penemuan Gua di Lokasi Proyek JJLS Planjan Gunungkidul
Menyusul temuan ini, Guru Besar dari Fakultas Geografi UGM, Prof. Eko Haryono dan tim rencananya akan melaksanakan pemetaan gua pada November mendatang. Pakar ilmu geomorfologi ini tengah melakukan koordinasi sebelum terjun langsung ke lapangan.
Tim yang diterjunkan ke lokasi, katanya, akan melaksanakan sejumlah uji. Hasil pengujian akan menghasilkan penilaian kondisi awal untuk menjamin keamanan manusia sekaligus lingkungan di area gua.
"Jika sudah diketahui sebaran gua, maka desain jalannya perlu untuk diubah atau digeser," tuturnya pada Senin (21/10/2024).
Selain itu, lanjutnya, hasil uji akan diolah menjadi rekomendasi pembangunan jalan. Lalu hasil kajian tersebut akan dimanfaatkan untuk pembuatan jalur gua bagi wisatawan demi meminimalisasi risiko kerusakan stalaktit dan stalakmit yang saat ini masih aktif dibuktikan dengan masih adanya kucuran air.
"Pembentukan gua purba di Gunungkidul diperkirakan berusia ratusan ribu tahun, maka sebisa mungkin perlu dijaga," tegas Eko.
Eko melanjutkan, Gunungkidul merupakan kawasan karst yang tersusun atas batuan kapur berpori. Pembentukan gua banyak terjadi di wilayah Gunungkidul dapat terjadi karena adanya aktivitas pelarutan.
Karenanya Eko menambahkan jika penemuan gua bawah tanah di Gunungkidul hal yang wajar karena daerah tersebut tersusun atas karst. Lantaran gua ini tersibak akibat adanya aktivitas penggalian untuk pembuatan JJLS, menurutnya proyek yang sedang berjalan harus menyesuaikan dengan sebaran gua tersebut. Oleh sebab itu pengkajian perihal ini menjadi penting.
"Standar operasional prosedur mengharuskan untuk dilakukan penelitian terlebih dahulu mengenai jangkauan sebaran gua," tuturnya.
Perihal kehebohan warga yang datang dan berusaha untuk berfoto di dalam badan gua, bagi Eko gua ini memang punya posibilitas menjadi objek wisata. Akan tetapi perlu diketahui terlebih dahulu daya dukung dan kapasitas gua untuk dimasuki pengunjung per harinya.
Di negara lain, stalaktit dan stalakmit bahkan diberi pelindung kaca demi menjaga kehidupan di gua ini. "Nantinya hal ini akan kami teliti dari sisi geologi dan geofisika dengan mengukur temperatur dan CO2. Sirkulasi udara perlu dipastikan dulu keamanannya," tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY memeriksa empat saksi dan menyurati BPN dalam penyelidikan dugaan mafia tanah yang menimpa ahli waris Komaridin di Sleman.
Polisi menetapkan lima tersangka pengeroyokan terduga pencuri ayam di Tabanan, Bali. Penyidikan masih berlanjut dan berpotensi menetapkan tersangka baru.
Kelurahan Tegalrejo menggelar Tedhak Siten untuk melestarikan budaya Jawa dan mengenalkan nilai luhur kepada generasi muda.
Bantuan air bersih sudah disalurkan ke delapan kapanewon di Gunungkidul. BPBD mengalokasikan 1.150 tangki untuk warga terdampak kekeringan.
Ratusan ikan gurame mati di Sleman akibat kualitas air kolam menurun selama musim kemarau. DP3 menyediakan vitamin gratis bagi pembudidaya.
KAI Bandara YIA membagikan merchandise kepada penumpang anak dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Stasiun Yogyakarta dan Stasiun YIA.