Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, saat ditemui media di Kompleks Kepatihan, Kamis (24/7/2025)./Harian Jogja-LUS
Harianjogja.com, JOGJA—Dana Keistimewaan (danais) DIY dikabarkan akan dipotong cukup signifikan pada 2026, diperkirakan sampai jadi Rp500 miliar saja. Menyikapi hal ini, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X menegaskan dirinya tidak akan melobi pemerintah pusat.
Sri Sultan mengatakan tidak dilakukannya negosiasi itu karena memiliki beban politik dan sejarah terkait kemunculan danais tersebut. “Saya tidak mau dalam pengertian politik danais itu sebagai bentuk dipersamakan dengan waktu swargi kesembilan [Sri Sultan HB IX] membantu membiayai republik,” ujarnya, Kamis (21/8/2025).
Menurutnya, Sri Sultan HB IX memberi bantuan tersebut Ikhlas tanpa mengharapkan imbalan, sehingga dirinya tidak bisa mengharapkan bantuan lebih dari danais. “Jadi dikurangi ya sudah. Kondisinya memang begtiu. Saya yakin kalau kondisi ekonomi membaik pasti akan ditambah,” katanya.
Meski demikian, ia tidak menghalangi jika ada pihak lain yang hendak melakukan komunikasi dengan pusat terkait danais. “Kalau DPR atau DPRD melakukan silakan. Kalau saya punya beban untuk menyampaikan negosiasi untuk ditambah [besaran danais],” ungkapnya.
Di luar danais, anggaran dari APBN maupun dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga belum stabil. “Pendapatan daerah juga turun. Untuk kembali seperti sebelum Covid belum bisa. Ekonomi tumbuh tapi hanya di golongan menengah yang pegawai,” katanya.
Kepala Dinas Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Baperida) DIY, Ni Made Dwi Panti, menuturkan pemotongan ini sangat berpengaruh bagi program pembangunan DIY karena selama ini memiliki kontribusi yang besar.
BACA JUGA: Danais Dipotong, Semua Kegiatan Terdampak
“Sanget berpengaruh karena itu penyeimbang. Dais sangat membantu kita khususnya dalam mandatory spending seperti infrastruktur, pendidikan dan sebagainya. Mudah-mudahan bisa ada peninjauan kembali atau perubahan,” kata dia.
Ia tidak merinci apa saja program pembangunan yang terdampak jika danais terpotong jadi Rp500 miliar. Namun DIY masih memiliki banyak PR yang mesti dikerjakan. “Kita kan masih punya PR yang cukup besar. Ada empat persoalan pokok, terkait kemiskinan, ketimpangan wilayah, ketimpangan pendapatan, persoalan lingkungan, seperti sampah dan bencana,” ujarnya.
Maka kedepan Pemda DIY perlu lebih memilah lagi mana program yang sangat perlu diprioritaskan untuk tetap berjalan. “Apapun yang kita anggarkan itu kan prioritas, tapi ada yang lebih super prioritas, itu yang lebih kita pilah lagi, perlu dilihat dari sisi kenerjanya, ukurannya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Cek jadwal Angkutan KSPN Jogja Rabu 22 Juli 2026 menuju Obelix Sea View dan Pantai Drini. Tarif mulai Rp12.000 dari Malioboro.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Rabu 22 Juli 2026 lengkap dari Stasiun Tugu Yogyakarta dan Kutoarjo. Simak jam keberangkatan terbaru.
Kepala BGN Nanik S. Deyang mengundurkan diri untuk menjalani pengobatan jantung di luar negeri. Presiden disebut menyetujui dan memintanya tetap mengawasi BGN.
Bakom menegaskan tata letak Sidang Kabinet Paripurna dirancang untuk memudahkan arahan Presiden Prabowo, bukan terkait kedudukan Wapres Gibran.
Pakar hukum pidana Universitas Trisakti menilai terdapat dugaan penggunaan skema safe house dalam kasus dugaan korupsi dan TPPU yang menyeret Febrie Adriansyah.